Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mobil Listrik Pajak 0%, Rakyat Masih Ngantri BBM: Ini Insentif atau Ilusi?

by teguh
Mei 6, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Di satu sisi, negara bilang masa depan itu listrik bersih, hijau, modern. Namun di sisi lain, sebagian rakyat masih mikir: besok isi bensin pakai apa?

Tabooo.id: Edge – Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan pajak kendaraan listrik tetap 0 persen. Gratis. Artinya, tanpa beban pajak tahunan. Tapi pertanyaannya, gratis ini sebenarnya untuk siapa?.

Fakta yang Terlihat Rapi

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan kebijakan ini mengikuti arahan pemerintah pusat.

“Pemerintah DKI Jakarta tentunya selalu mereferensi keputusan pemerintah pusat,” ujarnya, Selasa (05/05/2026).

Awalnya, Pemprov DKI sempat merancang skema pajak bertingkat berdasarkan harga kendaraan.
Namun kemudian, setelah Surat Edaran Kemendagri terbit, arah kebijakan langsung berubah.

Alhasil, semua kendaraan listrik mendapat perlakuan sama bebas pajak.
Sekilas, kebijakan ini terlihat sederhana dan adil. Namun jika dilihat lebih dalam, ceritanya tidak sesederhana itu.

Siapa yang Sebenarnya Menikmati?

Mari kita jujur. Pertama, tidak semua orang mampu membeli mobil listrik. Kedua, harga ratusan juta rupiah jelas bukan angka yang ramah untuk semua kalangan.

Ini Belum Selesai

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

Investasi dan Harga Sebuah Kepercayaan

Dengan kata lain, akses terhadap insentif ini sejak awal sudah terbatas.

Sosiolog perkotaan Universitas Indonesia, Dr. Rian Prasetyo, melihat adanya bias dalam kebijakan ini.

“Insentif ini terlihat progresif, tapi secara sosial justru regresif,” katanya.

Artinya, yang menikmati justru kelompok ekonomi atas. Sementara itu, kelompok lain tetap berkutat dengan kebutuhan dasar seperti BBM.

Subsidi yang “Katanya” untuk Semua

Di sisi lain, pemerintah pusat menyiapkan subsidi tambahan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bantuan akan diberikan untuk 200 ribu kendaraan listrik.

“Subsidi mobil listrik 100 ribu unit, kalau habis kita tambah lagi,” katanya.

Selain itu, motor listrik juga mendapat subsidi Rp5 juta.

Secara teori, kebijakan ini bertujuan mendorong konsumsi dan mengurangi BBM. Namun dalam praktiknya, distribusi manfaat masih dipertanyakan.

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira, menyoroti ketimpangan ini.

“Jangan sampai kebijakan hijau hanya dinikmati kelompok tertentu,” ujarnya.

Hijau Jadi Privilege

Ironisnya, menjadi “ramah lingkungan” hari ini bukan sekadar pilihan. Sebaliknya, itu mulai terlihat sebagai privilege.

Budayawan Ahmad Sahal menilai fenomena ini sebagai simbol baru ketimpangan.

“Sekarang status sosial bisa terlihat dari apakah kamu bisa peduli lingkungan atau tidak,” katanya.

Dengan demikian, kesadaran ekologis tidak lagi netral. Justru, ia ikut terjebak dalam struktur ekonomi.

Ini Bukan Soal Pajak

Pada akhirnya, ini bukan sekadar kebijakan pajak. Lebih dari itu, ini adalah pola lama dengan wajah baru.

Negara mendorong masa depan Namun di saat yang sama, realita hari ini belum selesai.

Yang terlihat adalah kebijakan hijau Tetapi, yang berjalan tetap ketimpangan.

Realita yang Dekat

Kalau kamu bukan pembeli mobil listrik, dampaknya jelas.

Pertama, kamu tetap bayar pajak kendaraan konvensional. Kedua, kamu tetap menghadapi harga BBM yang naik-turun. Dan yang paling penting, kamu tidak mendapat insentif.

Sementara itu, k elompok yang mampu justru mendapat tambahan keringanan.Jadi, adil atau tidak?

Siapa yang Diuntungkan?

Dalam setiap kebijakan, selalu ada pihak yang diuntungkan. Masalahnya, tidak semua pihak mendapat porsi yang sama.

Jika tujuannya lingkungan, kenapa transportasi publik belum jadi prioritas? Kalau tujuannya ekonomi, kenapa daya beli masyarakat bawah belum disentuh serius?

Di titik ini, narasi mulai terlihat timpang.

Pertanyaan yang Nggak Nyaman

Mobil listrik bebas pajak. Namun, rakyat masih mikir isi bensin. Jadi, kalau kebijakan terlihat hijau di atas kertas, tetapi abu-abu di kehidupan nyata

Apakah ini benar soal lingkungan? Atau justru, cara baru mendesain ketimpangan. Negara bicara masa depan, sementara rakyat masih berjuang hari ini. @teguh

Tags: BBMDKI JakartaGubernurIlusiInsentifpajakSosiologUniversitas Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Pertalite Mau Dibatasi untuk Desil 9–10, Tapi Siapa yang Benar-Benar Kaya?

Pertalite Mau Dibatasi untuk Desil 9–10, Tapi Siapa yang Benar-Benar Kaya?

by teguh
Agustus 13, 2026

Kalau suatu hari SPBU menolak transaksi Pertalite untukmu, apa yang terjadi? Pertalite mau Dabatasi dan itu bukan karena harga. Bisa...

Pricing TPL: Barangnya Sama, Kodenya Beda, Pajaknya Ikut Mengecil?

Pricing TPL: Barangnya Sama, Kodenya Beda, Pajaknya Ikut Mengecil?

by teguh
Agustus 13, 2026

Ketika barang tetap sama, tetapi kode dan angka di dokumen bisa menghasilkan cerita yang berbeda inilah yang terjadi di Pricing...

Pajak Dijaga Aparat: Membangun Kepatuhan atau Ketakutan?

Pajak Dijaga Aparat: Membangun Kepatuhan atau Ketakutan?

by dimas
Juli 22, 2026

Pajak Dijaga Aparat, apakah membangun kepatuhan atau ketakutan? Keterlibatan aparat dalam pengawasan perpajakan memunculkan perdebatan tentang batas peran negara, kepercayaan...

Next Post
Pamali: Teknologi Sosial Warisan Leluhur yang Tak Lekang Zaman

Pamali: Teknologi Sosial Warisan Leluhur yang Tak Lekang Zaman

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id