Kamis, Juli 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Katanya Rupiah Mau ke Rp15.000, Kok Malah Nyasar ke Rp18.000?

by dimas
Juni 5, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Pemerintah menargetkan rupiah kembali ke Rp15.000 per dolar AS. Namun pasar justru mendorongnya tembus Rp18.000. Salah strategi atau krisis kepercayaan?

Tabooo.id – Pemerintah baru saja melempar target besar.

Rupiah akan kembali ke level Rp15.000 per dolar AS. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan meminta para pemegang dolar segera melepas mata uang Amerika Serikat tersebut.

Pesannya sederhana: jangan terlalu lama menyimpan dolar.

Namun, pasar memberikan respons yang berbeda.

Alih-alih mendekati Rp15.000, rupiah justru menembus Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan itu terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah menyampaikan optimisme besar mengenai penguatan mata uang nasional.

Ini Belum Selesai

Dibalik kata “Ampun, Bos”: Demokrasi atau Feodalisme Politik?

RUU Perampasan Aset: Koruptor Dipenjara, Hartanya Aman?

Kalau ini pertandingan sepak bola, pemerintah menunjuk gawang kanan. Sayangnya, bola justru meluncur ke arah sebaliknya.

Teori Pemerintah Bertemu Kenyataan Pasar

Pemerintah tidak datang dengan tangan kosong.

Melalui aturan baru DHE SDA, eksportir wajib menyimpan devisa hasil ekspor di dalam negeri. Dengan demikian, pasokan dolar di pasar domestik diharapkan meningkat dan tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.

Secara teori, langkah tersebut masuk akal.

Namun, pasar keuangan jarang bergerak hanya karena teori.

Sebaliknya, investor global lebih memperhatikan arah suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, serta risiko investasi di negara berkembang. Karena itu, mereka terus memburu dolar saat ketidakpastian meningkat.

Akibatnya, kebijakan DHE belum mampu menandingi derasnya arus penguatan dolar global.

Grafik Lebih Jujur daripada Pidato

Di ruang konferensi, optimisme memang terdengar meyakinkan.

Akan tetapi, grafik perdagangan sering berbicara lebih jujur daripada pidato pejabat.

Grafik tidak mengenal pencitraan.

Grafik juga tidak membutuhkan narasi optimistis.

Sebaliknya, grafik hanya mencerminkan keputusan ribuan investor yang menaruh uangnya di pasar setiap hari.

Karena itulah, pergerakan rupiah menuju Rp18.000 memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari.

Apakah pasar belum percaya pada strategi pemerintah?

Atau justru tekanan global saat ini terlalu kuat untuk dilawan hanya dengan instrumen DHE?

Yang Sedang Turun Bukan Hanya Rupiah

Masalah terbesar sebenarnya bukan terletak pada angka Rp18.000.

Masalah yang lebih serius muncul pada sisi kepercayaan.

Pemerintah membangun ekspektasi tinggi ketika berbicara tentang target Rp15.000. Di sisi lain, pasar langsung menguji keyakinan tersebut melalui transaksi nyata.

Semakin tinggi harapan yang muncul, semakin besar pula kekecewaan jika hasilnya bergerak ke arah berbeda.

Karena itu, isu ini tidak lagi sekadar soal kurs.

Kini yang menjadi taruhan adalah kredibilitas.

Dalam dunia keuangan, kepercayaan sering memiliki nilai yang lebih mahal daripada cadangan devisa.

Pasar Mengirim Pesan yang Dingin

Tidak ada investor yang menggelar konferensi pers.

Tidak ada trader yang berdiri di depan kamera untuk menyampaikan kritik.

Namun, pasar memiliki bahasa sendiri.

Bahasa itu muncul dalam bentuk grafik, arus modal, dan pergerakan kurs.

Saat rupiah menembus Rp18.000 setelah target Rp15.000 digaungkan, pasar seolah mengirim pesan singkat yang sangat jelas:

“Kami mendengar. Namun, kami belum yakin.”

Dampaknya Buat Kamu

Sementara para pejabat, ekonom, dan pelaku pasar memperdebatkan arah rupiah, masyarakat menghadapi dampak yang jauh lebih nyata.

Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga barang impor.

Selain itu, biaya produksi industri berpotensi meningkat. Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat merambat ke harga kebutuhan sehari-hari.

Akibatnya, daya beli masyarakat kembali menghadapi ujian.

Ironisnya, sebagian besar warga tidak pernah membeli dolar. Meski begitu, mereka tetap merasakan dampak dari setiap pelemahan rupiah.

Karena itu, pertarungan kurs bukan sekadar urusan trader dan bankir.

Pertarungan ini menyangkut isi dompet jutaan orang.

Jadi, pertanyaannya kini bukan lagi apakah rupiah bisa kembali ke Rp15.000.

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah jika target Rp15.000 belum sempat terlihat, mengapa Rp18.000 justru datang lebih dulu? @dimas

Tags: Dolar Amerika SerikatEkonomi IndonesiaKepercayaan PasarNilai Tukar RupiahRupiah MelemahTekanan Ekonomi Global

Kamu Melewatkan Ini

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

by dimas
Juli 21, 2026

Nasionalisme atau kapitalisme negara? Arah baru ekonomi Indonesia akan ditentukan oleh kualitas institusi, kepastian hukum, dan keberpihakan kebijakan kepada rakyat....

Utang RI Tembus Rp8.030 Triliun: Pertumbuhan atau Beban?

Utang RI Tembus Rp8.030 Triliun: Pertumbuhan atau Beban?

by dimas
Juli 18, 2026

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri RI mencapai Rp8.030 triliun. Benarkah kenaikan utang mampu mendorong pertumbuhan atau justru menjadi beban...

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Next Post
Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id