Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pakistan Gempur Kabul dan Kandahar, Konflik Perbatasan Kian Terbuka

by dimas
Februari 27, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Ketegangan di perbatasan Afghanistan-Pakistan kembali pecah menjadi konfrontasi terbuka. Pakistan menggempur sejumlah kota di Afghanistan, termasuk Kabul dan Kandahar, Jumat (27/2/2026). Serangan itu muncul hanya beberapa jam setelah pasukan Afghanistan menyerang tentara perbatasan Pakistan.

Islamabad bergerak cepat dan mengirim jet tempur ke beberapa titik strategis. Kabul langsung merespons. Pemerintah Taliban menyebut serangan darat mereka sebagai balasan atas gempuran udara Pakistan sebelumnya. Kedua negara kini berdiri di jalur eskalasi yang sama-sama berbahaya.

Konflik lama yang sempat membara dalam bentrokan sporadis kini berubah menjadi operasi militer terbuka dengan risiko regional yang lebih luas.

Ledakan Menggema di Langit Kabul

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menegaskan militer menargetkan fasilitas pertahanan Taliban di Kabul, Paktia, dan Kandahar. Ia menyatakan operasi itu menyasar instalasi militer, bukan warga sipil.

Namun suara di lapangan menceritakan ketegangan yang nyata. Wartawan AFP di Kabul mendengar jet tempur meraung di langit kota, lalu ledakan keras mengguncang wilayah sekitar selama lebih dari dua jam. Dentuman itu disusul rentetan tembakan yang memecah malam.

Ini Belum Selesai

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Budaya dan Wisata Religi

OTT Bupati Pemalang, KPK Kembali Bongkar Korupsi Kepala Daerah

Di Kandahar, kota yang menjadi basis Pemimpin Tertinggi Taliban Hibatullah Akhundzada, jet tempur kembali melintas rendah. Warga memilih bertahan di dalam rumah. Aktivitas kota melambat drastis.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengakui serangan udara tersebut. Ia menegaskan tidak ada korban jiwa dalam serangan terbaru itu. Meski begitu, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan belum benar-benar reda.

Operasi Balasan dan Klaim Korban

Sebelum serangan udara berlangsung, Taliban lebih dulu mengumumkan “operasi ofensif skala besar” di wilayah perbatasan. Mereka mengerahkan pasukan darat dan meningkatkan patroli bersenjata di sejumlah titik panas.

Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan delapan tentaranya gugur dalam operasi darat itu. Di sisi lain, militer Pakistan mengklaim pasukannya menewaskan puluhan tentara lawan dalam bentrokan terbaru. Taliban bahkan menyatakan mereka menangkap beberapa tentara Pakistan hidup-hidup. Pemerintah Pakistan langsung membantah klaim tersebut.

Saling klaim itu memperlihatkan betapa kedua pihak memilih jalur konfrontasi ketimbang meredakan ketegangan.

Warga Sipil di Garis Rawan

Di tengah manuver militer, warga sipil kembali menanggung risiko terbesar. Sebuah mortir menghantam kamp warga yang kembali dari Pakistan di dekat perlintasan Torkham. Tujuh pengungsi mengalami luka-luka, dan satu perempuan berada dalam kondisi serius.

Insiden itu mempertegas posisi warga sipil sebagai kelompok paling terdampak. Mereka tidak memegang senjata, tetapi mereka menanggung konsekuensi langsung dari setiap keputusan militer.

Sejak bentrokan mematikan pada Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua pihak, otoritas menutup sebagian besar perlintasan darat. Penutupan itu memukul ekonomi lokal yang bergantung pada perdagangan lintas batas.

Pedagang kecil kehilangan akses distribusi. Sopir angkutan berhenti beroperasi. Harga kebutuhan pokok melonjak. Di Afghanistan, yang ekonominya sudah rapuh sejak perubahan kekuasaan, tekanan ini mempersempit ruang hidup masyarakat.

Tuduhan Militan dan Bayang-bayang Instabilitas Kawasan

Pakistan terus menuduh Afghanistan gagal menindak kelompok militan yang melancarkan serangan di wilayahnya. Taliban membantah tudingan itu dan menilai Islamabad mencari alasan untuk memperluas operasi militer.

Ketegangan ini muncul setelah serangkaian bom bunuh diri mengguncang Pakistan, termasuk serangan terhadap masjid Syiah di Islamabad yang menewaskan sedikitnya 40 orang dan diklaim oleh kelompok Islamic State. Cabang regional kelompok itu, Islamic State – Khorasan Province, juga mengklaim serangan bom bunuh diri di Kabul bulan lalu.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu pola: konflik perbatasan kini bertaut dengan ancaman militan regional. Situasi tersebut meningkatkan risiko instabilitas yang melampaui dua negara.

Upaya mediasi memang sempat hadir. Qatar dan Turkiye memfasilitasi gencatan senjata awal. Arab Saudi membantu pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditahan Afghanistan. Namun diplomasi belum mampu membangun kesepakatan jangka panjang.

Kini kedua negara kembali mengandalkan kekuatan militer untuk menyampaikan pesan politiknya. Sayangnya, setiap ledakan selalu berbunyi lebih keras daripada meja perundingan. Dan ketika negara memilih adu kekuatan, rakyat kecil kembali berdiri di titik paling rapuh dalam pusaran konflik. @dimas

Tags: GeopolitikKeamanan NegaraKonflik DuniaKrisis GlobalPakistanPerbatasanRegionalSipil

Kamu Melewatkan Ini

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

by teguh
Juli 19, 2026

Satu tanda tangan mampu menggeser miliaran rupiah dalam APBN. Namun, satu pidato tidak pernah bisa mengenyangkan perut rakyat karena lapar...

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

by teguh
Juli 18, 2026

Ketika Presiden RI Prabowo Subianto membuka opsi mengurangi anggaran pertahanan demi memberantas kemiskinan, negara menghadapi pertanyaan besar keamanan itu soal...

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

by teguh
Juni 28, 2026

Langit di Timur Tengah mungkin terasa sangat jauh dari kawasan industri di Indonesia. Namun setiap ledakan yang mengguncang wilayah itu...

Next Post
Mokel Nasional: Tradisi Tersembunyi Setiap Ramadan?

Mokel Nasional: Tradisi Tersembunyi Setiap Ramadan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id