Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu bangun pagi, buka timeline, lalu berharap melihat berita biasa. Namun, yang muncul justru episode baru kasus narkoba aparat. Akhirnya, publik hanya bisa menghela napas sambil berkata, “Oh, rilis season baru lagi.”
Kali ini, sorotan kembali mengarah ke institusi Polri. Sementara itu, kepercayaan publik lagi-lagi harus diuji oleh realita yang terasa seperti deja vu nasional.
Awalnya Penegakan Hukum, Lalu Berubah Jadi Plot Twist Nasional
Kasus terbaru menyeret nama Didik Putra Kuncoro. Penyidik menetapkannya sebagai tersangka dugaan peredaran narkoba setelah menemukan koper berisi barang terlarang di rumah seorang anggota polisi di Tangerang.
Selain itu, penyidik juga menemukan beberapa jenis narkotika dalam jumlah yang tidak kecil. Artinya, ini bukan sekadar konsumsi personal. Ini sudah masuk level distribusi serius.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, Eko Hadi Santoso, menegaskan bahwa proses hukum berjalan setelah gelar perkara selesai. Dengan kata lain, kasus ini bukan rumor internal, tetapi sudah masuk jalur hukum formal.
Di Satu Sisi Oknum, Di Sisi Lain Sistem Dipertanyakan
Kasus ini muncul tidak lama setelah pengungkapan kasus lain di Bima. Akibatnya, publik mulai melihat pola berulang.
Di satu sisi, institusi bergerak melakukan penindakan.
Di sisi lain, publik bertanya kenapa kasus serupa terus muncul.
Kemudian, diskusi publik bergeser dari “siapa pelakunya” menjadi “kenapa bisa terus terjadi”. Dan di era internet, pertanyaan seperti ini menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Uang Cepat, Godaan Besar, Risiko Super Tinggi
Ketua Indonesia Police Watch, Sugeng Teguh Santoso, menyoroti gaya hidup hedon sebagai pintu masuk masalah.
Menurutnya, peredaran narkoba melibatkan uang besar dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, oknum yang tergoda bisa melihat jalur ini sebagai shortcut kekayaan.
Padahal, shortcut seperti ini hampir selalu berakhir dengan dua kemungkinan penjara atau kehancuran karier.
Publik Masih Ingat Trauma Kasus Besar Sebelumnya
Kasus lama seperti yang menjerat Teddy Minahasa masih membekas kuat.
Akibatnya, setiap kasus baru langsung dibandingkan dengan kasus lama.
Bahkan, sebagian publik merasa kepercayaan institusi seperti saldo e-wallet yang terus terpotong, tapi jarang di top up.
Kenapa Kasus Seperti Ini Terasa Sulit Hilang?
Pertama, bisnis narkoba punya margin keuntungan besar.
Kedua, jika aparat ikut bermain, jaringan kriminal bisa mendapat perlindungan.
Selain itu, kasus sering baru terbongkar jika ada konflik internal atau bocoran orang dalam.
Dengan demikian, pemberantasan narkoba tidak hanya soal hukum. Ini juga soal integritas sistem.
Negara Perang Lawan Narkoba, Publik Malah Nonton Drama Sistem
Indonesia punya perang melawan narkoba. Hukumnya keras. Kampanyenya serius.
Namun demikian, setiap kasus aparat muncul, publik seperti menonton reality show tanpa tombol skip.
Dan sekarang, mungkin pertanyaan publik bukan lagi, “Bagaimana kasus ini bisa terjadi?”
Melainkan, “Kenapa cerita seperti ini selalu punya episode baru?” @dimas




