Tabooo.id: Regional – Sebuah perahu nelayan, Manis Rizky 59, terbalik di atas batu karang di Pantai Watumandi, Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, pada Jumat (27/2/2026). Satu anak buah kapal (ABK) masih hilang, dan tim gabungan nelayan serta kepolisian terus melakukan pencarian.
Kronologi Kecelakaan
Warga pertama kali mengetahui peristiwa ini pada Jumat pagi. Kapal berwarna putih kombinasi biru dan merah, panjang 11 meter dan lebar 1,25 meter, terlihat terbalik, sementara peralatan memancing lobster berserakan di pasir.
Kapal dikemudikan Jumali (50), warga Munjungan, Trenggalek, yang berangkat seorang diri dari Pantai Watukarung, Pacitan, Kamis (26/2/2026) sore. Ia hendak memancing dan memasang jaring rendet lobster bersama sembilan kapal lain.
Pada malam itu, salah satu rekan masih melihat lampu kapal korban menyala sekitar satu kilometer dari posisinya. Namun pukul 22.30 WIB, lampu itu hilang. Rekan korban mendekati lokasi terakhir kapal terlihat, tetapi kapal maupun korban tidak tampak.
Pencarian dan Penemuan Kapal
Nelayan sempat menyisir area selama dua jam, tetapi gelombang laut yang tinggi memaksa mereka kembali ke Pantai Watukarung dan melaporkan kejadian ke pemilik kapal. Informasi kehilangan kapal dan ABK disebarluaskan hingga wilayah Pantai Sadeng, Gunungkidul.
Keesokan paginya, warga menemukan kapal terbalik di Pantai Watumandi. Mereka segera melapor ke pemilik kapal dan anggota Polsek Paranggupito.
“Hingga Jumat siang, rekan-rekan nelayan dari Pantai Watukarung dan Pantai Sadeng masih menyisir laut dan pesisir Pantai Watumandi hingga Kalimirah untuk mencari korban,” ujar AKP Anom Prabowo, Kasi Humas Polres Wonogiri.
Tantangan Evakuasi
Akses ke lokasi cukup sulit dan terjal sehingga evakuasi kapal berjalan lambat. Saat ini kapal tetap berada di atas batu karang, dalam posisi terbalik.
Pihak kepolisian menduga kecelakaan terjadi karena gelombang tinggi dan kemungkinan mesin kapal tidak berfungsi optimal. Ombak besar menghantam kapal hingga terbalik dan terseret ke tepian pantai.
Dampak bagi Masyarakat
Kejadian ini paling dirasakan oleh keluarga korban, komunitas nelayan, dan pelaku UMKM lokal yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan lobster. Kehilangan kapal dan ABK berarti hilangnya mata pencaharian dan risiko ekonomi langsung bagi masyarakat pesisir.
Kecelakaan ini mengingatkan betapa kerasnya laut selatan bagi nelayan yang mencari nafkah di tengah gelombang tinggi. Sementara orang lain menunggu lobster segar di pasar, sebagian keluarga menunggu kabar yang tak pasti, ironi yang selalu menyertai kehidupan pesisir. @dimas





