Tabooo.id: Film – Siapa sangka, horor-komedi bisa jadi obat stres nasional? Di saat hidup makin ribet, harga kebutuhan naik, dan timeline penuh debat, jutaan orang justru memilih antre tiket bioskop buat ketawa bareng hantu pasar malam. Pertanyaannya sederhana kenapa Agak Laen 2 bisa segila ini?
Jawabannya ada di angka dan di kelucuan yang terasa dekat.
Agak Laen 2: Angka yang Bikin Industri Melongo
Sejak tayang perdana pada 27 November 2025, Agak Laen 2 sudah mengumpulkan 9.375.190 penonton hanya dalam 30 hari. Angka itu bukan cuma besar, tapi juga brutal. Film ini bahkan menyalip film pertamanya, Agak Laen (2024), yang meraih 9.126.607 penonton dalam waktu hampir tiga kali lebih lama.
Rumah produksi Imajinari merayakannya dengan gaya khas santai tapi nyentil.
“30 hari tayang, udah 9.375.190 pasukan yang reuni sama hantu pasar malam,” tulis mereka di Instagram.
Bukan sekadar pencapaian box office, ini sudah masuk wilayah fenomena budaya pop.
Nazar Absurd yang Ikut Viral
Kesuksesan ini makin “agak laen” karena janji para pemainnya. Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga sempat bernazar jika jumlah penonton film kedua ini melampaui film pertama, mereka siap mengabdi ke panti jompo.
Dan ya, angka sudah bicara.
“Kalau nanti sudah mengabdi di panti jangan berhenti nonton,” canda mereka dalam video promosi. Humor receh? Bisa jadi. Tapi justru di situlah kekuatannya jujur, nggak sok suci, dan terasa manusiawi.
Mengancam Takhta Film Legendaris
Dengan laju penonton seperti ini, Agak Laen 2 berpotensi menggusur dua raksasa perfilman Indonesia:
KKN di Desa Penari (10.061.033 penonton) dan Jumbo (10.233.002 penonton).
Kalau itu terjadi, sejarah baru tercipta. Bukan film drama berat atau horor serius yang duduk di puncak, tapi horor-komedi absurd yang penuh celetukan dan kekacauan.
Industri film pun seolah mendapat pesan jelas penonton Indonesia ingin hiburan yang dekat, jujur, dan nggak sok pintar.
Cerita Gagal yang Justru Kena
Disutradarai Muhadkly Acho, Agak Laen 2: Menyala Pantiku! mengisahkan kuartet komika yang kini berprofesi sebagai detektif gagal. Mereka mendapat satu kesempatan terakhir menyamar di sebuah panti jompo misterius untuk memburu buronan kasus pembunuhan.
Alih-alih rapi dan keren, penyamaran itu justru memicu rentetan kekacauan. Lansia, rahasia kelam, dan hantu bercampur dalam komedi situasi yang absurd tapi akrab.
Di balik tawa, film ini menyentil hal-hal sederhana kegagalan, usia, rasa takut ditinggalkan, dan keinginan untuk tetap dianggap berguna.
Ketawa Sebagai Bentuk Bertahan Hidup
Kesuksesan Agak Laen 2 terasa relevan dengan kondisi sosial hari ini. Saat tekanan hidup tinggi, orang tak selalu mencari tontonan yang “berat dan bermakna”. Kadang, yang dibutuhkan cuma ketawa tanpa merasa dihakimi.
Film ini tidak menggurui. Ia cuma bilang hidup memang kacau, tapi kita bisa menertawakannya bersama.
Jadi, Sampai Mana Agak Laen 2 Melaju?
Apakah film ini akan menyalip Jumbo dan KKN di Desa Penari? Masih soal waktu. Tapi satu hal sudah pasti Agak Laen 2 bukan sekadar film laris, tapi cermin selera publik hari ini.
Dan sekarang, pertanyaannya buat kamu:
datang ke bioskop karena ceritanya, karena pengen ketawa, atau karena penasaran apakah nazar panti jompo itu benar-benar ditepati? Diskusi dibuka. @dimas





