Tabooo.id: Nasional – Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan peringatan keras kepada Washington. Ia menegaskan bahwa Iran akan menganggap setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebagai deklarasi perang terbuka. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan langkah ekstrem, mulai dari pencopotan hingga pembunuhan Khamenei.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami setara dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran,” tulis Pezeshkian melalui platform X, Minggu (18/1/2026). Pernyataan itu menegaskan garis merah baru dalam hubungan Iran-AS yang terus memburuk.
Pezeshkian juga menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gelombang protes besar di Iran selama dua pekan terakhir. Aksi tersebut dilaporkan menewaskan ribuan demonstran. Menurutnya, tekanan hidup yang dialami rakyat Iran tidak bisa dilepaskan dari sanksi ekonomi berkepanjangan yang dijatuhkan Washington dan sekutunya.
“Jika rakyat Iran hidup dalam kesulitan, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan dan sanksi tidak manusiawi dari pemerintah AS,” ujarnya.
Protes Ekonomi Berubah Menjadi Krisis Politik
Kerusuhan terbaru di Iran pecah pada 28 Desember 2025. Protes bermula dari lonjakan inflasi, nilai mata uang yang anjlok, dan biaya hidup yang semakin berat. Dalam waktu singkat, tuntutan ekonomi itu berkembang menjadi gerakan politik yang menuntut perubahan kekuasaan.
Ketegangan meningkat ketika pemerintah Iran pada 8 Januari 2026 memutus hampir seluruh layanan internet dan telepon. Kebijakan itu memutus jutaan warga dari koneksi global dan mempersempit arus informasi di tengah krisis nasional.
Tekanan Trump dan Serangan yang Nyaris Terjadi
Di sisi lain, Donald Trump memperkeras sikapnya. Dalam wawancara dengan Politico, ia menyebut Khamenei sebagai pemimpin yang “sakit” dan menyerukan berakhirnya kekuasaan yang telah berlangsung hampir 40 tahun. Trump juga mendorong warga Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengambil alih institusi negara.
Pada Selasa (12/1/2026), Trump mengklaim bantuan untuk rakyat Iran sedang disiapkan. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan laporan bahwa Amerika Serikat hampir melancarkan serangan militer.
Menurut laporan Axios, rencana serangan tersebut nyaris dijalankan pada Rabu (13/1/2026). Namun, Trump akhirnya menunda langkah itu setelah mendapat tekanan dari sekutu regional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut memperingatkan bahwa Israel belum siap menghadapi serangan balasan Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman juga meminta Trump menahan diri demi mencegah ketidakstabilan kawasan.
“Situasinya benar-benar sangat dekat,” ujar seorang pejabat AS kepada Axios. Ia menegaskan bahwa perintah serangan pada akhirnya tidak pernah dikeluarkan.
Ancaman Masih Ada, Perang Belum Pecah
Di tengah ketegangan tersebut, Trump pada Jumat lalu mengklaim Teheran telah membatalkan rencana eksekusi terhadap sekitar 800 orang. Salah satunya Erfan Soltani (26), yang disebut sebagai demonstran pertama yang dijatuhi hukuman mati sejak kerusuhan dimulai.
Ancaman perang memang belum berubah menjadi serangan nyata. Namun, peringatan keras dari Teheran dan manuver agresif Washington menunjukkan satu hal jelas Timur Tengah kembali berada di tepi jurang, sementara dunia hanya bisa berharap konflik ini berhenti pada retorika bukan peluru kendali. @dimas




