Tabooo.id: Sports – Ring MMA sering melahirkan cerita tentang pukulan keras, kemenangan dramatis, dan air mata. Namun kisah Viona Amalia Adinda Putri menghadirkan sesuatu yang lebih dalam keberanian untuk berdiri, bahkan ketika pertarungan tidak terjadi di atas ring.
Atlet bela diri asal Ngawi, Jawa Timur ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai petarung tangguh. Ia mengumpulkan prestasi di cabang kickboxing dan mixed martial arts (MMA). Kini publik tidak hanya membicarakan medali yang ia menangkan. Publik juga menyoroti keberaniannya membuka dugaan pelecehan seksual yang ia alami di lingkungan olahraga.
Petarung Muda yang Menggetarkan Dunia
Karier Viona melesat sejak usia muda. Petarung kelahiran 25 Juni 2001 itu membawa pulang dua medali dari ajang GAMMA World Mixed Martial Arts Championships 2023 di Bangkok, Thailand.
Dalam kejuaraan dunia tersebut, Viona memenangkan medali emas dan perak untuk Indonesia. Ia merebut emas di kelas 47,6 kg Female Striking MMA setelah mengalahkan petarung China, Gao Huan Jun, lewat kemenangan angka mutlak.
Kemenangan itu langsung mengangkat namanya di panggung MMA internasional. Banyak pengamat mulai memasukkan Viona ke daftar atlet putri Indonesia yang berpotensi besar di dunia bela diri.
Prestasinya terus berlanjut di level nasional. Pada Pekan Olahraga Nasional XXI Aceh–Sumatera Utara 2024, Viona kembali menunjukkan kualitasnya. Ia memenangkan medali emas kategori Full Contact -48 kg Putri.
Kemenangan tersebut juga membawa sejarah baru bagi kickboxing Jawa Timur. Untuk pertama kalinya, atlet provinsi tersebut meraih emas pada kategori itu di ajang PON.
Ketika Pertarungan Berpindah ke Luar Arena
Namun perjalanan seorang atlet tidak selalu berisi sorak kemenangan.
Viona akhirnya memutuskan membuka pengalaman pahit yang ia simpan selama bertahun-tahun. Ia mengaku mengalami dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang pelatih sekaligus pejabat organisasi olahraga berinisial WPC.
Melalui unggahan di media sosial, Viona menjelaskan alasan ia lama menyimpan cerita tersebut.
“Aku memendam kejadian ini sejak lama. Aku takut bersuara karena dia adalah Ketua, dan aku hanyalah seorang atlet yang seharusnya fokus untuk juara,” tulisnya.
Viona lebih dulu menyampaikan cerita itu kepada manajer tim nasional kickboxing pada 2024. Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia akhirnya melaporkan kasus tersebut ke kepolisian pada Januari 2025.
Saat ini Polda Jawa Timur menangani kasus tersebut. Pada Februari 2026, penyidik menetapkan WPC sebagai tersangka dalam dugaan kekerasan seksual.
Menurut keterangan polisi, dugaan peristiwa itu terjadi di beberapa lokasi, termasuk di Jombang, Ngawi, dan Bali. Penyidik menduga tersangka memanfaatkan kedekatan dengan korban serta posisinya dalam organisasi olahraga.
Lebih dari Sekadar Juara
Cerita Viona kini memiliki makna yang lebih luas bagi dunia olahraga Indonesia.
Publik tidak hanya melihatnya sebagai atlet berprestasi. Banyak orang mulai melihatnya sebagai simbol keberanian bagi korban lain yang mungkin mengalami hal serupa.
Viona sendiri memahami bahwa langkah tersebut tidak mudah. Namun ia percaya kebenaran harus terdengar.
“Keberanian itu memang sulit, tapi kebenaran harus didengar. Aku ingin menunjukkan bahwa prestasi dan keberanian bisa berjalan bersama,” ujarnya.
Di dalam ring, seorang petarung menghadapi lawan dengan teknik dan kekuatan. Di luar ring, pertarungan sering terasa jauh lebih berat.
Viona sudah membuktikan satu hal penting seorang juara tidak hanya lahir dari kemenangan, tetapi juga dari keberanian untuk melawan ketakutan. @teguh




