Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Gang Peneleh: Tempat Lahirnya Nasionalisme, Sosialisme, dan Konflik

by teguh
April 25, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di sebuah rumah kos sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto, di Gang Peneleh, Surabaya. Sejarah Indonesia tumbuh tanpa sorotan. Tiga anak muda belajar, lalu memilih jalan yang saling berbenturan.

Tabooo.id: Deep – H.O.S. Tjokroaminoto lahir di Ponorogo pada 16/08/1882. Ia wafat di Yogyakarta pada 17/12/1934. Namun gagasannya terus hidup jauh setelah ia meninggal.

Melalui Sarekat Islam, yang berkembang kuat sejak 1912, ia mendorong rakyat bumiputra agar bangkit dari rasa takut. Ia mengajak pedagang kecil bersatu. Ia menuntut keadilan ekonomi. Ia menanamkan keberanian politik.

Karena itu, pemerintah kolonial Belanda menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Julukan itu muncul bukan karena ia memiliki istana. Sebaliknya, ia memiliki pengaruh besar di tengah rakyat.

Ia juga mewariskan kalimat terkenal, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepandai-pandai siasat.”

Ini Belum Selesai

Bupati Kaya, Rakyat Sengsara: Pola Lama yang Tak Pernah Mati

Kabinet Sering Dirombak, Stabilitas atau Justru Tanda Sistem Masih Goyang?

Kalimat itu mengajarkan tiga hal sekaligus: berpikir cerdas, menjaga moral, dan bertindak strategis.

Sejarawan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo menilai kebangkitan nasional tumbuh ketika rakyat mulai sadar hak politiknya. Dalam konteks itu, Tjokroaminoto ikut mengubah rakyat dari penonton menjadi pelaku sejarah.

Dari Satu Atap, Lahir Tiga Jalan

Di Gang Peneleh, Soekarno muda belajar pidato, organisasi, dan keberanian menghadapi kekuasaan. Kelak, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17/08/1945.

Sementara itu, Semaoen bergerak ke jalur sosialisme. Ia aktif membangun gerakan buruh dan memperjuangkan kelas pekerja.

Di sisi lain, Kartosuwiryo memilih jalur Islam politik radikal. Ia lalu memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 07/08/1949.

Jadi, dari satu rumah lahir tiga arus besar nasionalisme, sosialisme, dan Islam politik.

Sejarawan M.C. Ricklefs menulis bahwa Indonesia modern terbentuk melalui tarik-menarik tiga kekuatan itu. Menariknya, semua pernah duduk di meja yang sama.

Namun kemudian sejarah membawa mereka ke arah konflik.

Ini Bukan Sekadar Kisah Rumah Kos

Cerita Gang Peneleh bukan hanya nostalgia masa lalu. Kisah ini menunjukkan bagaimana bangsa lahir dari perdebatan gagasan.

Perbedaan pandangan sebenarnya wajar. Bahkan perbedaan sering melahirkan kemajuan. Namun ketika orang menolak dialog, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan.

Karena itu, ruang diskusi jauh lebih penting daripada ruang propaganda.

Sosiolog Prof. Dr. Arief Budiman pernah menegaskan bahwa konflik politik sering muncul bukan karena gagasan berbeda, melainkan karena orang gagal mengelola perbedaan.

Indonesia berkali-kali menghadapi pola itu. Dulu konflik hadir lewat pertarungan ideologi. Kini konflik sering muncul lewat polarisasi digital.

Refleksi Indonesia Hari Ini

Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan fisik. Namun bangsa ini masih melawan bentuk penjajahan baru.

Kini ancaman datang melalui hoaks, fanatisme buta, korupsi, dan kebencian sosial.

Jika dulu penjajah memecah rakyat lewat kekuasaan, sekarang banyak pihak memecah publik lewat informasi palsu.

Budayawan Emha Ainun Nadjib kerap mengingatkan bahwa bangsa yang melupakan guru akan kehilangan akar moral. Karena itu, kisah Tjokroaminoto terasa relevan sampai hari ini.

Ironisnya, kita memiliki banyak tokoh viral. Tetapi kita kekurangan pendidik yang membentuk karakter. Kita punya banyak pengikut. Namun kita masih kurang pemikir.

Pelajaran untuk Generasi Sekarang

Pertama, jangan remehkan ruang kecil.
Kamar kos, warung kopi, atau komunitas sederhana bisa melahirkan ide besar.

Kedua, belajarlah dari banyak sudut pandang.
Karena itu, literasi menjadi senjata penting di zaman bising.

Ketiga, jadilah murid yang berpikir.
Belajar berarti memahami, bukan sekadar meniru.

Keempat, rawat perdebatan sehat.
Berbeda pendapat boleh. Tetapi kebencian hanya merusak masa depan.

Penutup

Gang Peneleh memberi pelajaran tajam satu guru mampu melahirkan banyak tokoh, tetapi para tokoh itu kemudian saling berebut arah bangsa. Namun justru dari sana Indonesia tumbuh.

Bangsa ini maju bukan karena semua orang sepakat. Sebaliknya, bangsa ini maju ketika rakyat mau berpikir, berdebat, lalu tetap menjaga persatuan.

Pertanyaannya sekarang sederhana di tengah negeri yang gaduh ini, siapa yang sedang menyiapkan Gang Peneleh berikutnya?. @teguh

Tags: BelandaBudayawanDialogguruIdeologiIndonesiaKemerdekaanKolonialKonflikKosNasionalismeNostalgiaponorogoRaja JawaRumahsejarawansosialismeSosiologsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

by teguh
April 27, 2026

Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik...

Meriam, Peluru Gagal, Pengetahuan Dikirim: Cara Aceh Dirobohkan dari Dalam

Meriam, Peluru Gagal, Pengetahuan Dikirim: Cara Aceh Dirobohkan dari Dalam

by teguh
April 27, 2026

Aceh, 1873–1904. Ketika meriam, kapal perang, dan ribuan serdadu gagal menundukkan tanah rencong, Belanda segera mengubah strategi. Mereka tak lagi...

Dulu Pakai Keris, Sekarang Pakai Jabatan

Dulu Pakai Keris, Sekarang Pakai Jabatan

by teguh
April 27, 2026

Dulu orang datang membawa keris, pasukan, dan cap kerajaan. Kini banyak orang cukup membawa jabatan, akses, dan ego. Wajahnya berubah,...

Next Post
Hari Buruh 2026: Kerja Keras Masih Belum Cukup?

Hari Buruh 2026: Kerja Keras Masih Belum Cukup?

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id