• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Global

Ketegangan Iran-AS Memuncak, Teheran Ancam Balasan Jika Khamenei Diserang

Januari 19, 2026
in Global, News
A A
Demo Iran Telan Ribuan Korban, Khamenei Tuduh AS dan Israel Sebagai Dalang

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berpidato di hadapan murid-murid di Teheran, 3 November 2025. (Foto: KHAMENEI.IR via AFP)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan peringatan keras kepada Washington. Ia menegaskan bahwa Iran akan menganggap setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebagai deklarasi perang terbuka. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan langkah ekstrem, mulai dari pencopotan hingga pembunuhan Khamenei.

“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami setara dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran,” tulis Pezeshkian melalui platform X, Minggu (18/1/2026). Pernyataan itu menegaskan garis merah baru dalam hubungan Iran-AS yang terus memburuk.

Pezeshkian juga menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gelombang protes besar di Iran selama dua pekan terakhir. Aksi tersebut dilaporkan menewaskan ribuan demonstran. Menurutnya, tekanan hidup yang dialami rakyat Iran tidak bisa dilepaskan dari sanksi ekonomi berkepanjangan yang dijatuhkan Washington dan sekutunya.

“Jika rakyat Iran hidup dalam kesulitan, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan dan sanksi tidak manusiawi dari pemerintah AS,” ujarnya.

Protes Ekonomi Berubah Menjadi Krisis Politik

Kerusuhan terbaru di Iran pecah pada 28 Desember 2025. Protes bermula dari lonjakan inflasi, nilai mata uang yang anjlok, dan biaya hidup yang semakin berat. Dalam waktu singkat, tuntutan ekonomi itu berkembang menjadi gerakan politik yang menuntut perubahan kekuasaan.

Ketegangan meningkat ketika pemerintah Iran pada 8 Januari 2026 memutus hampir seluruh layanan internet dan telepon. Kebijakan itu memutus jutaan warga dari koneksi global dan mempersempit arus informasi di tengah krisis nasional.

Tekanan Trump dan Serangan yang Nyaris Terjadi

Di sisi lain, Donald Trump memperkeras sikapnya. Dalam wawancara dengan Politico, ia menyebut Khamenei sebagai pemimpin yang “sakit” dan menyerukan berakhirnya kekuasaan yang telah berlangsung hampir 40 tahun. Trump juga mendorong warga Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengambil alih institusi negara.

RelatedPosts

7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

Pada Selasa (12/1/2026), Trump mengklaim bantuan untuk rakyat Iran sedang disiapkan. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan laporan bahwa Amerika Serikat hampir melancarkan serangan militer.

Menurut laporan Axios, rencana serangan tersebut nyaris dijalankan pada Rabu (13/1/2026). Namun, Trump akhirnya menunda langkah itu setelah mendapat tekanan dari sekutu regional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut memperingatkan bahwa Israel belum siap menghadapi serangan balasan Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman juga meminta Trump menahan diri demi mencegah ketidakstabilan kawasan.

“Situasinya benar-benar sangat dekat,” ujar seorang pejabat AS kepada Axios. Ia menegaskan bahwa perintah serangan pada akhirnya tidak pernah dikeluarkan.

Ancaman Masih Ada, Perang Belum Pecah

Di tengah ketegangan tersebut, Trump pada Jumat lalu mengklaim Teheran telah membatalkan rencana eksekusi terhadap sekitar 800 orang. Salah satunya Erfan Soltani (26), yang disebut sebagai demonstran pertama yang dijatuhi hukuman mati sejak kerusuhan dimulai.

Ancaman perang memang belum berubah menjadi serangan nyata. Namun, peringatan keras dari Teheran dan manuver agresif Washington menunjukkan satu hal jelas Timur Tengah kembali berada di tepi jurang, sementara dunia hanya bisa berharap konflik ini berhenti pada retorika bukan peluru kendali. @dimas

Tags: ancamanASDonald TrumpGeopolitikGlobalInternasionalIranKeteganganKhameneiKrisisMasoud PezeshkianperangPolitikStabilitasTimur Tengah
Next Post
MK Tegas: Kolumnis Bukan Wartawan

MK Tegas: Kolumnis Bukan Wartawan

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mudik Berujung Duka: Satu Keluarga Tewas di Tol Pemalang-Batang, Balita Kritis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.