Tabooo.id: Life – Pagi di Suranaree University of Technology, Nakhon Ratchasima, masih sejuk ketika Nurfendi menunduk di atas sepedanya. Helm menutupi sebagian wajahnya, tetapi matanya tetap fokus menatap lintasan lurus yang tampak lebih panjang dari biasanya. Detik-detik sebelum start terasa aneh sorak penonton memenuhi arena, namun pikirannya tetap tenang. Ia tidak memikirkan emas ia hanya percaya tubuhnya mampu menyelesaikan satu putaran lagi, satu kayuhan lagi.
Saat peluit berbunyi, Nurfendi mendorong pedal dengan tenaga yang tertata. Lintasan seakan menari bersamanya, sementara waktu menghitung setiap gerakan, setiap tarikan napas, dan setiap detik ketegangan yang menyelimuti pagi itu.
Emas Pertama: Keberanian Tanpa Janji
Beberapa menit kemudian, nama Nurfendi menyalip deretan papan skor. Indonesia meraih emas pertama di ASEAN Para Games 2025. Ia menaklukkan nomor men’s time trial B klasifikasi MB2 dengan catatan waktu 41 menit 59,763 detik, menyingkirkan atlet tuan rumah, Yokphanitchakit Surachai, yang finis lebih dari sepuluh detik di belakangnya.
Bagi tim Indonesia, angka itu lebih dari sekadar waktu. Catatan itu menjadi kisah tentang keberanian yang lahir dari latihan sunyi, ketekunan yang jarang terlihat kamera, dan keyakinan yang tidak perlu diumbar. Pelatih Erik Suprianto tersenyum lega.
“Alhamdulillah, hasil ini kami dapatkan. Padahal sebelumnya tidak ditargetkan,” ujarnya.
Di balik ucapan singkat itu, tersimpan cerita panjang tentang disiplin, latihan keras, dan kesabaran hanya mereka yang pernah menunggangi sepeda di lintasan pagi yang sepi yang benar-benar mengerti.
Ritme yang Menentukan: Vanza dan Strategi Ketenangan
Beberapa jam kemudian, Vanza Mifthahul Jannah menambah cerita di lintasan yang sama. Ia mengayuh sepeda dengan ritme stabil, menegosiasikan batas antara lelah dan tekad. Pada nomor women’s time trial B klasifikasi WB2, ia mencatat waktu 34 menit 55,616 detik, menyingkirkan wakil Malaysia, Nur Azlia Syafinah.
Kemenangan Vanza lahir tanpa sorak penonton. Ia tidak menuntut euforia dan tidak membiarkan kegembiraan meledak. Hanya senyum tipis yang membuktikan bahwa ketenangan bisa menjadi strategi paling ampuh. Prestasi itu muncul dari kepercayaan pada tubuh sendiri dan latihan yang dipenuhi sunyi, bukan dari riuh tepuk tangan.
Tubuh Sebagai Bahasa
Dalam olahraga disabilitas, tubuh menjadi bahasa. Setiap gerakan menceritakan dialog antara keterbatasan dan kemungkinan. Kemenangan bukan sekadar medali ia menolak pandangan yang menilai disabilitas sebagai kekurangan. Setiap kayuhan Nurfendi, setiap ritme Vanza, berbicara lebih banyak daripada kata-kata tentang keberanian, ketekunan, dan martabat manusia.
Awal Manis Kontingen Indonesia
Emas Nurfendi membuka awal manis bagi kontingen Indonesia di Thailand. Catatan itu menegaskan daya saing atlet para balap sepeda Indonesia di tingkat Asia Tenggara, sekaligus memicu semangat untuk target lebih besar minimal 82 emas yang dibidik Merah Putih.
Para atlet memulai pagi lebih awal, berlatih di lintasan sepi, dan menahan tubuh yang lelah namun tetap setia pada tujuan. Semua itu membentuk kemenangan yang lebih dari simbol; ia menjadi cermin perjuangan manusiawi.
Tabooo: Refleksi dan Pertanyaan
Kemenangan sering dibicarakan melalui medali, catatan waktu, atau posisi di podium. Namun, cerita sesungguhnya berakar pada proses yang sunyi dan tekad yang tidak perlu diumbar. Para atlet tidak meminta dikasihani, dan mereka tidak menuntut sorak penonton. Mereka hanya ingin diakui sebagai atlet sepenuhnya, tanpa embel-embel.
Ketika Nurfendi melintasi garis finish dan Vanza menaklukkan lintasan dengan tenang, Indonesia belajar sesuatu yang sederhana namun mendalam: prestasi lahir dari keberanian untuk bergerak, dari kepercayaan pada diri sendiri, bahkan ketika target tidak pernah ditetapkan.
Dan setelah semua sorak mereda serta podium dibongkar, pertanyaannya tetap sama apakah kita, sebagai penonton, sudah cukup adil melihat mereka bukan sebagai “atlet disabilitas”, tetapi sebagai atlet sepenuhnya? @dimas





