Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Demo Iran Telan Ribuan Korban, Khamenei Tuduh AS dan Israel Sebagai Dalang

by dimas
Januari 18, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akhirnya membuka angka yang selama ini ditutup rapat. Pada Sabtu (17/1/2026), ia mengakui bahwa gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang mengguncang Iran selama lebih dari dua pekan telah menewaskan ribuan orang. Dalam pernyataannya, Khamenei secara langsung menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik kekerasan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan melalui media pemerintah Iran dan dikutip Al Jazeera. Menurut Khamenei, kerusuhan yang melanda berbagai kota di Iran bukan sekadar protes domestik, melainkan aksi terorganisasi dengan dukungan asing.

“Mereka yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang,” ujar Khamenei.

Pengakuan ini menjadi momen langka. Selama ini, otoritas Iran hanya menyebut korban jiwa dalam jumlah ratusan, termasuk dari kalangan aparat keamanan. Kali ini, angka ribuan muncul langsung dari figur tertinggi negara.

Dari Krisis Ekonomi ke Tuduhan Konspirasi Global

Gelombang protes di Iran pecah sejak 28 Desember 2025. Awalnya, kemarahan publik meledak akibat lonjakan inflasi, kenaikan harga bahan pokok, dan tekanan biaya hidup yang makin tak tertahankan. Namun, seiring waktu, demonstrasi berubah menjadi tantangan terbuka terhadap pemerintahan.

Ini Belum Selesai

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Pemerintah Iran membaca perubahan itu sebagai ancaman serius. Karena itu, narasi pun bergeser. Khamenei menegaskan bahwa aksi protes tersebut telah “dibajak” oleh kelompok kekerasan yang, menurutnya, mendapat sokongan penuh dari luar negeri.

Dalam pidatonya, Khamenei bahkan menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai “kriminal” dan menuduhnya terlibat langsung dalam apa yang ia sebut sebagai pemberontakan anti-Iran.

“Pemberontakan terbaru ini berbeda, karena presiden AS sendiri terlibat secara pribadi,” tambahnya.

Dengan pernyataan itu, Iran kembali menghidupkan narasi lama kekacauan domestik bukan semata kegagalan internal, melainkan hasil rekayasa geopolitik musuh-musuhnya.

Ancaman Balasan dan Pesan ke Dalam Negeri

Meski menuding keterlibatan asing, Khamenei berusaha menarik garis tegas. Ia menegaskan bahwa Iran tidak berniat memicu konflik di luar negeri. Namun, ia juga mengirim peringatan keras bagi siapa pun yang terlibat, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Kami tidak akan menyeret negara ini ke dalam perang. Tetapi kami juga tidak akan membiarkan penjahat domestik atau internasional lolos tanpa hukuman,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus berfungsi ganda: sebagai pesan ke luar negeri dan sebagai sinyal ke dalam negeri bahwa negara masih memegang kendali penuh.

Angka Korban: Versi Negara dan Versi HAM

Jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Teheran melalui sambungan satelit menyebut pidato Khamenei ini menandai perubahan penting. Untuk pertama kalinya, otoritas tertinggi Iran mengakui skala korban secara terbuka.

“Dia akhirnya memberikan gambaran jumlah korban tewas. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Namun, angka resmi tetap kabur. Pemerintah Iran tidak merinci data korban secara detail. Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, memperkirakan sekitar 3.000 orang telah tewas dalam aksi protes tersebut.

Perbedaan angka ini mempertegas satu hal: krisis kepercayaan publik terhadap data resmi negara masih menganga lebar.

Selain korban jiwa, pemerintah Iran juga mengakui telah menangkap sekitar 3.000 orang sejak demonstrasi pecah. Para pengunjuk rasa dituduh melakukan vandalisme terhadap fasilitas publik, narasi yang terus diulang untuk membenarkan penindakan keras aparat.

Internet, Kontrol, dan Upaya Normalisasi

Di tengah tekanan internasional, pemerintah Iran mulai melonggarkan sebagian pembatasan. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa layanan pesan singkat (SMS) mulai dipulihkan secara nasional. Langkah ini menjadi bagian dari pembukaan bertahap akses komunikasi setelah hampir delapan hari pemutusan internet nyaris total.

Meski demikian, pemulihan layanan komunikasi belum serta-merta memulihkan kepercayaan publik. Bagi banyak warga Iran, pengakuan “ribuan korban” justru menegaskan betapa mahal harga protes di tengah krisis ekonomi.

Di saat rakyat turun ke jalan karena harga pangan, negara justru berbicara tentang konspirasi global. Dan di antara dua narasi itu, korban terus berjatuhan sementara dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan lama: apakah ini soal keamanan nasional, atau kegagalan negara membaca jeritan warganya sendiri? @dimas

Tags: GeopolitikGlobalHak Asasi ManusiaKhameneiKrisis GlobalPerang IranPolitik IndonesiaStabilitasTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan: Apa Isi Buku Ini?

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan: Apa Isi Buku Ini?

by jeje
Mei 15, 2026

Sejarah Indonesia sering hadir seperti pertandingan yang hasilnya sudah ditentukan sejak awal. Ada pahlawan, ada pengkhianat. Ada pihak benar, ada...

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

by teguh
Mei 15, 2026

Malam itu kampus di Mataram belum benar-benar ramai. Mahasiswa baru menyiapkan layar ketika suasana berubah mendadak. Petugas keamanan mengawasi proyektor,...

Next Post
Basarnas Lanjutkan Pencarian Pesawat ATR yang Hilang di Maros Pagi Ini

Basarnas Lanjutkan Pencarian Pesawat ATR yang Hilang di Maros Pagi Ini

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id