Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Horor yang Lebih Manusia di Balik Nama Besar Suzzanna

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Selama puluhan tahun, publik mengenal nama Suzzanna sebagai simbol horor.
Sundel bolong. Kuburan. Malam Jumat. Generasi 80–90an bahkan refleks menyalakan lampu kamar saat mendengar namanya.

Kini muncul pertanyaan baru.
Kalau Suzzanna kembali ke layar lebar tanpa jadi hantu, apa rasa takut itu masih ada?

Soraya Intercine Films menjawabnya dengan percaya diri: iya.
Bahkan, horornya bisa terasa lebih kuat.

Lewat film ketiga berjudul “Suzzanna: Santet, Dosa Di Atas Dosa”, Soraya mengambil langkah berani. Rumah produksi ini membalik mitos lama. Mereka tidak lagi menampilkan Suzzanna sebagai Suketi sang arwah penasaran. Film ini menghadirkan Suzzanna sebagai manusia seutuhnya. Seorang perempuan yang hidup, terluka, dan berhadapan langsung dengan kekuasaan yang sewenang-wenang.

Ini horor versi dewasa.
Tanpa bunyi pintu berderit yang dipaksakan.

Ini Belum Selesai

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

IP Legendaris Naik Kelas, Bukan Sekadar Nostalgia

Pendekatan ini langsung menuai apresiasi dari Reza Rahadian.

“Bayangkan, ini nama asli yang dipakai jadi sebuah IP besar, dan kita membawa ini ke level berikutnya,” kata Reza saat peluncuran trailer di Jakarta Selatan.

Reza menilai judul film ini tidak sekadar menjual nostalgia. Ia melihatnya sebagai upaya serius menjaga Suzzanna sebagai kekayaan intelektual film Indonesia. Soraya tidak memperlakukan Suzzanna hanya sebagai ikon poster horor yang terus diulang.

Tak heran Reza kembali bekerja sama dengan Soraya setelah 13 tahun. Terakhir kali mereka bertemu lewat Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013). Kali ini, Reza tertarik pada isu perlawanan terhadap kekuasaan. Tema lama itu justru terasa makin dekat dengan kondisi hari ini.

Karena, jujur saja, rasa takut sekarang tidak lagi datang dari hantu semata.

Suzzanna sebagai Manusia yang Terluka

Azhar Kinoi Lubis mengarahkan film ini dengan sudut pandang berbeda. Ia memotret Suzzanna sebagai manusia yang terluka. Bukan terkutuk.
Manusia, bukan mitos.

Kinoi membuka ruang diskusi kreatif bagi para aktor. Ia mendorong mereka memberi masukan agar setiap adegan terasa hidup. Film ini membangun horor lewat emosi, bukan hanya lewat efek kejut dan suara keras.

Pendekatan tersebut membuat cerita Santet (1988) tetap relevan. Film ini menjaga ruh aslinya, meski hadir dengan sudut pandang baru. Ceritanya lama, tapi tidak terasa usang.

Luna Maya, Totalitas Tanpa Jadi Hantu

Bagi Luna Maya, peran ini membawa tantangan baru.

Untuk pertama kalinya sejak Bernapas dalam Kubur (2018) dan Malam Jumat Kliwon (2023), Luna tidak memerankan sosok hantu. Ia memerankan Suzzanna asli, dari cara bicara hingga intonasi suara.

Tim produksi mendatangkan ahli rias prostetik dari Bali dan Belgia. Tim ini menjaga berat badan Luna secara ketat. Jika berat badannya berubah, mereka harus membuat ulang riasan dari awal. Proses ini menuntut disiplin tinggi.

Tim hanya menggunakan CGI untuk menyempurnakan detail wajah, seperti posisi alis. Teknologi ini berfungsi menghidupkan karakter, bukan menipu penonton.

Horor Lama, Produksi Serius

Soraya juga menaikkan standar produksi secara signifikan.

Tim produksi membangun rumah bergaya 1982 khusus di Pangandaran. Mereka benar-benar meledakkan empat mobil dan membakar rumah di lokasi. Mereka tidak mengandalkan trik instan.

Reza Rahadian mengaku terkejut saat ledakan terjadi langsung di lokasi. Adegan itu menciptakan ketegangan nyata, bukan sekadar reaksi akting.

Lewat pendekatan ini, Soraya menarik standar film Suzzanna era lama, lalu membawanya ke level yang lebih tinggi.

Saat Horor Bicara soal Dosa Manusia

Film ini menyampaikan pesan yang cukup jelas.
Horor terbesar tidak datang dari alam gaib, melainkan dari manusia dan kekuasaan yang lepas kendali.

Manusia menumpuk dosa. Mereka mewariskan luka. Mereka menciptakan penindasan.

Film ini dijadwalkan tayang pada Lebaran 2026, 18 Maret. Jadwal ini terasa ironis. Saat banyak orang bicara soal maaf, film ini justru mengajak penonton menatap dosa.

Jadi, siapkah kita merasa takut pada Suzzanna yang manusia?
Atau justru sosok itulah yang paling menakutkan sejak awal? @eko

Tags: EntertainmentFilmLuna Maya

Kamu Melewatkan Ini

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

by eko
Juli 13, 2026

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di layar lebar, bahasa membentuk identitas, emosi, sekaligus cara penonton mengenal sebuah budaya. Kehadiran FOUFO...

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

by eko
Juli 11, 2026

402 Rumah Sakit Angker Korea mengadaptasi Gonjiam: Haunted Asylum dengan cerita baru, misteri ruang 402, dan sentuhan horor Korea yang...

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

by Tabooo
Juni 25, 2026

Film pendek sering disalahpahami sebagai karya kecil yang cukup hanya menang di visual. Padahal, yang membuat film pendek kuat bukan...

Next Post
Kya-Kya Kembang Jepun: Jalan Pelan Menyusuri Rasa dan Ingatan Surabaya

Kya-Kya Kembang Jepun: Jalan Pelan Menyusuri Rasa dan Ingatan Surabaya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id