Tabooo.id: Entertainment – Selama puluhan tahun, publik mengenal nama Suzzanna sebagai simbol horor.
Sundel bolong. Kuburan. Malam Jumat. Generasi 80–90an bahkan refleks menyalakan lampu kamar saat mendengar namanya.
Kini muncul pertanyaan baru.
Kalau Suzzanna kembali ke layar lebar tanpa jadi hantu, apa rasa takut itu masih ada?
Soraya Intercine Films menjawabnya dengan percaya diri: iya.
Bahkan, horornya bisa terasa lebih kuat.
Lewat film ketiga berjudul “Suzzanna: Santet, Dosa Di Atas Dosa”, Soraya mengambil langkah berani. Rumah produksi ini membalik mitos lama. Mereka tidak lagi menampilkan Suzzanna sebagai Suketi sang arwah penasaran. Film ini menghadirkan Suzzanna sebagai manusia seutuhnya. Seorang perempuan yang hidup, terluka, dan berhadapan langsung dengan kekuasaan yang sewenang-wenang.
Ini horor versi dewasa.
Tanpa bunyi pintu berderit yang dipaksakan.
IP Legendaris Naik Kelas, Bukan Sekadar Nostalgia
Pendekatan ini langsung menuai apresiasi dari Reza Rahadian.
“Bayangkan, ini nama asli yang dipakai jadi sebuah IP besar, dan kita membawa ini ke level berikutnya,” kata Reza saat peluncuran trailer di Jakarta Selatan.
Reza menilai judul film ini tidak sekadar menjual nostalgia. Ia melihatnya sebagai upaya serius menjaga Suzzanna sebagai kekayaan intelektual film Indonesia. Soraya tidak memperlakukan Suzzanna hanya sebagai ikon poster horor yang terus diulang.
Tak heran Reza kembali bekerja sama dengan Soraya setelah 13 tahun. Terakhir kali mereka bertemu lewat Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013). Kali ini, Reza tertarik pada isu perlawanan terhadap kekuasaan. Tema lama itu justru terasa makin dekat dengan kondisi hari ini.
Karena, jujur saja, rasa takut sekarang tidak lagi datang dari hantu semata.
Suzzanna sebagai Manusia yang Terluka
Azhar Kinoi Lubis mengarahkan film ini dengan sudut pandang berbeda. Ia memotret Suzzanna sebagai manusia yang terluka. Bukan terkutuk.
Manusia, bukan mitos.
Kinoi membuka ruang diskusi kreatif bagi para aktor. Ia mendorong mereka memberi masukan agar setiap adegan terasa hidup. Film ini membangun horor lewat emosi, bukan hanya lewat efek kejut dan suara keras.
Pendekatan tersebut membuat cerita Santet (1988) tetap relevan. Film ini menjaga ruh aslinya, meski hadir dengan sudut pandang baru. Ceritanya lama, tapi tidak terasa usang.
Luna Maya, Totalitas Tanpa Jadi Hantu
Bagi Luna Maya, peran ini membawa tantangan baru.
Untuk pertama kalinya sejak Bernapas dalam Kubur (2018) dan Malam Jumat Kliwon (2023), Luna tidak memerankan sosok hantu. Ia memerankan Suzzanna asli, dari cara bicara hingga intonasi suara.
Tim produksi mendatangkan ahli rias prostetik dari Bali dan Belgia. Tim ini menjaga berat badan Luna secara ketat. Jika berat badannya berubah, mereka harus membuat ulang riasan dari awal. Proses ini menuntut disiplin tinggi.
Tim hanya menggunakan CGI untuk menyempurnakan detail wajah, seperti posisi alis. Teknologi ini berfungsi menghidupkan karakter, bukan menipu penonton.
Horor Lama, Produksi Serius
Soraya juga menaikkan standar produksi secara signifikan.
Tim produksi membangun rumah bergaya 1982 khusus di Pangandaran. Mereka benar-benar meledakkan empat mobil dan membakar rumah di lokasi. Mereka tidak mengandalkan trik instan.
Reza Rahadian mengaku terkejut saat ledakan terjadi langsung di lokasi. Adegan itu menciptakan ketegangan nyata, bukan sekadar reaksi akting.
Lewat pendekatan ini, Soraya menarik standar film Suzzanna era lama, lalu membawanya ke level yang lebih tinggi.
Saat Horor Bicara soal Dosa Manusia
Film ini menyampaikan pesan yang cukup jelas.
Horor terbesar tidak datang dari alam gaib, melainkan dari manusia dan kekuasaan yang lepas kendali.
Manusia menumpuk dosa. Mereka mewariskan luka. Mereka menciptakan penindasan.
Film ini dijadwalkan tayang pada Lebaran 2026, 18 Maret. Jadwal ini terasa ironis. Saat banyak orang bicara soal maaf, film ini justru mengajak penonton menatap dosa.
Jadi, siapkah kita merasa takut pada Suzzanna yang manusia?
Atau justru sosok itulah yang paling menakutkan sejak awal? @eko




