Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bakar Sampah Jadi Listrik, Mental Buang Sembarangan Masih Gratis

by teguh
Mei 7, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Semua orang sedang sibuk bicara soal teknologi pengolah sampah jadi listrik. Nilainya miliaran. Bahasanya modern. Presentasinya futuristik. Tapi di saat yang sama, masih ada orang yang lempar bungkus kopi dari motor sambil berharap kota tetap bersih.

Tabooo.id: Edge – Ironisnya, kita ingin kota seperti Tokyo, tapi urusan sampah masih mental “yang penting bukan depan rumah gue.”

Kota Modern Butuh Teknologi. Tapi Juga Butuh Malu.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menggandeng Danantara untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang dan Tanjung Kamal Muara. Proyek itu jadi bagian ambisi Jakarta mengejar sistem pengelolaan sampah modern.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan teknologi saja tidak cukup. Menurutnya, warga tetap harus memilah sampah dari rumah.

“Saya sudah menandatangani instruksi gubernur untuk proses pemilahan,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (04/05/2026).

Masalahnya sederhana. Banyak orang ingin kota bersih. Tapi sedikit yang mau repot memilah sampah.

Ini Belum Selesai

Bayar Tepat Waktu, Layanan Kapan Tepat?

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

Orang marah lihat sungai penuh plastik. Tapi masih malas bawa tumbler sendiri.

Orang protes TPS bau. Tapi masih campur sisa makanan, popok, dan botol plastik dalam satu kantong hitam.

Jakarta akhirnya seperti rumah mewah dengan kebiasaan buang sampah ke bawah kasur.

Proyek Triliunan vs Budaya “Nanti Juga Diangkut”

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan sampah yang menumpuk nantinya akan diubah menjadi listrik untuk kota.

Kalimat itu terdengar canggih. Dan memang penting.

Tapi ada pertanyaan yang lebih dekat dengan realita warga kalau sumber sampahnya masih kacau, teknologi sebesar apa pun mau kerja dari mana?

Sosiolog perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, pernah mengingatkan bahwa krisis sampah di kota besar bukan hanya soal fasilitas, tapi soal budaya kolektif yang gagal tumbuh.

“Kota modern dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, tapi dengan disiplin sosial,” ujarnya dalam diskusi pengelolaan kota berkelanjutan.

Dan di sinilah ironi itu hidup Kita cepat upload video jalan kotor ke media sosial. Tapi lambat merasa bersalah saat buang sampah sembarangan.

Pemerintah Sering Bergerak Setelah Bau dan Viral

Instruksi gubernur soal pemilahan sampah sebenarnya bukan hal baru. Jakarta sudah punya aturan pengelolaan sampah sejak lama. Tapi seperti banyak kebijakan lain di negeri ini, aturan sering hidup di dokumen, bukan di kebiasaan.

Pengamat lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, menilai penegakan hukum soal sampah di Indonesia masih lemah dan tidak konsisten.

“Selama pelanggaran dianggap biasa, perilaku masyarakat tidak akan berubah,” ujar salah satu peneliti WALHI dalam kajian pengelolaan limbah perkotaan.

Lucunya, birokrasi sering bergerak cepat saat masalah sudah viral. Sungai hitam dulu, baru sidak. Gunungan sampah muncul dulu, baru rapat koordinasi.

Padahal sampah bukan bencana dadakan. Sampah itu kebiasaan yang dibiarkan bertahun-tahun.

Bukan Sekadar Sampah. Ini Cara Kita Memperlakukan Ruang Bersama.

Budayawan Sujiwo Tejo pernah mengatakan bahwa bangsa besar terlihat dari cara mereka memperlakukan ruang publik.

Dan ruang publik kita sering diperlakukan seperti halaman kosong tanpa pemilik.

Masalah sampah akhirnya bukan cuma urusan kebersihan. Ini soal tanggung jawab sosial. Soal apakah kita merasa hidup bersama orang lain, atau hidup sendirian.

Sebab kota yang sehat tidak lahir dari teknologi saja.

Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Memilah sampah. Tidak buang sembarangan. Tidak merasa “ada petugas yang nanti beresin.”

Karena sejujurnya, teknologi bisa membakar sampah jadi listrik. Tapi teknologi belum tentu bisa membakar mental cuek warga kota.

Yang Sebenarnya Bau, Bukan Sampahnya Saja

Pemprov DKI kini menyiapkan tiga fasilitas PLTSa, termasuk di Sunter. Semua terlihat ambisius. Semua terdengar progresif.

Namun pertanyaan paling penting tetap sama Apa gunanya kota pintar, kalau warganya masih memperlakukan trotoar seperti tempat sampah berjalan?

Sebab pada akhirnya, masalah terbesar Jakarta mungkin bukan volume sampahnya. Tapi rasa memiliki yang makin tipis terhadap kota tempat mereka tinggal.

Kota Modern, Mental Masih Buang Sembarangan.

“Kita mau kota modern, tapi masih buang sampah kayak hidup tanpa tetangga.”

“Jakarta sedang membangun mesin pembakar sampah. Sayangnya, belum ada mesin pembakar mental cuek.”. @teguh

Tags: Budayawanmentalrealita sosialSampahSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Sampah yang Menumpuk atau Kepemimpinan yang Mandek?

Sampah yang Menumpuk atau Kepemimpinan yang Mandek?

by dimas
Juni 21, 2026

Gunungan sampah bukan sekadar masalah lingkungan. Krisis ini mencerminkan kualitas kepemimpinan dan keberanian membangun sistem yang efektif. Tabooo.id - Setiap...

Unseen Unannounced: Ketika Kesadaran Lahir dari Hal-Hal Sederhana

Unseen Unannounced: Ketika Kesadaran Lahir dari Hal-Hal Sederhana

by eko
Mei 9, 2026

Semua orang sekarang peduli lingkungan. Setidaknya di Instagram. Timeline penuh repost soal bumi panas, laut penuh plastik, sampai quote motivasi...

Apa Film Harus Selalu Punya Ending Besar untuk Dianggap Bagus?

Apa Film Harus Selalu Punya Ending Besar untuk Dianggap Bagus?

by eko
Mei 8, 2026

Film modern makin sering berlomba menciptakan kejutan. Harus ada twist besar, konflik brutal, atau ending yang bikin timeline penuh teori....

Next Post
Arsenal vs PSG: Ketika Benteng Tangguh Bertemu Insting Membunuh

Arsenal vs PSG: Ketika Benteng Tangguh Bertemu Insting Membunuh

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id