Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

JAFF Market 2025: Ketika Jogja Jadi “Pusat Semesta” Perfilman Asia

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Ada satu hal lucu tetapi nyata tentang dunia film Indonesia. Ketika kota lain sibuk membangun gedung bioskop baru, Jogja justru membangun ekosistem. Setiap kali November tiba, industri film seolah punya GPS bawaan yang selalu mengarah ke Yogyakarta.

Tahun ini, JAFF Market 2025 kembali mendarat di Jogja Expo Center. Pada Sabtu 29 November, JEC berubah menjadi semacam “Comic Con” bagi insan film. Ruang besar itu penuh booth, penuh badge, dan penuh orang sibuk yang tetap sempat berfoto untuk Instagram.

Lebih dari 114 exhibitor dan 1500 profesional film memadati area. Produser, distributor, lembaga perfilman, hingga studio kreatif dari Asia, Eropa, dan Amerika berbaur dalam satu ruang yang terasa seperti versi industri film dari Avengers Endgame. Semua universe menumpuk dalam satu titik.

JAFF Market 2025: Ketika Jogja Jadi “Pusat Semesta” Perfilman Asia
Antusias Pengunjung dalam mengikuti acara JAFF Market 2025.

Sebagai bagian dari perayaan 20 tahun JAFF, tim Market memilih untuk menambah energi. Enam agenda besar digelar sekaligus, mulai dari Future Project, Content Market, Talent Day, Market Conference, Market Screening, hingga kolaborasi Indonesia-France Film Lab x MTN Lab.

Market Director JAFF Market, Linda Gozali, terdengar optimistis.

Ini Belum Selesai

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

“Industri film nasional sedang berada dalam performa sangat positif,” ujarnya. Ia kemudian menegaskan bahwa partisipasi internasional yang kuat menunjukkan posisi Indonesia dan Asia Tenggara yang kini dipandang sebagai pusat kreativitas, bukan sekadar pasar.

Jika disederhanakan, Indonesia tidak hanya membeli film. Indonesia membuat film. Dan dunia mulai memperhatikannya.

Jakarta Ingin Ikut dan Ego Kota yang Menggemaskan

Pembukaan JAFF Market 2025 dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Ahmad Mahendra, Sultan Baktiar Najamudin, dan figur yang paling menarik perhatian, Rano Karno.

Wakil Gubernur DKI Jakarta itu berbicara tanpa basa-basi.
“Kami akan menyalin format JAFF untuk Jakarta. Kota ini akan kami desain menjadi kota sinema.”

Pernyataan tersebut terasa seperti dialog film politik versi ramah. Ada nada bangga, ada dorongan ingin berkontribusi, dan tentu ada pengakuan tersirat bahwa Jogja sudah lebih dulu memimpin.

Situasi ini menarik karena kompetisi antarkota justru bisa mendorong industri film bergerak lebih cepat. Jogja memiliki vibrasi kreatif yang kuat, komunitas yang solid, dan tradisi festival yang panjang. Sementara itu, Jakarta memegang sumber daya besar dan pasar paling luas di Indonesia. Ketika dua kota ini berkolaborasi, bukan tidak mungkin ekosistem film kita naik kelas.

Jogja dan Imajinasi yang Berubah Menjadi Industri

Booth JAFF Market tahun ini menampilkan kekuatan kreatif Indonesia dalam wujud paling jelas. Ada Visinema yang terus mendorong standar film lokal, Imajinari dengan basis penggemarnya, serta Base Entertainment, Miles Films, dan Maxstream Studios.

Dari luar negeri hadir nama-nama besar seperti KOFIC, FINAS, AFF, Nikkatsu, Beta Group, dan Sony Pictures. Semuanya membawa energi serupa bahwa film Asia Tenggara sedang naik daun dan Jogja menjadi titik pertemuan yang tepat.

Dulu festival film sering dianggap sebagai acara komunitas. Kini, JAFF Market berubah menjadi ruang transaksi, ruang pitching, ruang riset penonton, serta ruang bertemu antarnegara sebelum sebuah film lahir.

Hiburan, Bisnis, dan Realita yang Menyentil

Yang membuat JAFF Market menarik adalah kemampuannya menampilkan bahwa hiburan tidak berdiri sendiri. Di balik satu film viral di TikTok, ada ratusan pekerja yang menopang produksinya. Di balik festival yang meriah, ada industri yang ingin berkembang.

Namun ada sisi satir yang selalu muncul. Para profesional film dari berbagai negara datang membawa proyek besar, tetapi perhatian publik sering berfokus pada satu hal: siapa aktor yang hadir. Begitulah hiburan bekerja. Estetika sering kalah oleh pesona selebritas.

Jogja, Tetaplah Jadi Rumah Cerita

JAFF Market 2025 akan ditutup pada Senin 1 Desember. Rumah produksi, aktor, aktris, dan tentu saja hype akan hadir lagi.

Namun di balik keramaian itu, terdapat sesuatu yang lebih penting. Jogja mengingatkan bahwa film bukan hanya tontonan. Ia adalah ruang temu antara ide, pasar, dan mimpi.

Mungkin karena itulah setiap tahun industri film selalu kembali ke kota ini. Tanpa perlu undangan khusus, Jogja terasa seperti tempat pulang bagi cerita-cerita yang masih mencari bentuknya. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Starbucks Global Pangkas Gerai, Lalu Indonesia?

Starbucks Global Pangkas Gerai, Lalu Indonesia?

by Waras
Oktober 21, 2026

Starbucks mulai memangkas gerai di pasar global yang dinilai kurang menguntungkan. Di tengah perubahan strategi perusahaan induk, pasar domestik punya...

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Demo DPRD DIY Dua Kali Ricuh

Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran di DPRD DIY Diwarnai Kericuhan

by teguh
Oktober 20, 2026

Dua tahun Prabowo–Gibran diwarnai demonstrasi yang memanas di Yogyakarta, Selasa 20/10/2026. Berdasarkan pantauan langsung tim Tabooo.id, kericuhan terjadi dua kali...

Aksi Mahasiswa di Yogyakarta: Gedung Dewan Terbuka, Jawaban Kebijakan Masih Dinanti

Aksi Mahasiswa di Yogyakarta: Gedung Dewan Terbuka, Jawaban Kebijakan Masih Dinanti

by teguh
Oktober 20, 2026

Gedung wakil rakyat kembali menjadi tempat aksi mahasiswa menyuarakan kegelisahan. Sejumlah kelompok mahasiswa mendatangi Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),...

Next Post
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id