Tabooo.id: Bisnis – Harga emas Antam kembali melonjak pada Sabtu (28/2/2026). Berdasarkan pantauan dari laman Logam Mulia, pukul 08.47 WIB, harga emas naik Rp40.000 dari Rp3.045.000 menjadi Rp3.085.000 per gram. Lonjakan ini juga memengaruhi harga buyback, yang kini berada di Rp2.864.000 per gram.
Kenaikan Harga Emas: Fakta dan Angka
Kenaikan harga emas Antam mencatat dampak langsung bagi investor dan pembeli emas skala ritel. Pecahan emas batangan mencatat harga sebagai berikut:
- 0,5 gram: Rp1.592.500
- 1 gram: Rp3.085.000
- 2 gram: Rp6.110.000
- 3 gram: Rp9.140.000
- 5 gram: Rp15.200.000
- 10 gram: Rp30.345.000
- 25 gram: Rp75.737.000
- 50 gram: Rp151.395.000
- 100 gram: Rp302.712.000
- 250 gram: Rp756.515.000
- 500 gram: Rp1.512.820.000
- 1.000 gram: Rp3.025.600.000
Harga ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global dan sentimen investor.
Pajak dan Regulasi Transaksi Emas
Setiap transaksi emas Antam dikenakan potongan pajak sesuai PMK Nomor 34/PMK.10/2017. Untuk pembelian emas batangan, pemerintah memungut PPh 22 sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP. Sedangkan untuk penjualan kembali (buyback) senilai lebih dari Rp10 juta, PPh 22 dipotong langsung sebesar 1,5 persen bagi NPWP dan 3 persen bagi non-NPWP.
Ketentuan ini berlaku untuk seluruh gramasi, mulai dari 1 gram hingga 1.000 gram, dan setiap transaksi disertai bukti potong PPh 22.
Siapa yang Paling Terdampak
Kenaikan harga emas memengaruhi tiga kelompok investor perorangan, pedagang emas, dan masyarakat yang menjadikan emas sebagai aset tabungan. Investor skala kecil merasakan tekanan modal lebih besar, sementara pedagang menghadapi risiko margin tipis jika harga berfluktuasi cepat. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang membeli emas sebagai simpanan, kenaikan ini membuat nilai tabungan melonjak, namun likuiditas menjadi lebih terbatas.
Refleksi
Kenaikan harga emas sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi logam mulia tidak lepas dari risiko volatilitas pasar. Sementara sebagian orang menikmati keuntungan, sebagian lain terpaksa menyesuaikan strategi finansial, ironi yang selalu hadir di setiap lonjakan harga aset berharga. @dimas





