Sebuah foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial pada April 2026. Sekilas itu tampak seperti nostalgia sinema lama. Namun unggahan itu justru membuka luka yang belum sembuh kolonialisme, pengkhianatan elite, dan kekuasaan yang terus berganti wajah. Ini bukan sekadar film tahun 1979. Ini cermin yang masih memantulkan Indonesia hari ini.
Tabooo.id: Deep – Sutradara Fons Rademakers mengangkat film Max Havelaar dari novel terkenal karya Multatuli yang terbit pada 1860. Sang penulis menumpahkan kemarahannya setelah melihat korupsi, tanam paksa, dan pemerasan rakyat pribumi secara langsung.
Cerita berpusat pada Max Havelaar, pejabat Belanda idealis yang datang ke Lebak, Banten, abad ke-19. Di sana, ia melihat rakyat menderita karena penguasa lokal bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Ia memilih melawan.
Namun sistem menolak orang jujur. Para penguasa lalu menyingkirkannya karena ia mengganggu kenyamanan birokrasi.
Pesan film ini sangat jelas penjajahan tidak selalu datang lewat senjata. Kadang ia hadir lewat meja rapat, tanda tangan, dan elite lokal yang haus kuasa.
Kolonialisme Tidak Mati, Ia Berevolusi
Banyak orang mengira kolonialisme berakhir saat bendera turun. Sejarawan Ong Hok Ham berkali-kali menulis bahwa kolonialisme bertahan lama karena elite lokal ikut menopang sistem itu.
Artinya jelas penjajah datang dari luar, tetapi penindasan sering dijaga dari dalam. Pandangan itu terasa relevan hari ini.
Jika rakyat masih kalah oleh korupsi, tanah masih dikuasai segelintir orang, dan hukum masih tajam ke bawah namun tumpul ke atas, apa bedanya pola lama dengan wajah baru?
Kolonialisme bisa berganti seragam. Namun logika eksploitasinya tetap sama.
Kenapa Film Ini Pernah Sensitif?
Film Max Havelaar pernah sulit beredar luas di Indonesia. Bukan karena adegan vulgar. Bukan pula karena kekerasan. Banyak pihak merasa tema kolonialisme dan kritik kekuasaan terlalu sensitif.
Sosiolog Ariel Heryanto menilai pelarangan karya sejarah sering menunjukkan rasa takut terhadap tafsir alternatif. Ketika negara hanya memberi satu versi masa lalu, penguasa lebih mudah mengatur masa depan. Masalahnya sederhana rakyat yang lupa sejarah lebih mudah mengulang luka lama.
Karya Seni yang Mengganggu Nyaman
Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa karya seni penting sering mengusik kenyamanan karena memaksa publik melihat kenyataan. Max Havelaar melakukan hal itu.
Film ini tidak menjual nostalgia Hindia Belanda yang romantis. Alih-alih memoles kebun teh indah, kisahnya justru membuka darah dan air mata di balik kemegahan kolonial. Penonton diajak melihat harga manusia yang dibayar demi kejayaan masa itu. Karena itulah banyak orang merasa tak nyaman.
Dari Lebak ke Hari Ini
Jika kisah itu terjadi di Lebak abad ke-19, versinya hari ini bisa muncul di mana saja:
- pejabat membungkam kritik
- proyek menggusur warga kecil
- hukum tunduk pada pemilik modal
- elite lokal bicara rakyat sambil menjaga kursi sendiri
Ini bukan soal Belanda lagi. Kini persoalannya adalah cara kekuasaan bekerja saat publik berhenti mengawasi.
Pengamat politik sering mengingatkan bahwa demokrasi tanpa akuntabilitas hanya mengganti aktor, bukan mengganti sistem. Pemilu bisa berganti lima tahun sekali, tetapi penindasan bisa berjalan setiap hari.
Apa Nilai yang Bisa Diambil?
1. Integritas Selalu Mahal
Max Havelaar memilih melawan meski tahu kariernya hancur. Orang jujur sering kalah cepat, tetapi sejarah selalu mengingat mereka.
2. Elite Bisa Menolong atau Mengkhianati
Film ini menunjukkan rakyat jarang jatuh sendirian. Kolaborasi kekuasaan sering mendorong mereka jatuh lebih dalam.
3. Sejarah Perlu Banyak Sudut Pandang
Jika pemenang menulis semua cerita, korban akan hilang dua kali: saat penindasan terjadi dan saat ingatan publik memudar.
Tabooo Analysis: Luka Itu Belum Sembuh
Yang membuat Max Havelaar relevan bukan usia filmnya. Yang membuatnya relevan adalah pola ceritanya.
Hari ini penjajah mungkin tidak datang dengan kapal. Ia bisa hadir lewat utang, manipulasi kebijakan, monopoli sumber daya, atau elite yang lebih setia pada kuasa daripada rakyat.
Indonesia meraih kemerdekaan politik pada 17/08/1945. Namun pertanyaannya apakah kita sudah meraih kemerdekaan dari sistem penindasan?
Closing
Film lama ini mengingatkan satu hal pahit sejarah tidak selalu kembali dengan nama yang sama. Kadang ia datang dengan logo baru, jargon baru, dan wajah yang lebih sopan.
Lalu, jika pola lama masih hidup hari ini, siapa sebenarnya yang sedang menjajah siapa? @teguh






