Tabooo.id: Global – Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyebut rezim Iran sedang memasuki hari-hari terakhirnya, di tengah gelombang unjuk rasa yang telah menewaskan ratusan orang. Jika rezim hanya mempertahankan kekuasaannya dengan kekerasan, maka rezim itu sebenarnya sudah berakhir,” tegas Merz, Selasa (13/1/2026), saat kunjungan resmi ke India, dikutip AFP.
Merz mengecam kekerasan aparat keamanan Iran terhadap demonstran sebagai tindakan brutal dan tidak proporsional. Ia mendesak pemimpin Iran untuk melindungi rakyat, bukan mengancam mereka, sambil menegaskan bahwa tindakan keras pemerintah menunjukkan kelemahan, bukan kekuatan.
Pada 28 Desember lalu, para demonstran memulai gelombang protes di area Grand Bazaar Teheran untuk menuntut perbaikan kondisi ekonomi dan menyoroti depresiasi tajam mata uang Rial Iran. Protes ini kemudian menyebar ke berbagai kota, meluas menjadi gerakan menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak 1979.
Data Human Rights Activists News Agency (HRANA) menyebutkan sedikitnya 646 orang tewas, termasuk 512 demonstran dan 134 anggota aparat keamanan. Lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka, dan aparat menahan sekitar 10.700 orang dalam dua pekan terakhir. Pemerintah Iran belum merilis angka resmi.
Ketegangan diplomatik meningkat. Iran memanggil diplomat Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris untuk memprotes dukungan mereka terhadap demonstran. Otoritas Iran memperlihatkan video kerusakan yang ditimbulkan para ‘perusuh’ dan menuntut agar negara-negara Eropa menarik pernyataan resmi mereka.
Dampak bagi masyarakat: demonstran menghadapi risiko tinggi kekerasan dan penahanan, sementara tekanan internasional bisa memaksa rezim mengubah kebijakan.
Negara-negara Eropa yang menunjukkan solidaritas, aktivis HAM, dan masyarakat global yang menyoroti pelanggaran. Rakyat Iran yang menuntut keadilan, anggota aparat yang terlibat kekerasan, dan pemerintah Iran yang menghadapi tekanan domestik maupun internasional.
Refleksi ringan tapi pedas: sebuah rezim bisa bertahan lama, tapi ketika rakyat mulai menuntut haknya, bahkan tembok Teheran pun bisa terdengar berderak. (red)




