Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

LPG 3 Kg Bakal Wajib Sidik Jari? Ini Usulan DPR

by dimas
April 7, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengusulkan sistem verifikasi biometrik untuk pembelian LPG 3 kilogram (kg). Sistem ini menggunakan sidik jari hingga pemindaian retina untuk memastikan subsidi tepat sasaran.

Said menilai kebocoran subsidi masih terjadi karena data penerima belum sepenuhnya akurat. Ia meminta pemerintah memperketat mekanisme penyaluran agar hanya masyarakat yang berhak menerima subsidi.

“Yang diperlukan justru subsidi Elpiji 3 kg itu harus tepat sasaran, targeted,” ujar Said di Gedung DPR RI, pada Senin (6/4/2026).

Ia menegaskan data pemerintah saja tidak cukup untuk mengontrol distribusi. Menurutnya, pemerintah perlu mengulang verifikasi dengan data biometrik agar penyaluran lebih akurat.

“Bukan hanya data sentral, tapi perlu verifikasi ulang dengan sidik jari atau retina bagi yang berhak,” tegasnya.

Ini Belum Selesai

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Banggar DPR mencatat penerima LPG 3 kg yang benar-benar layak jauh lebih kecil dari kuota yang tersedia. Dari total 8,6 juta penerima, hanya sekitar 5,4 juta yang masuk kategori tepat sasaran.

Dengan sistem biometrik, pemerintah bisa mengurangi pemborosan anggaran subsidi energi yang selama ini dinilai tidak efisien.

“Kalau tepat sasaran, anggaran tidak terbuang,” kata Said.

Subsidi BBM vs LPG: DPR Tolak Pemangkasan Subsidi BBM

Said menolak usulan pengurangan subsidi BBM untuk menekan defisit APBN. Ia menilai kebijakan itu berpotensi menambah beban masyarakat.

“Kalau subsidi BBM dikurangi kami tidak setuju,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah mengatur harga BBM non-subsidi sesuai mekanisme pasar. Namun ia meminta pemerintah tetap menghitung dampaknya terhadap inflasi.

“Kalau mau diatur, yang dijual dengan harga keekonomian itu lebih masuk akal,” tambahnya.

Tekanan Energi Global Dorong Perdebatan Kebijakan Subsidi

Perdebatan subsidi kembali menguat di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) sebelumnya mengusulkan pengurangan subsidi BBM untuk menekan defisit dan utang negara.

JK menilai subsidi yang terus naik dapat membebani APBN dalam jangka panjang.

“Kalau subsidi terus naik, utang juga akan naik,” ujar JK.

Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan kebijakan dengan jelas kepada publik agar tidak menimbulkan penolakan.

Catatan: Dua Arah Kebijakan, Satu Tekanan Fiskal

DPR mendorong perbaikan sistem subsidi melalui verifikasi biometrik. Sementara itu, sebagian pihak mendorong pengurangan subsidi energi secara langsung.

Kedua pendekatan ini menunjukkan satu tekanan yang sama beban subsidi energi yang terus meningkat di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.

Di tengah perdebatan ini, satu pertanyaan tetap muncul apakah masalah subsidi Indonesia terletak pada besarnya anggaran, atau pada cara negara menentukan siapa yang benar-benar berhak menerima? @dimas

Tags: APBNDPRDPR RIEkonomi IndonesiaEnergiKebijakanLPGNasionalSubsidi

Kamu Melewatkan Ini

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

by dimas
Mei 22, 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa menepis ketakutan krisis 1998 di tengah pelemahan rupiah. Namun di era TikTok, publik justru lebih...

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

by dimas
Mei 22, 2026

Data ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, tetapi publik tetap merasa hidup semakin berat. Purbaya menilai media sosial ikut membentuk keresahan...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

Next Post
Mario Balik Lagi: Box Office Meledak, Tapi Masih Kalah dari Versi Lama?

Mario Balik Lagi: Box Office Meledak, Tapi Masih Kalah dari Versi Lama?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mei 21, 2026

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Mei 22, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id