Minggu, Juli 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Utang RI Tembus Rp8.030 Triliun: Pertumbuhan atau Beban?

by dimas
Juli 18, 2026
in Bisnis, Reality
A A
Home Reality Bisnis
Share on FacebookShare on Twitter
Bank Indonesia mencatat utang luar negeri RI mencapai Rp8.030 triliun. Benarkah kenaikan utang mampu mendorong pertumbuhan atau justru menjadi beban ekonomi?

Tabooo.id: Reality – Utang negara selalu muncul dalam laporan ekonomi sebagai deretan angka. Namun, setiap angka membawa konsekuensi bagi masyarakat. Pemerintah membutuhkan pinjaman untuk mempercepat pembangunan. Karena itu, pemerintah wajib memastikan setiap rupiah benar-benar menghasilkan manfaat, bukan hanya menambah beban generasi mendatang.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030,35 triliun dengan kurs Rp18.069 per dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju itu lebih tinggi daripada pertumbuhan 0,6 persen pada April 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan sektor publik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan utang luar negeri Indonesia.

“Perkembangan posisi ULN Mei 2026 tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik. ULN pemerintah tetap terjaga melalui pengelolaan yang pruden dan kredibel, sehingga terus mendukung belanja prioritas pemerintah serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya.

Pemerintah Menambah Pembiayaan untuk Program Prioritas

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar. Nilai itu tumbuh 9,8 persen secara tahunan. Pada April 2026, pertumbuhannya hanya mencapai 8,6 persen.

BI menjelaskan bahwa arus modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) domestik ikut mendorong kenaikan tersebut. Investor tetap membeli SBN karena mereka masih percaya pada prospek ekonomi Indonesia meski dunia menghadapi ketidakpastian.

Ini Belum Selesai

10 HP Xiaomi Masuk Daftar EOL: Masih Bisa Dipakai, Tapi Sampai Kapan Aman?

Prabowo Bidik Efisiensi Pertahanan: Kesiapan TNI Dipertaruhkan?

Pemerintah memakai pembiayaan itu untuk membiayai layanan kesehatan, pendidikan, konstruksi, administrasi pemerintahan, pertahanan, jaminan sosial wajib, jasa keuangan, serta penyediaan listrik dan gas.

Ramdan menegaskan pemerintah tidak memakai utang hanya untuk menutup defisit anggaran.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung belanja pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan utang.”

Dunia Usaha Mulai Menahan Laju Penurunan Utang

BI juga mencatat utang luar negeri swasta mencapai US$194,5 miliar. Nilainya masih turun 0,9 persen. Namun, penurunannya lebih kecil daripada April yang mencapai 1,2 persen.

Lembaga keuangan mencatat kontraksi sebesar 2,2 persen. Sementara itu, perusahaan nonkeuangan mulai memperbaiki kinerjanya meski masih mencatat penurunan tipis sebesar 0,6 persen.

Industri pengolahan, jasa keuangan, penyediaan listrik dan gas, serta pertambangan menyumbang sekitar 80 persen dari total utang luar negeri swasta. Pelaku usaha juga lebih banyak memilih pinjaman jangka panjang. Jenis pinjaman ini mencapai 76,9 persen dari total utang swasta.

Angka Utang Masih Terkendali, Hasilnya Harus Terbukti

Bank Indonesia menilai kondisi utang Indonesia masih sehat. Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada 29,9 persen. Pinjaman jangka panjang menguasai 83,9 persen dari total utang luar negeri.

“Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sebesar 29,9 persen serta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 83,9 persen dari total ULN,” kata Ramdan.

Meski begitu, masyarakat tidak cukup hanya melihat besarnya utang. Masyarakat juga perlu menilai hasil yang lahir dari penggunaan dana tersebut.

Pemerintah harus mengubah pinjaman menjadi jalan yang lebih baik, sekolah yang lebih layak, layanan kesehatan yang lebih cepat, serta lapangan kerja yang lebih luas. Langkah itu akan memperkuat produktivitas nasional sekaligus memperbesar kapasitas ekonomi Indonesia.

Sebaliknya, pengelolaan yang lemah hanya akan mempersempit ruang fiskal. Kondisi itu juga akan mengurangi kemampuan pemerintah membiayai kebutuhan publik pada masa depan.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak terletak pada besarnya utang. Ukuran yang sesungguhnya terletak pada kemampuan pemerintah mengubah pinjaman menjadi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Itulah alasan publik berhak mengawasi setiap tambahan utang yang diambil negara. @dimas

Tags: APBNBank IndonesiaEkonomi IndonesiaKeuangan NegaraPertumbuhan EkonomiUtang Luar Negeri

Kamu Melewatkan Ini

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

by dimas
Juli 17, 2026

Gelombang PHK yang kembali meningkat memicu memudarnya rasa aman pekerja. Di tengah sulitnya mencari kerja, ketidakpastian pasar tenaga kerja kian...

Blok Masela Bergerak Setelah 28 Tahun. Yang Hilang Bukan Sekadar Waktu

Blok Masela Bergerak Setelah 28 Tahun. Yang Hilang Bukan Sekadar Waktu

by teguh
Juli 17, 2026

Selama 28 tahun, Lapangan Abadi Blok Masela lebih sering menjadi bahan rapat daripada sumber energi. Sementara Indonesia sibuk memperdebatkan lokasi...

Next Post
Kabinet Bayangan: Saat Rakyat Mengawasi Kekuasaan

Kabinet Bayangan: Saat Rakyat Mengawasi Kekuasaan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id