Tabooo.id: Deep – Pernah nggak kamu lihat kerumunan manusia dari ketinggian? Mereka bergerak cepat, sibuk, dan saling berebut ruang mirip semut. Ratih Kumala menangkap ironi itu, lalu mengubahnya menjadi Kolon, sebuah fabel satir yang justru bicara lebih jujur daripada banyak pidato pejabat hari ini.
Semut Bekerja, Penguasa Berkuasa Dan Kita Kok Familiar Ya?
Novel Koloni langsung mengajak pembaca turun ke dunia bawah tanah yang padat. Di sana, dua ratu saling merebut tahta: Ratu Gegana, pemimpin lama yang menjaga sistem kaku, dan Ratu Darojak, generasi ambisius yang ingin memecahkan pakem.
Namun pertarungan mereka bukan sekadar drama internal. Pertarungan itu meniru pola kekuasaan manusia yang tua menolak turun, yang muda ingin naik dengan segala cara.
“Semut untuk koloni, koloni untuk semut.”
Kalimat itu terdengar rapi, tapi kenyataan di baliknya jauh lebih keras. Sistem mendorong para semut pekerja untuk bekerja tanpa berhenti, sementara para pemimpin sibuk mengamankan posisi masing-masing.
Sementara itu, ambisi dua ratu terus menelan nilai kolektif. Ironisnya, para semut pekerja tetap berjalan, seolah badai kekuasaan itu bukan urusan mereka.
Satir yang Bikin Kamu Senyum Tapi Tetap Mengiris
Ratih tidak menulis dongeng manis. Ia menampilkan kritik yang menggelitik, lalu menggigit.
- Para pemimpin mengejar kuasa sambil mengorbankan loyalitas,
- para pekerja menanggung beban sistem,
- dan ambisi pribadi terus menelan kepentingan bersama.
Lebih jauh lagi, Ratih menyorot pola-pola yang selalu berulang: pemimpin datang dan pergi, tapi eksploitasi tetap berjalan.
Di sisi lain, fabel ini terasa lebih masuk akal daripada politik manusia yang sering tampil absurd di layar TV.
Terinspirasi dari Kekesalan yang Kita Semua Juga Rasakan
Ratih mengambil ide Koloni dari kekesalannya terhadap berita-berita yang ia lihat. Ia melihat manusia dari ketinggian dan menemukan ironi: kita berkerumun seperti semut, sibuk dan patuh, tapi jarang bertanya siapa yang menikmati hasil kerja kita.
Lebih jauh lagi, ia menangkap pola bahwa ambisi manusia sering mengaburkan akal sehat, sama seperti dua ratu yang terus berebut kuasa tanpa henti.
Dongeng Gelap yang Tetap Menyengat
Koloni menawarkan atmosfer dongeng yang gelap dan reflektif. Ratih membawa pembaca masuk ke lorong-lorong bawah tanah sambil membuka lapisan makna tentang kekuasaan, kelas, dan kerja.
Berbeda dari Gadis Kretek yang bernuansa historis, Koloni bergerak seperti fabel modern ringan di permukaan, tapi tajam ketika kamu menelusuri pesannya.
Setiap adegan mendorong pembaca untuk melihat dunia manusia dengan cara baru: bahwa kita mungkin tidak jauh berbeda dari semut yang hidup demi sistem yang tak pernah kita pilih.
Closing:
Pada akhirnya, Koloni mengajak kita bertanya:
Jika semut hidup untuk koloninya, apakah manusia juga hidup untuk sistem—atau hanya untuk ambisi seseorang? @jeje





