Tabooo.id: Nasional – Detik-detik pergantian Tahun Baru di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, berlangsung meriah. Tepat pukul 00.00 WIB, langit Kota Tua berubah menjadi kanvas cahaya berkat atraksi drone yang menampilkan Monas, MRT, hingga tulisan “Jakarta 500,” menyongsong lima abad Kota Jakarta.
Ribuan pengunjung yang duduk lesehan menikmati musik di panggung spontan berdiri. Mereka menengadah ke langit, sementara ribuan layar ponsel diarahkan untuk mengabadikan momen spektakuler itu. Sebelum pergantian tahun, acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh lintas agama. Di layar besar, ditayangkan kondisi sejumlah wilayah di Sumatera yang terdampak bencana, mengingatkan pengunjung bahwa kegembiraan malam itu tidak mewakili semua orang.
Kembang Api Warga Mengalahkan Panggung Resmi
Meski atraksi drone memukau, letupan kembang api tetap mewarnai langit Kota Tua. Suara pengeras di panggung utama kalah oleh letupan dari berbagai penjuru. Sebagian besar kembang api berasal dari permukiman warga di sekitar kawasan wisata, termasuk Pinangsia, Glodok, dan belakang Stasiun Jakarta Kota.
Beberapa pengunjung nekat menyalakan kembang api di dalam area perayaan. Petugas keamanan segera menertibkan mereka. Shadam (24), salah satu pengunjung, berkomentar dengan bercanda, “Tetap ada ya, padahal tadi katanya mengheningkan cipta. Tapi ya namanya tahun baru, kurang seru kalau enggak ada ‘duar-duar’-nya.”
Imbauan Pejabat Bertemu Tradisi
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, sebelumnya menekankan agar perayaan tidak diwarnai pesta kembang api berlebihan. Ia menegaskan, “Harapannya kemeriahan tahun baru tidak harus diwarnai bunyi petasan dan kembang api. Pertama, kita juga menjaga saudara kita yang sedang musibah.” tegasnya.
Imbauan itu dimaksudkan untuk menunjukkan solidaritas kepada warga Sumatera yang masih memulihkan hidup pasca-bencana. Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Twedi Aditya pun menyebar anggota dan Bhabinkamtibmas untuk mengingatkan masyarakat agar tidak menyalakan kembang api secara berlebihan.
Namun, tradisi menyalakan kembang api terbukti sulit dibendung. Pesta warga berlangsung bersahutan selama 10-15 menit sebelum kerumunan mulai terurai usai pertunjukan drone.
Dampak Sosial: Kontradiksi Antara Euforia dan Empati
Perayaan ini menunjukkan kontradiksi sosial. Warga menikmati kebebasan dan kegembiraan, sementara pemerintah berupaya menegakkan norma solidaritas dan keamanan. Tradisi lama kerap berbenturan dengan imbauan moral dan sosial. Pertanyaannya muncul apakah euforia pribadi lebih kuat dibanding empati terhadap korban bencana?
Yang paling terdampak bukan hanya aparat yang harus mengatur keamanan, tetapi juga warga yang menyeimbangkan antara merayakan dan menghormati korban. Daerah terdampak di Sumatera tetap menunggu perhatian serius, jauh dari sorot lampu dan kembang api Jakarta.
Refleksi Politik dan Budaya
Peristiwa ini menjadi cermin bahwa kebijakan pemerintah sering berbenturan dengan kebiasaan masyarakat. Imbauan menahan diri dan menjaga solidaritas kadang kalah oleh hasrat untuk merayakan. Dalam konteks politik, hal ini mengingatkan bahwa komunikasi pemerintah harus menyentuh akar budaya masyarakat, bukan sekadar kata-kata formal di atas kertas.
Kota Tua, dengan kembang api dan atraksi drone-nya, menampilkan kontras antara kemeriahan simbolik dan realitas sosial. Pemerintah ingin menunjukkan empati, tapi masyarakat memilih merayakan pelepasan penat. Inilah ironi yang menghiasi pergantian tahun.
Kesimpulan: Antara Kembang Api dan Kesadaran
Perayaan Tahun Baru 2026 di Kota Tua Jakarta membuktikan satu hal euforia rakyat sulit diatur meski ada imbauan moral dan solidaritas. Masyarakat ingin merayakan, pemerintah ingin menegakkan norma sosial. Akibatnya, perhatian terhadap korban bencana bisa tersisihkan oleh hiruk-pikuk pesta.
Di antara warna-warni drone dan letupan kembang api, tersimpan pertanyaan yang menyentil apakah kemeriahan itu untuk rakyat banyak, atau sekadar tontonan bagi yang menonton dari jauh? Di negara yang katanya peduli, terkadang suara empati kalah oleh dentuman pesta. @dimas




