Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Max Havelaar: Film Lama, Luka Lama yang Belum Sembuh

by teguh
April 21, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Sebuah foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial pada April 2026. Sekilas itu tampak seperti nostalgia sinema lama. Namun unggahan itu justru membuka luka yang belum sembuh kolonialisme, pengkhianatan elite, dan kekuasaan yang terus berganti wajah. Ini bukan sekadar film tahun 1979. Ini cermin yang masih memantulkan Indonesia hari ini.

Tabooo.id: Deep – Sutradara Fons Rademakers mengangkat film Max Havelaar dari novel terkenal karya Multatuli yang terbit pada 1860. Sang penulis menumpahkan kemarahannya setelah melihat korupsi, tanam paksa, dan pemerasan rakyat pribumi secara langsung.

Cerita berpusat pada Max Havelaar, pejabat Belanda idealis yang datang ke Lebak, Banten, abad ke-19. Di sana, ia melihat rakyat menderita karena penguasa lokal bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Ia memilih melawan.

Namun sistem menolak orang jujur. Para penguasa lalu menyingkirkannya karena ia mengganggu kenyamanan birokrasi.

Pesan film ini sangat jelas penjajahan tidak selalu datang lewat senjata. Kadang ia hadir lewat meja rapat, tanda tangan, dan elite lokal yang haus kuasa.

Kolonialisme Tidak Mati, Ia Berevolusi

Banyak orang mengira kolonialisme berakhir saat bendera turun. Sejarawan Ong Hok Ham berkali-kali menulis bahwa kolonialisme bertahan lama karena elite lokal ikut menopang sistem itu.

Ini Belum Selesai

Hari Kesembilan, Tim SAR Persempit Pencarian Jurnalis Hilang

Dari Teguran ke Tiga Pukulan: Kronologi Kematian Serda Ahmad

Artinya jelas penjajah datang dari luar, tetapi penindasan sering dijaga dari dalam. Pandangan itu terasa relevan hari ini.

Jika rakyat masih kalah oleh korupsi, tanah masih dikuasai segelintir orang, dan hukum masih tajam ke bawah namun tumpul ke atas, apa bedanya pola lama dengan wajah baru?

Kolonialisme bisa berganti seragam. Namun logika eksploitasinya tetap sama.

Kenapa Film Ini Pernah Sensitif?

Film Max Havelaar pernah sulit beredar luas di Indonesia. Bukan karena adegan vulgar. Bukan pula karena kekerasan. Banyak pihak merasa tema kolonialisme dan kritik kekuasaan terlalu sensitif.

Sosiolog Ariel Heryanto menilai pelarangan karya sejarah sering menunjukkan rasa takut terhadap tafsir alternatif. Ketika negara hanya memberi satu versi masa lalu, penguasa lebih mudah mengatur masa depan. Masalahnya sederhana rakyat yang lupa sejarah lebih mudah mengulang luka lama.

Karya Seni yang Mengganggu Nyaman

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa karya seni penting sering mengusik kenyamanan karena memaksa publik melihat kenyataan. Max Havelaar melakukan hal itu.

Film ini tidak menjual nostalgia Hindia Belanda yang romantis. Alih-alih memoles kebun teh indah, kisahnya justru membuka darah dan air mata di balik kemegahan kolonial. Penonton diajak melihat harga manusia yang dibayar demi kejayaan masa itu. Karena itulah banyak orang merasa tak nyaman.

Dari Lebak ke Hari Ini

Jika kisah itu terjadi di Lebak abad ke-19, versinya hari ini bisa muncul di mana saja:

  • pejabat membungkam kritik
  • proyek menggusur warga kecil
  • hukum tunduk pada pemilik modal
  • elite lokal bicara rakyat sambil menjaga kursi sendiri

Ini bukan soal Belanda lagi. Kini persoalannya adalah cara kekuasaan bekerja saat publik berhenti mengawasi.

Pengamat politik sering mengingatkan bahwa demokrasi tanpa akuntabilitas hanya mengganti aktor, bukan mengganti sistem. Pemilu bisa berganti lima tahun sekali, tetapi penindasan bisa berjalan setiap hari.

Apa Nilai yang Bisa Diambil?

1. Integritas Selalu Mahal

Max Havelaar memilih melawan meski tahu kariernya hancur. Orang jujur sering kalah cepat, tetapi sejarah selalu mengingat mereka.

2. Elite Bisa Menolong atau Mengkhianati

Film ini menunjukkan rakyat jarang jatuh sendirian. Kolaborasi kekuasaan sering mendorong mereka jatuh lebih dalam.

3. Sejarah Perlu Banyak Sudut Pandang

Jika pemenang menulis semua cerita, korban akan hilang dua kali: saat penindasan terjadi dan saat ingatan publik memudar.

Tabooo Analysis: Luka Itu Belum Sembuh

Yang membuat Max Havelaar relevan bukan usia filmnya. Yang membuatnya relevan adalah pola ceritanya.

Hari ini penjajah mungkin tidak datang dengan kapal. Ia bisa hadir lewat utang, manipulasi kebijakan, monopoli sumber daya, atau elite yang lebih setia pada kuasa daripada rakyat.

Indonesia meraih kemerdekaan politik pada 17/08/1945. Namun pertanyaannya apakah kita sudah meraih kemerdekaan dari sistem penindasan?

Closing

Film lama ini mengingatkan satu hal pahit sejarah tidak selalu kembali dengan nama yang sama. Kadang ia datang dengan logo baru, jargon baru, dan wajah yang lebih sopan.

Lalu, jika pola lama masih hidup hari ini, siapa sebenarnya yang sedang menjajah siapa? @teguh

Tags: BantenBudayawanDemokrasiFilmHindia BelandaKaryakekuasaanKolonialismeKorupsi di IndonesiaKritiklebakMedia SosialMultatuliNasionalNostalgiaNovelPemerasanPengamat PolitikpenulisrakyatSejarahSensitifSosiologSutradaratanam paksa

Kamu Melewatkan Ini

Sejarah Panjang Kekuasaan di Balik Sepiring Nasi

Sejarah Panjang Kekuasaan di Balik Sepiring Nasi

by Waras
September 11, 2026

Setiap hari kita makan nasi tanpa banyak bertanya. Padahal, posisi nasi di meja makan Indonesia tidak muncul begitu saja. Di...

Demonstran Dibenturkan dengan Warga, Siapa yang Diuntungkan?

Demonstran Dibenturkan dengan Warga, Siapa yang Diuntungkan?

by dimas
September 4, 2026

Demonstran dibenturkan dengan warga dalam sejumlah aksi. Simak pola konflik horizontal, krisis kepercayaan, dan pihak yang berpotensi diuntungkan. Tabooo.id -...

Pelanggaran HAM dan Kekuasaan: Mengapa Keadilan Terus Tertunda?

Pelanggaran HAM dan Kekuasaan: Mengapa Keadilan Terus Tertunda?

by dimas
September 1, 2026

Pelanggaran HAM dan kekuasaan terus berhadapan dengan persoalan impunitas. Mengapa keadilan bagi korban tak kunjung tuntas? Tabooo.id - Ada perkara...

Next Post
Kartini Dikenang, Tapi Mengapa Ketimpangan Perempuan Masih Nyata?

Kartini Dikenang, Tapi Mengapa Ketimpangan Perempuan Masih Nyata?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id