Setiap pagi, jutaan anak muda Indonesia bangun dengan satu ketakutan yang sama: takut tertinggal. Takut kalah produktif. Takut gagal sukses. Bahkan, mereka takut hidupnya tidak pernah benar-benar “jadi apa-apa”. Masalahnya, mereka hidup di sistem yang terus meminta adaptasi tanpa pernah memberi kepastian.
Tabooo.id: Dulu, negara menjanjikan pendidikan sebagai tangga mobilitas sosial.
Hari ini, banyak lulusan justru masuk ke dunia kerja yang fleksibel secara istilah, tapi rapuh secara kenyataan.
Kerja kontrak. Freelance. Gig economy. Kemitraan digital.
Kedengarannya modern. Namun, pada akhirnya banyak dari sistem ini justru memindahkan risiko ekonomi langsung ke individu.
Seperti pekerja transportasi online. Mereka harus menanggung:
- bensin
- kendaraan
- risiko kecelakaan
- jam kerja panjang
- ketidakpastian algoritma
Sementara pihak platform tetap mengambil keuntungan dari setiap transaksi.
Kapitalisme Modern dan Beban yang Dipindahkan ke Individu
Ini bukan sekadar perubahan model kerja.
Ini transformasi besar tentang bagaimana kapitalisme modern bekerja.
Negara perlahan mundur dari perlindungan sosial. Korporasi mengurangi tanggung jawab. Dan sistem memaksa individu menjadi “wirausahawan bagi dirinya sendiri”.
Kalau gagal? Sistem tidak akan menyalahkan struktur.
Sistem justru menyalahkan mentalitasmu.
“Growth Mindset” dan Budaya Menyalahkan Diri Sendiri
Muncullah jargon seperti:
- growth mindset
- hustle harder
- jangan malas
- sukses itu pilihan
Narasi ini terdengar inspiratif.
Padahal sering kali ia bekerja seperti alat pendisiplinan psikologis.
Sistem memaksa anak muda percaya bahwa kerja lebih keras bisa menyelesaikan semua masalah hidup.
Padahal masalahnya sering kali struktural:
- upah stagnan
- harga rumah tidak masuk akal
- biaya pendidikan mahal
- lapangan kerja formal menyusut
- perlindungan sosial minim
Generasi Paling Digital, Tapi Juga Paling Cemas
Ironisnya, generasi paling digital justru menjadi generasi paling cemas.
Mereka terlihat sibuk. Tapi banyak anak muda diam-diam menahan kelelahan.
Mereka terus online. Tapi merasa sendirian.
Mereka punya banyak peluang. Tapi sedikit kepastian.
Di titik ini, hustle culture berubah menjadi budaya survival.
Kerja bukan lagi soal mimpi. Kerja menjadi cara untuk bertahan hidup sambil melawan rasa takut gagal setiap hari.
Bukan Soal Mental Lemah, Tapi Sistem yang Melelahkan
Ini bukan sekadar anak muda yang terlalu sensitif.
Ini generasi yang tumbuh di tengah sistem yang meminta performa maksimal sambil menghapus jaring pengaman sosial secara perlahan.
Burnout, Quarter Life Crisis, dan “Healing” yang Dijual Pasar
Dampaknya mulai terlihat di mana-mana:
- burnout meningkat
- quarter life crisis jadi normal
- Media sosial sering mengubah overthinking menjadi bahan candaan.
- healing berubah jadi industri
- frugal living menjadi strategi bertahan hidup
- Banyak anak muda mulai melihat migrasi ke luar negeri sebagai jalan keluar yang realistis.
Tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren digital.
Ia adalah alarm sosial.
Ketika Pasar Selalu Menuntut Adaptasi
Sistem modern menjual mimpi kebebasan.
Tapi banyak anak muda justru hidup dalam ketidakpastian permanen.
Sistem menuntut mereka terus adaptif terhadap pasar.
Masalahnya: siapa yang memaksa pasar adaptif terhadap manusia?
Generasi yang Lelah Sebelum Benar-Benar Hidup
Kalau negara terus memaksa generasi muda bertahan tanpa perlindungan, Indonesia tidak sedang membangun bonus demografi.
Indonesia sedang membangun generasi yang lelah sebelum benar-benar hidup. @waras





