Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Utang RI Tembus Rp8.030 Triliun: Pertumbuhan atau Beban?

by dimas
Juli 18, 2026
in Bisnis, Reality
A A
Home Reality Bisnis
Bank Indonesia mencatat utang luar negeri RI mencapai Rp8.030 triliun. Benarkah kenaikan utang mampu mendorong pertumbuhan atau justru menjadi beban ekonomi?

Tabooo.id: Reality – Utang negara selalu muncul dalam laporan ekonomi sebagai deretan angka. Namun, setiap angka membawa konsekuensi bagi masyarakat. Pemerintah membutuhkan pinjaman untuk mempercepat pembangunan. Karena itu, pemerintah wajib memastikan setiap rupiah benar-benar menghasilkan manfaat, bukan hanya menambah beban generasi mendatang.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030,35 triliun dengan kurs Rp18.069 per dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju itu lebih tinggi daripada pertumbuhan 0,6 persen pada April 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan sektor publik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan utang luar negeri Indonesia.

“Perkembangan posisi ULN Mei 2026 tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik. ULN pemerintah tetap terjaga melalui pengelolaan yang pruden dan kredibel, sehingga terus mendukung belanja prioritas pemerintah serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya.

Pemerintah Menambah Pembiayaan untuk Program Prioritas

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar. Nilai itu tumbuh 9,8 persen secara tahunan. Pada April 2026, pertumbuhannya hanya mencapai 8,6 persen.

BI menjelaskan bahwa arus modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) domestik ikut mendorong kenaikan tersebut. Investor tetap membeli SBN karena mereka masih percaya pada prospek ekonomi Indonesia meski dunia menghadapi ketidakpastian.

Ini Belum Selesai

Listyo Sigit dan Dua Jenderal Ditahan dalam Kasus Penyadapan Presiden

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Pemerintah memakai pembiayaan itu untuk membiayai layanan kesehatan, pendidikan, konstruksi, administrasi pemerintahan, pertahanan, jaminan sosial wajib, jasa keuangan, serta penyediaan listrik dan gas.

Ramdan menegaskan pemerintah tidak memakai utang hanya untuk menutup defisit anggaran.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung belanja pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan utang.”

Dunia Usaha Mulai Menahan Laju Penurunan Utang

BI juga mencatat utang luar negeri swasta mencapai US$194,5 miliar. Nilainya masih turun 0,9 persen. Namun, penurunannya lebih kecil daripada April yang mencapai 1,2 persen.

Lembaga keuangan mencatat kontraksi sebesar 2,2 persen. Sementara itu, perusahaan nonkeuangan mulai memperbaiki kinerjanya meski masih mencatat penurunan tipis sebesar 0,6 persen.

Industri pengolahan, jasa keuangan, penyediaan listrik dan gas, serta pertambangan menyumbang sekitar 80 persen dari total utang luar negeri swasta. Pelaku usaha juga lebih banyak memilih pinjaman jangka panjang. Jenis pinjaman ini mencapai 76,9 persen dari total utang swasta.

Angka Utang Masih Terkendali, Hasilnya Harus Terbukti

Bank Indonesia menilai kondisi utang Indonesia masih sehat. Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada 29,9 persen. Pinjaman jangka panjang menguasai 83,9 persen dari total utang luar negeri.

“Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sebesar 29,9 persen serta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 83,9 persen dari total ULN,” kata Ramdan.

Meski begitu, masyarakat tidak cukup hanya melihat besarnya utang. Masyarakat juga perlu menilai hasil yang lahir dari penggunaan dana tersebut.

Pemerintah harus mengubah pinjaman menjadi jalan yang lebih baik, sekolah yang lebih layak, layanan kesehatan yang lebih cepat, serta lapangan kerja yang lebih luas. Langkah itu akan memperkuat produktivitas nasional sekaligus memperbesar kapasitas ekonomi Indonesia.

Sebaliknya, pengelolaan yang lemah hanya akan mempersempit ruang fiskal. Kondisi itu juga akan mengurangi kemampuan pemerintah membiayai kebutuhan publik pada masa depan.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak terletak pada besarnya utang. Ukuran yang sesungguhnya terletak pada kemampuan pemerintah mengubah pinjaman menjadi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Itulah alasan publik berhak mengawasi setiap tambahan utang yang diambil negara. @dimas

Tags: APBNBank IndonesiaEkonomi IndonesiaKeuangan NegaraPertumbuhan EkonomiUtang Luar Negeri

Kamu Melewatkan Ini

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

by dimas
Oktober 21, 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, ekonomi tumbuh di kisaran 5 persen. Namun, pekerjaan layak, daya beli kelas menengah, dan ketahanan energi masih...

Wantimpres: Kebutuhan Negara atau Pemborosan Anggaran?

Wantimpres: Kebutuhan Negara atau Pemborosan Anggaran?

by dimas
Oktober 21, 2026

Wantimpres beranggotakan 26 orang memicu pertanyaan tentang manfaat, efisiensi anggaran, dan batas kewenangan Presiden. Di tengah sorotan APBN, publik menanti...

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

by teguh
Oktober 17, 2026

Ada satu pertanyaan yang perlu pemerintah jawab sebelum memperluas fungsi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih siapa yang menjamin keamanan gaji ASN...

Next Post
Kabinet Bayangan: Saat Rakyat Mengawasi Kekuasaan

Kabinet Bayangan: Saat Rakyat Mengawasi Kekuasaan

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id