Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gang Peneleh: Tempat Lahirnya Nasionalisme, Sosialisme, dan Konflik

by teguh
April 25, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di sebuah rumah kos sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto, di Gang Peneleh, Surabaya. Sejarah Indonesia tumbuh tanpa sorotan. Tiga anak muda belajar, lalu memilih jalan yang saling berbenturan.

Tabooo.id: Deep – H.O.S. Tjokroaminoto lahir di Ponorogo pada 16/08/1882. Ia wafat di Yogyakarta pada 17/12/1934. Namun gagasannya terus hidup jauh setelah ia meninggal.

Melalui Sarekat Islam, yang berkembang kuat sejak 1912, ia mendorong rakyat bumiputra agar bangkit dari rasa takut. Ia mengajak pedagang kecil bersatu. Ia menuntut keadilan ekonomi. Ia menanamkan keberanian politik.

Karena itu, pemerintah kolonial Belanda menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Julukan itu muncul bukan karena ia memiliki istana. Sebaliknya, ia memiliki pengaruh besar di tengah rakyat.

Ia juga mewariskan kalimat terkenal, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepandai-pandai siasat.”

Ini Belum Selesai

Sekolah Negeri Tak Cukup: 77 Ribu Calon Siswa Jadi Korban Sistem

Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

Kalimat itu mengajarkan tiga hal sekaligus: berpikir cerdas, menjaga moral, dan bertindak strategis.

Sejarawan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo menilai kebangkitan nasional tumbuh ketika rakyat mulai sadar hak politiknya. Dalam konteks itu, Tjokroaminoto ikut mengubah rakyat dari penonton menjadi pelaku sejarah.

Dari Satu Atap, Lahir Tiga Jalan

Di Gang Peneleh, Soekarno muda belajar pidato, organisasi, dan keberanian menghadapi kekuasaan. Kelak, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17/08/1945.

Sementara itu, Semaoen bergerak ke jalur sosialisme. Ia aktif membangun gerakan buruh dan memperjuangkan kelas pekerja.

Di sisi lain, Kartosuwiryo memilih jalur Islam politik radikal. Ia lalu memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 07/08/1949.

Jadi, dari satu rumah lahir tiga arus besar nasionalisme, sosialisme, dan Islam politik.

Sejarawan M.C. Ricklefs menulis bahwa Indonesia modern terbentuk melalui tarik-menarik tiga kekuatan itu. Menariknya, semua pernah duduk di meja yang sama.

Namun kemudian sejarah membawa mereka ke arah konflik.

Ini Bukan Sekadar Kisah Rumah Kos

Cerita Gang Peneleh bukan hanya nostalgia masa lalu. Kisah ini menunjukkan bagaimana bangsa lahir dari perdebatan gagasan.

Perbedaan pandangan sebenarnya wajar. Bahkan perbedaan sering melahirkan kemajuan. Namun ketika orang menolak dialog, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan.

Karena itu, ruang diskusi jauh lebih penting daripada ruang propaganda.

Sosiolog Prof. Dr. Arief Budiman pernah menegaskan bahwa konflik politik sering muncul bukan karena gagasan berbeda, melainkan karena orang gagal mengelola perbedaan.

Indonesia berkali-kali menghadapi pola itu. Dulu konflik hadir lewat pertarungan ideologi. Kini konflik sering muncul lewat polarisasi digital.

Refleksi Indonesia Hari Ini

Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan fisik. Namun bangsa ini masih melawan bentuk penjajahan baru.

Kini ancaman datang melalui hoaks, fanatisme buta, korupsi, dan kebencian sosial.

Jika dulu penjajah memecah rakyat lewat kekuasaan, sekarang banyak pihak memecah publik lewat informasi palsu.

Budayawan Emha Ainun Nadjib kerap mengingatkan bahwa bangsa yang melupakan guru akan kehilangan akar moral. Karena itu, kisah Tjokroaminoto terasa relevan sampai hari ini.

Ironisnya, kita memiliki banyak tokoh viral. Tetapi kita kekurangan pendidik yang membentuk karakter. Kita punya banyak pengikut. Namun kita masih kurang pemikir.

Pelajaran untuk Generasi Sekarang

Pertama, jangan remehkan ruang kecil.
Kamar kos, warung kopi, atau komunitas sederhana bisa melahirkan ide besar.

Kedua, belajarlah dari banyak sudut pandang.
Karena itu, literasi menjadi senjata penting di zaman bising.

Ketiga, jadilah murid yang berpikir.
Belajar berarti memahami, bukan sekadar meniru.

Keempat, rawat perdebatan sehat.
Berbeda pendapat boleh. Tetapi kebencian hanya merusak masa depan.

Penutup

Gang Peneleh memberi pelajaran tajam satu guru mampu melahirkan banyak tokoh, tetapi para tokoh itu kemudian saling berebut arah bangsa. Namun justru dari sana Indonesia tumbuh.

Bangsa ini maju bukan karena semua orang sepakat. Sebaliknya, bangsa ini maju ketika rakyat mau berpikir, berdebat, lalu tetap menjaga persatuan.

Pertanyaannya sekarang sederhana di tengah negeri yang gaduh ini, siapa yang sedang menyiapkan Gang Peneleh berikutnya?. @teguh

Tags: BelandaBudayawanDialogguruIdeologiKemerdekaanKolonialKonflik DuniaKosNasionalNasionalismeNostalgiaponorogoRaja JawaRumahsejarawansosialismeSosiologsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Tan Malaka: Seorang Komunis yang Menentang Komunisme?

Tan Malaka: Seorang Komunis yang Menentang Komunisme?

by dimas
Juni 13, 2026

Tan Malaka kerap dicap komunis dan antiagama. Namun benarkah demikian? Menelusuri gagasan, Islam, sosialisme, dan stigma yang melekat pada dirinya....

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Next Post
Hari Buruh 2026: Kerja Keras Masih Belum Cukup?

Hari Buruh 2026: Kerja Keras Masih Belum Cukup?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id