Kamis, Oktober 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Pangkat Lebih Tinggi Daripada ADAB

by jeje
November 22, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di negeri yang mengaku menjunjung sopan santun, kita justru melihat ironi yang terus muncul. Pejabat yang naik pangkat sering menurunkan adab. Kini kamera menangkap lebih banyak kejadian. Warganet menyebarkan videonya lebih cepat. Akibatnya, publik menontonnya sebagai tontonan nasional lengkap dengan komentar pedas yang muncul sebelum aparat tiba di lokasi.

Seragam Menebalkan Ego

Setiap pejabat atau aparat yang marah di ruang publik biasanya memakai pola yang sama. Mereka menaikkan nada lebih dulu. Logika mereka muncul belakangan.
Mereka menegur warga karena parkir miring. Mereka juga menghentikan pengendara hanya karena tidak memberi hormat. Selain itu, mereka sering mengucapkan kalimat khas arogansi digital:
“Kamu tahu saya siapa?”

Pada dasarnya, mereka ingin diperlakukan seperti raja kecil. Ironisnya, mereka sendiri tahu bahwa jawabannya tidak penting.

Mereka Memaksa Hormat, Bukan Menghasilkan Hormat

Banyak pejabat lupa bahwa perilaku yang baik akan memunculkan hormat. Namun, di lapangan, mereka justru berteriak dan mengklaim kebenaran sekeras mungkin.
Masyarakat akhirnya memahami pola itu. Pejabat meminta hormat. Aparat meminta perlakuan khusus. Orang berpangkat meminta pelayanan.
Sementara itu, adab menghilang secepat klarifikasi standar: “Sebenarnya tidak seperti itu.”

Mereka Memakai Pangkat sebagai Kartu Debit Moral

Dalam banyak peristiwa, pejabat memakai pangkat sebagai pembenaran instan.
Mereka mengklaim benar meski mereka salah. Mereka mencari pembelaan meski mereka keliru. Bahkan mereka memutar ulang versi kronologi sendiri meski mereka melanggar aturan.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Pada faktanya, mereka memperlakukan pangkat seperti kartu debit. Mereka gesek, lalu moral pun tersisih.

Publik Hanya Bisa Merekam atau Mengalah

Warga yang menghadapi arogansi ini biasanya hanya memilih dua langkah. Mereka diam agar tidak ribut. Atau, mereka merekam agar bukti lebih dipercaya daripada laporan lisan.
Setiap video viral membawa pesan yang jelas:
ketika pangkat naik, pemiliknya wajib menaikkan adab.
Sayangnya, pesan itu lebih sering mencapai warganet daripada pelakunya.

Kita Menyadari Masalahnya, Tapi Kita Takut Menyebut Nama

Semua orang memahami bahwa jabatan sering membuat seseorang lupa menjadi manusia. Namun, banyak pihak tetap enggan menyebut nama pelakunya. Mereka takut dianggap “merusak citra institusi”.
Padahal perilakunya yang merusak citra itu—bukan kritiknya.
Pelakunya terus mengulang pola yang sama: mereka merasa berhak marah, merasa boleh menginjak, dan merasa kebal karena pangkat.

Pertanyaan yang Pejabat Selalu Hindari

Di balik setiap arogansi, muncul satu pertanyaan yang mereka hindari:
mereka memakai pangkat untuk melayani atau untuk meminta keistimewaan?

Pada akhirnya, rakyat semakin jenuh melihat “pahlawan palsu” yang bersuara lantang dan beradab tipis.
Sebaliknya, rakyat membutuhkan pejabat yang sadar bahwa jabatan itu sementara.
Terlebih lagi, jejak buruk mereka tetap hidup selamanya di internet. @jeje

Tags: pemerintah

Kamu Melewatkan Ini

Kaltim Tertekan dari Asap, Air hingga BBM: Ke Mana Pemerintah?

Kaltim Tertekan dari Asap, Air hingga BBM: Ke Mana Pemerintah?

by dimas
September 18, 2026

Kaltim tertekan oleh asap karhutla, ancaman krisis air, dan antrean BBM. Warga menanti kehadiran pemerintah menyelesaikan masalah. Tabooo.id - Pagi...

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

by dimas
September 17, 2026

Anggaran BGN 2027 turun Rp30 triliun menjadi Rp240,2 triliun, tetapi MBG tetap dominan dengan alokasi Rp232,5 triliun. Tabooo.id - Rp240,2...

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

by teguh
Juli 30, 2026

Di SD Negeri Tanggirejo, Grobogan, gotong royong para orang tua menjadi simbol kepedulian sekaligus cermin persoalan yang lebih besar. Ketika...

Next Post
Gen Z Makin Antisosial

Gen Z Malas Ngumpul, Industri Mulai Kewalahan.

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id