Tabooo.id: Talk – Di banyak desa, cerita hidup sering berputar sederhana pagi di ladang, siang di dapur, malam di serambi. Tapi kadang, di balik kesederhanaan itu, ada rahasia yang tumbuh diam-diam. Dusun Sumber Agung tersentak ketika kabar tentang Dewi Astutik, buronan sabu Rp 5 triliun, ternyata merujuk pada sosok yang mereka panggil Paryatin. Perempuan yang mereka kenal sebagai ibu rumah tangga biasa.
Dan kita pun bertanya: apakah kita benar-benar mengenal orang yang tinggal di seberang pagar? Atau kita hanya mengenal versi “aman” yang ingin kita percaya?
Analisis Isu
Ketua RT mengatakan bahwa warga tak pernah tahu apa sebenarnya pekerjaan Paryatin. Mereka hanya tahu ia sering pergi ke luar negeri tanpa banyak cerita, tanpa pamit yang jelas. Foto yang beredar? Ya, itu dia. Nama lain? Dewi Astutik. Bahkan disebut punya hubungan keluarga dengan seseorang di Singkil.
Secara fakta, Dewi Astutik alias PA memang ditangkap di Kamboja oleh tim gabungan BNN, Interpol, dan BAIS. Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai TKW ini disebut menjadi aktor besar dalam penyelundupan dua ton sabu bernilai lima triliun rupiah.
Di satu sisi, perjalanan kejahatan lintas negara. Di sisi lain, kampung yang naif, percaya bahwa “kerja di luar negeri” adalah jawaban untuk segala misteri.
Fenomena Paryatin bukan sekadar soal kriminal. Ia membuka pintu ke diskusi lebih besar:
✔ peran sosial keluarga dan tetangga,
✔ minimnya pelacakan aktivitas pekerja migran,
✔ dan betapa mudahnya identitas ganda menembus batas administratif desa.
Sikap Tabooo
Tabooo melihat kasus ini sebagai pukulan bukan hanya untuk aparat, tapi untuk kita sebagai masyarakat.
Kita sering membanggakan desa sebagai tempat yang “aman” dan “bersih”, padahal budaya diam dan enggan bertanya justru menjadi pupuk subur bagi rahasia kelam.
Bukankah kita terlalu percaya pada kata “merantau”?
Bukankah kita terlalu mudah menerima orang yang jarang pulang sebagai “biasa saja”?
Dan bukankah kita terlalu sering mengira kejahatan besar hanya lahir dari kota-kota besar?
Kita tidak menyerukan kecurigaan berlebihan. Tapi kita menyerukan kewaspadaan yang manusiawi. Karena desa hari ini sudah terhubung dengan dunia dan dunia, sayangnya, tidak selalu ramah.
Paryatin mungkin sudah dibawa aparat, tapi bayangan yang ditinggalkannya masih menggantung di udara: bahwa siapa pun bisa diliputi rahasia, bahwa kampung pun bisa menjadi panggung global, dan bahwa kejahatan besar tidak selalu berwajah asing.
Pertanyaannya kini bukan lagi “mengapa kita tidak tahu?”
Pertanyaannya adalah: apa lagi yang sedang tumbuh di balik sunyi dan berapa lama lagi kita memilih untuk tidak melihatnya? (red)





