Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

“Koloni” Ketika Semut Jadi Cermin Ambisi Manusia

by jeje
Desember 4, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Pernah nggak kamu lihat kerumunan manusia dari ketinggian? Mereka bergerak cepat, sibuk, dan saling berebut ruang mirip semut. Ratih Kumala menangkap ironi itu, lalu mengubahnya menjadi Kolon, sebuah fabel satir yang justru bicara lebih jujur daripada banyak pidato pejabat hari ini.


Semut Bekerja, Penguasa Berkuasa Dan Kita Kok Familiar Ya?

Novel Koloni langsung mengajak pembaca turun ke dunia bawah tanah yang padat. Di sana, dua ratu saling merebut tahta: Ratu Gegana, pemimpin lama yang menjaga sistem kaku, dan Ratu Darojak, generasi ambisius yang ingin memecahkan pakem.
Namun pertarungan mereka bukan sekadar drama internal. Pertarungan itu meniru pola kekuasaan manusia yang tua menolak turun, yang muda ingin naik dengan segala cara.

“Semut untuk koloni, koloni untuk semut.”
Kalimat itu terdengar rapi, tapi kenyataan di baliknya jauh lebih keras. Sistem mendorong para semut pekerja untuk bekerja tanpa berhenti, sementara para pemimpin sibuk mengamankan posisi masing-masing.

Sementara itu, ambisi dua ratu terus menelan nilai kolektif. Ironisnya, para semut pekerja tetap berjalan, seolah badai kekuasaan itu bukan urusan mereka.


Satir yang Bikin Kamu Senyum Tapi Tetap Mengiris

Ratih tidak menulis dongeng manis. Ia menampilkan kritik yang menggelitik, lalu menggigit.

Ini Belum Selesai

Di Balik ‘Shadow Organization’ Chromebook Nadim Makarim

Adrenalin: Mesin Kreativitas di Era Tekanan

  • Para pemimpin mengejar kuasa sambil mengorbankan loyalitas,
  • para pekerja menanggung beban sistem,
  • dan ambisi pribadi terus menelan kepentingan bersama.

Lebih jauh lagi, Ratih menyorot pola-pola yang selalu berulang: pemimpin datang dan pergi, tapi eksploitasi tetap berjalan.
Di sisi lain, fabel ini terasa lebih masuk akal daripada politik manusia yang sering tampil absurd di layar TV.


Terinspirasi dari Kekesalan yang Kita Semua Juga Rasakan

Ratih mengambil ide Koloni dari kekesalannya terhadap berita-berita yang ia lihat. Ia melihat manusia dari ketinggian dan menemukan ironi: kita berkerumun seperti semut, sibuk dan patuh, tapi jarang bertanya siapa yang menikmati hasil kerja kita.

Lebih jauh lagi, ia menangkap pola bahwa ambisi manusia sering mengaburkan akal sehat, sama seperti dua ratu yang terus berebut kuasa tanpa henti.


Dongeng Gelap yang Tetap Menyengat

Koloni menawarkan atmosfer dongeng yang gelap dan reflektif. Ratih membawa pembaca masuk ke lorong-lorong bawah tanah sambil membuka lapisan makna tentang kekuasaan, kelas, dan kerja.

Berbeda dari Gadis Kretek yang bernuansa historis, Koloni bergerak seperti fabel modern ringan di permukaan, tapi tajam ketika kamu menelusuri pesannya.
Setiap adegan mendorong pembaca untuk melihat dunia manusia dengan cara baru: bahwa kita mungkin tidak jauh berbeda dari semut yang hidup demi sistem yang tak pernah kita pilih.


Closing:

Pada akhirnya, Koloni mengajak kita bertanya:
Jika semut hidup untuk koloninya, apakah manusia juga hidup untuk sistem—atau hanya untuk ambisi seseorang? @jeje

Tags: Novel

Kamu Melewatkan Ini

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

by teguh
Mei 8, 2026

Foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial. Sekilas hanya nostalgia sinema klasik. Namun poster tua itu...

Max Havelaar: Film Lama, Luka Lama yang Belum Sembuh

Max Havelaar: Film Lama, Luka Lama yang Belum Sembuh

by teguh
April 21, 2026

Sebuah foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial pada April 2026. Sekilas itu tampak seperti nostalgia...

Film “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya”: Hiburan atau Luka yang Selama Ini Kita Diamkan?

Film “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya”: Hiburan atau Luka yang Selama Ini Kita Diamkan?

by dimas
April 13, 2026

Tabooo.id: Regional - Bioskop biasanya jadi tempat hiburan. Tapi di Solo, film ini justru membuka luka lama.Penonton datang untuk menonton,...

Next Post
Gembong Itu Bernama Asli Paryatin: Ironi Sunyi dari Ponorogo

Gembong Itu Bernama Asli Paryatin: Ironi Sunyi dari Ponorogo

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id