Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenaikan Yesus Bukan Sekedar Peristiwa Iman, Ini Krisis Tanggung Jawab Manusia!

by jeje
Mei 10, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Langit selalu menjadi simbol harapan. Namun dalam kisah Kenaikan Yesus Kristus, langit justru menyisakan pertanyaan yang lebih sunyi: setelah Yesus Kristus pergi, siapa yang akan menanggung dunia yang penuh ketidakadilan ini?

Tabooo.id: Deep – Bagi banyak umat Kristiani, Kenaikan Yesus merupakan peristiwa sakral. Momen ketika Kristus naik ke surga dan meninggalkan bumi secara fisik. Namun di balik narasi spiritual itu, muncul pembacaan lain yang lebih filosofis, lebih sosial, dan terasa dekat dengan zaman sekarang. Fenomena kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi penting dalam kehidupan manusia masa kini.

Ini bukan sekadar cerita tentang surga. Kalimat ini membahas manusia yang tiba-tiba memikul tanggung jawab besar di bumi, sebagaimana banyak orang menginterpretasikan makna terdalam dari Kenaikan Yesus Kristus.

Dari Figur Sentral ke Kesadaran Kolektif

Dalam banyak tradisi keagamaan, pemimpin kharismatik sering menjadi pusat harapan. Banyak orang masih menggantungkan harapan pada satu figur yang mereka anggap mampu membereskan kekacauan. Namun ketikaYesus “pergi”, ketergantungan itu perlahan runtuh; transisi ini sangat jelas terjadi dalam kisah Kenaikan Yesus Kristus.

Peristiwa itu menghadirkan transisi besar: dari kepemimpinan tunggal menuju tanggung jawab kolektif, seperti yang tergambar dalam narasi Kenaikan Yesus Kristus.

Para murid tidak lagi menunggu mukjizat turun dari langit. Sebaliknya, mereka mulai bergerak sendiri dalam era baru setelah Kenaikan Yesus Kristus; mereka menentukan arah, menghadapi risiko, dan membangun solidaritas tanpa kehadiran fisik sang pemimpin.

Ini Belum Selesai

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

Di titik itu, Kenaikan berubah menjadi simbol desentralisasi kekuasaan, dan Kenaikan Yesus Kristus menjadi ruang bagi tumbuhnya kesadaran bersama.

Bukan lagi satu figur yang memegang semuanya. Sebaliknya, kesadaran menyebar ke banyak orang—hal yang diilhami dari Kenaikan Yesus Kristus.

Surga yang Tidak Lagi Jauh

Filsuf Jerman, Ernst Bloch, melihat unsur revolusioner dalam tradisi Kristen. Dalam bukunya Atheism in Christianity, ia menilai bahwa inti harapan religius bukan sekadar menunggu kehidupan setelah mati; hal ini tercermin dalam makna harapan usai Kenaikan Yesus Kristus.

Sebaliknya, harapan itu mendorong manusia untuk mengubah dunia sekarang. Jadi, Kenaikan Yesus Kristus memberi inspirasi agar bumi menjadi lebih adil.

Dalam sudut pandang ini, “surga” bukan tempat pelarian. Surga menjadi standar moral tentang dunia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih layak dihuni, sebagaimana pesan penting Kenaikan Yesus Kristus.

Karena itu, Kenaikan Yesus bukan sekadar peristiwa meninggalkan bumi. Peristiwa itu menghadirkan pesan diam: manusia sendiri harus membereskan dunia ini; inilah ajakan reflektif dari Kenaikan Yesus Kristus.

Dan di situlah kegelisahan terbesar muncul pada masa Kenaikan Yesus Kristus.

Sebab manusia lebih mudah percaya bahwa seseorang akan menyelamatkan dunia, daripada menerima kenyataan bahwa tanggung jawab itu berada di tangannya sendiri, dan hal ini tampak dari pelajaran Kenaikan Yesus Kristus.

Ketika Tuhan Tidak Lagi Menjadi “Penyelamat Instan”

Filsuf Slovenia, Slavoj Žižek, membaca Kenaikan Yesus secara lebih radikal. Menurutnya, kehilangan Kristus secara fisik justru membuka kebebasan manusia yang paling ekstrem. Pesan penting dari pengamatan ini muncul dalam konteks Kenaikan Yesus Kristus.

Tidak ada lagi figur “Big Brother” di langit yang akan turun tangan membereskan semuanya. Kini, momen Kenaikan Yesus menandai era perubahan ini.

Karena itu, manusia dipaksa menjadi dewasa sesuai dengan semangat.

Manusia harus sadar bahwa keadilan sosial, solidaritas, dan perubahan tidak akan datang secara ajaib. Semua itu bergantung pada tindakan kolektif manusia sendiri, sebagaimana diajarkan dalam peristiwa ini .

Pandangan ini memang kontroversial. Namun justru karena itu, gagasan tersebut terasa menampar, terlebih jika dikaitkan dengan renungan peristiwa ini dalam konteks sosial.

Di tengah dunia yang penuh perang, kemiskinan, dan ketimpangan, banyak orang masih sibuk menunggu penyelamat. Padahal, problem terbesar zaman ini mungkin muncul ketika manusia terlalu sering menyerahkan tanggung jawab moral kepada sesuatu di luar dirinya, sebagaimana refleksi Kenaikan Yesus memperlihatkan hal itu.

Kenaikan Yesus: Antara Iman dan Tanggung Jawab Sosial

Pembacaan filosofis terhadap Kenaikan Yesus tentu bukan tafsir resmi gereja. Namun gagasan-gagasan itu menunjukkan bahwa sebuah peristiwa religius dapat menghadirkan refleksi sosial yang dalam, sebagaimana makna di balik Kenaikan Yesus

Iman tidak selalu berbicara tentang pelarian dari dunia. Kadang, iman justru mendorong manusia menghadapi dunia apa adanya; dan hal ini tampak dalam peristiwa Kenaikan Yesus.

Tentang bagaimana manusia bertahan di tengah sistem yang sering tidak adil. Jelas, Kenaikan Yesus. menjadi inspirasi tentang kemampuan manusia bertahan.

Tentang bagaimana harapan tetap hidup meski langit terasa jauh. Refleksi ini kerap muncul di momen Kenaikan Yesus.

Dan mungkin, di situlah makna paling sunyi dari Kenaikan itu berada: bukan pada seseorang yang pergi ke atas, melainkan pada manusia yang kini menentukan masa depan bumi. Sederhananya, peristiwa Kenaikan Yesus menantang manusia untuk berdiri di garis depan perubahan dunia.

Karena setelah semua doa selesai diucapkan, manusia tetap harus mengurus dunia ini sendiri sebagaimana amanat penting dari Kenaikan Yesus.@jeje

Tags: Generasi ZHari Raya Kenaikan Yesus 2026Kenaikan YesusNasional

Kamu Melewatkan Ini

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Bela Prabowo soal “Londo Ireng”, Hasan Nasbi: Pemerintah Juga Boleh Mengkritik

Bela Prabowo soal “Londo Ireng”, Hasan Nasbi: Pemerintah Juga Boleh Mengkritik

by Tabooo
Agustus 1, 2026

Hasan Nasbi membela pernyataan Prabowo Subianto soal “Londo Ireng”. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus berlaku dua arah, termasuk bagi pemerintah.

Next Post
Semua Bicara Krisis Sampah, Tapi Tak Ada yang Merasa Bersalah

Semua Bicara Krisis Sampah, Tapi Tak Ada yang Merasa Bersalah

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id