Tabooo.id: Global – Perang meletus antara Pakistan dan Afghanistan pada Jumat (27/2/2026). Pasukan Pakistan melancarkan serangan udara ke sejumlah kota besar, termasuk ibu kota Kabul. Hubungan kedua negara memang memburuk beberapa bulan terakhir, dan serangan ini menandai puncak eskalasi.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan, Islamabad dan Kabul kini berada dalam “perang terbuka” setelah bentrokan balasan terus meningkat.
Ledakan dan Jet Tempur Mengudara
Wartawan AFP di Kabul dan Kandahar melaporkan terdengar ledakan dan suara jet tempur hingga menjelang fajar. Pakistan menargetkan ibu kota Afghanistan dan Kandahar, basis kekuasaan otoritas Taliban di selatan. Di perbatasan Torkham, suara tembakan terdengar sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Sementara itu, kamp penampungan warga Afghanistan yang baru kembali dari Pakistan terdampak pertempuran malam sebelumnya.
“Anak-anak, perempuan, dan orang tua berlarian,” ujar Gander Khan (65), warga Afghanistan, di depan tenda kamp Omari. Di Kandahar, jet tempur melintas di atas kota tempat Pemimpin Tertinggi Taliban Hibatullah Akhundzada bermarkas.
Situasi di Kabul relatif tenang setelah fajar, bertepatan dengan hari Jumat di bulan Ramadan, tanpa peningkatan signifikan kehadiran aparat keamanan atau pos pemeriksaan.
Serangan Balasan Taliban dan Dampaknya
Pemerintah Taliban mengonfirmasi serangan udara Pakistan, tetapi juru bicara Zabihullah Mujahid menyatakan tidak ada korban jiwa. Beberapa jam sebelumnya, Taliban melancarkan operasi ofensif skala besar di perbatasan sebagai respons atas pelanggaran berulang oleh militer Pakistan.
Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan delapan tentaranya tewas dalam serangan darat, sementara beberapa warga sipil terluka di kamp pengungsi dekat Torkham.
“Peluru mortir menghantam kamp, tujuh pengungsi terluka, dan seorang wanita kritis,” ujar Qureshi Badlun, kepala informasi Provinsi Nangarhar.
Mujahid juga mengeklaim beberapa tentara Pakistan ditangkap hidup-hidup, namun klaim itu dibantah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Eskalasi Berbahaya dan Latar Belakang Konflik
Serangan terbaru Pakistan menyusul bentrokan pada Kamis (26/2/2026) malam, setelah Afghanistan menyerang pasukan perbatasan Pakistan. Hubungan kedua negara memburuk sejak bentrokan mematikan Oktober 2025 yang menewaskan lebih dari 70 orang. Sebagian besar perbatasan darat sempat ditutup.
Islamabad menuduh Kabul gagal menindak kelompok militan yang menyerang Pakistan, tudingan yang dibantah Taliban. Mayoritas serangan di Pakistan diklaim oleh Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan yang meningkat aksinya sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021.
“Pertahanan Taliban Afghanistan menjadi target di Kabul, Paktia, dan Kandahar,” tulis Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar di X.
Menhan Pakistan Khawaja Asif menegaskan konfrontasi kini serius.
“Kesabaran kami sudah mencapai batas. Sekarang ini perang terbuka,” tegasnya.
Pakar Asia Selatan Michael Kugelman menilai serangan ini sebagai eskalasi berbahaya.
“Pakistan tampaknya memperluas targetnya dari TTP ke rezim Taliban itu sendiri,” tambahnya.
Upaya Mediasi Internasional
Negosiasi sebelumnya melalui Qatar dan Turki gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Arab Saudi memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap Oktober 2025, sementara Iran menawarkan fasilitasi dialog untuk meredakan ketegangan.
Meski begitu, militer kedua negara mengklaim telah menewaskan puluhan tentara lawan dalam kekerasan perbatasan terbaru. Shehbaz Sharif menegaskan, angkatan bersenjata Pakistan memiliki kemampuan penuh menghancurkan ambisi agresif apapun.
Dampak Terhadap Warga
Warga sipil menjadi pihak paling terdampak. Kamp pengungsi, anak-anak, perempuan, dan orang tua menghadapi risiko langsung dari serangan udara dan tembakan lintas perbatasan. Ekonomi lokal terguncang, transportasi terhenti, dan ketakutan menyelimuti kehidupan sehari-hari.
Refleksi
Konflik ini menyoroti ironi politik kawasan negara tetangga yang seharusnya saling menjaga perdamaian justru terjebak dalam eskalasi militer. Sementara rakyat menderita, para pemimpin sibuk menghitung strategi perang, meninggalkan pertanyaan siapa sebenarnya yang diuntungkan dari perang ini? @dimas




