Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Pangkat Lebih Tinggi Daripada ADAB

by jeje
November 22, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di negeri yang mengaku menjunjung sopan santun, kita justru melihat ironi yang terus muncul. Pejabat yang naik pangkat sering menurunkan adab. Kini kamera menangkap lebih banyak kejadian. Warganet menyebarkan videonya lebih cepat. Akibatnya, publik menontonnya sebagai tontonan nasional lengkap dengan komentar pedas yang muncul sebelum aparat tiba di lokasi.

Seragam Menebalkan Ego

Setiap pejabat atau aparat yang marah di ruang publik biasanya memakai pola yang sama. Mereka menaikkan nada lebih dulu. Logika mereka muncul belakangan.
Mereka menegur warga karena parkir miring. Mereka juga menghentikan pengendara hanya karena tidak memberi hormat. Selain itu, mereka sering mengucapkan kalimat khas arogansi digital:
“Kamu tahu saya siapa?”

Pada dasarnya, mereka ingin diperlakukan seperti raja kecil. Ironisnya, mereka sendiri tahu bahwa jawabannya tidak penting.

Mereka Memaksa Hormat, Bukan Menghasilkan Hormat

Banyak pejabat lupa bahwa perilaku yang baik akan memunculkan hormat. Namun, di lapangan, mereka justru berteriak dan mengklaim kebenaran sekeras mungkin.
Masyarakat akhirnya memahami pola itu. Pejabat meminta hormat. Aparat meminta perlakuan khusus. Orang berpangkat meminta pelayanan.
Sementara itu, adab menghilang secepat klarifikasi standar: “Sebenarnya tidak seperti itu.”

Mereka Memakai Pangkat sebagai Kartu Debit Moral

Dalam banyak peristiwa, pejabat memakai pangkat sebagai pembenaran instan.
Mereka mengklaim benar meski mereka salah. Mereka mencari pembelaan meski mereka keliru. Bahkan mereka memutar ulang versi kronologi sendiri meski mereka melanggar aturan.

Ini Belum Selesai

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Pada faktanya, mereka memperlakukan pangkat seperti kartu debit. Mereka gesek, lalu moral pun tersisih.

Publik Hanya Bisa Merekam atau Mengalah

Warga yang menghadapi arogansi ini biasanya hanya memilih dua langkah. Mereka diam agar tidak ribut. Atau, mereka merekam agar bukti lebih dipercaya daripada laporan lisan.
Setiap video viral membawa pesan yang jelas:
ketika pangkat naik, pemiliknya wajib menaikkan adab.
Sayangnya, pesan itu lebih sering mencapai warganet daripada pelakunya.

Kita Menyadari Masalahnya, Tapi Kita Takut Menyebut Nama

Semua orang memahami bahwa jabatan sering membuat seseorang lupa menjadi manusia. Namun, banyak pihak tetap enggan menyebut nama pelakunya. Mereka takut dianggap “merusak citra institusi”.
Padahal perilakunya yang merusak citra itu—bukan kritiknya.
Pelakunya terus mengulang pola yang sama: mereka merasa berhak marah, merasa boleh menginjak, dan merasa kebal karena pangkat.

Pertanyaan yang Pejabat Selalu Hindari

Di balik setiap arogansi, muncul satu pertanyaan yang mereka hindari:
mereka memakai pangkat untuk melayani atau untuk meminta keistimewaan?

Pada akhirnya, rakyat semakin jenuh melihat “pahlawan palsu” yang bersuara lantang dan beradab tipis.
Sebaliknya, rakyat membutuhkan pejabat yang sadar bahwa jabatan itu sementara.
Terlebih lagi, jejak buruk mereka tetap hidup selamanya di internet. @jeje

Tags: pemerintah

Kamu Melewatkan Ini

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

by teguh
Juli 30, 2026

Di SD Negeri Tanggirejo, Grobogan, gotong royong para orang tua menjadi simbol kepedulian sekaligus cermin persoalan yang lebih besar. Ketika...

Rp514 Triliun untuk Bunga Utang: Ketika Masa Depan APBN Mulai Dibayar Hari Ini

Rp514 Triliun untuk Bunga Utang: Ketika Masa Depan APBN Mulai Dibayar Hari Ini

by teguh
Juli 24, 2026

Negara terus membangun melalui utang. Namun setiap obligasi yang terbit membawa tagihan bunga utang. Ketika tagihan itu membesar, ruang APBN...

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

by teguh
Juni 28, 2026

Langit di Timur Tengah mungkin terasa sangat jauh dari kawasan industri di Indonesia. Namun setiap ledakan yang mengguncang wilayah itu...

Next Post
Gen Z Makin Antisosial

Gen Z Malas Ngumpul, Industri Mulai Kewalahan.

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id