Tabooo.id: Bisnis – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (18/2/2026) pagi dengan nada optimistis. Indeks utama Bursa Efek Indonesia itu naik 23,54 poin atau 0,29 persen dan parkir di level 8.235,81. Penguatan ini memberi sinyal kepercayaan diri, meskipun sebagian besar investor masih memilih bersikap hati-hati.
Sentimen positif juga menyentuh saham unggulan. Indeks LQ45 yang berisi perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar ikut terdorong naik 1,87 poin atau 0,23 persen ke posisi 831,54. Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa minat beli tetap terjaga, walau pasar belum sepenuhnya berani mengambil risiko besar.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai tren hari ini masih berada di jalur positif. Ia memperkirakan pergerakan IHSG akan berada di kisaran 8.150 hingga 8.300. Proyeksi itu menunjukkan ruang penguatan masih tersedia, tetapi pergerakan tetap bergantung pada sentimen kebijakan moneter.
Menanti Keputusan BI, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas
Perhatian investor kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Februari 2026. Forum tersebut akan menentukan arah suku bunga acuan yang menjadi fondasi kebijakan moneter nasional.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan, terutama untuk melindungi nilai tukar rupiah dari tekanan global.
Kebijakan tersebut bukan sekadar urusan teknis perbankan. Dunia usaha sangat bergantung pada suku bunga untuk menentukan ekspansi. Kredit yang mahal dapat menahan pertumbuhan bisnis, sementara bunga yang stabil memberi ruang bernapas bagi sektor riil. Pada akhirnya, keputusan bank sentral ikut menentukan peluang kerja, daya beli, hingga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Karena itu, pasar saham bergerak dengan penuh perhitungan. Setiap investor memahami bahwa satu keputusan dari Bank Indonesia dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.
Inflasi Amerika Turun, Modal Global Bersiap Bergerak
Dari luar negeri, kabar yang muncul justru memberi dorongan optimisme. Inflasi Amerika Serikat menunjukkan tren penurunan. Indeks harga konsumen tercatat sebesar 2,4 persen secara tahunan pada Januari 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,7 persen dan juga melampaui ekspektasi pasar.
Perlambatan inflasi memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Harapan ini langsung memengaruhi psikologi investor global.
Ketika bunga di Amerika turun, dana investasi biasanya mengalir ke negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Indonesia menjadi salah satu tujuan potensial. Arus modal asing semacam itu dapat mengangkat pasar saham sekaligus memperkuat rupiah.
Meski demikian, investor belum sepenuhnya bertindak agresif. Mereka masih menunggu konfirmasi dari risalah Federal Open Market Committee yang akan memberikan gambaran arah kebijakan The Fed ke depan.
Bursa Dunia Menguat, Asia Mengikuti Irama Optimisme
Gelombang optimisme terlihat jelas di berbagai bursa global. Pasar saham Eropa menutup perdagangan dengan penguatan merata. Indeks Euro Stoxx 50 naik 0,78 persen, sementara FTSE 100 Inggris bertambah 0,79 persen. Indeks DAX Jerman meningkat 0,80 persen dan CAC Prancis menguat 0,54 persen.
Arah serupa muncul di Wall Street. Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,07 persen ke level 49.533,19. S&P 500 bertambah 0,10 persen menjadi 6.843,22. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,14 persen dan ditutup di posisi 22.578,38.
Kawasan Asia tidak ketinggalan merespons. Indeks Nikkei Jepang melonjak 651,40 poin atau 1,15 persen ke posisi 57.217,90. Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor regional menyambut positif perkembangan global.
Sebagian bursa Asia memang belum beroperasi penuh. Pasar saham di Shanghai, Hong Kong, dan Singapura masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek. Kondisi tersebut membuat aktivitas transaksi regional belum sepenuhnya ramai.
Di Balik Layar Hijau, Kewaspadaan Masih Terasa
Kenaikan IHSG memberi harapan, tetapi tidak otomatis menghapus kehati-hatian. Banyak investor memilih menunggu kejelasan sebelum mengambil langkah besar.
Bagi masyarakat umum, pergerakan indeks mungkin hanya terlihat sebagai angka di layar. Namun, dampaknya jauh lebih luas. Nilai dana pensiun, investasi, hingga stabilitas sektor keuangan ikut bergantung pada kondisi pasar.
Hari ini, IHSG memang bergerak naik. Optimisme terlihat, tetapi keberanian belum sepenuhnya kembali. Pasar masih berdiri di persimpangan, menunggu kepastian arah.
Sebab, di dunia investasi, harapan selalu bergerak lebih cepat daripada keputusan dan kepastian selalu datang terakhir. @dimas




