Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di layar lebar, bahasa membentuk identitas, emosi, sekaligus cara penonton mengenal sebuah budaya. Kehadiran FOUFO dengan sekitar 70 persen dialog berbahasa Madura memunculkan pertanyaan yang layak kita renungkan: sudah saatnya bahasa daerah menjadi kekuatan baru perfilman Indonesia?
Tabooo.id – Coba bayangkan jika semua film Korea memakai bahasa Inggris agar lebih mudah menjangkau pasar dunia. Atau semua anime Jepang meninggalkan bahasa Jepang demi mengejar penonton internasional. Padahal, keberagaman Bahasa Daerah juga memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya.
Rasanya aneh. Namun, mengapa sebagian orang masih berharap film Indonesia selalu memakai bahasa Indonesia baku agar lebih mudah diterima?
Pertanyaan itu kembali mengemuka setelah FOUFO, film terbaru Bayu Skak, memilih menghadirkan sekitar 70 persen dialog dalam bahasa Madura. Keputusan itu tidak hanya memberi warna baru pada film tersebut, tetapi juga membuka perdebatan tentang masa depan sinema Indonesia.
Penonton Mengejar Cerita, Bukan Sekadar Bahasa
Selama bertahun-tahun, penonton Indonesia menikmati film Korea, Jepang, Thailand, Spanyol, hingga India.
Mereka memang tidak memahami bahasa para tokohnya sejak awal. Namun, mereka tetap mengikuti cerita melalui subtitle.
Kebiasaan itu menunjukkan satu hal.
Penonton datang untuk mencari cerita yang kuat, karakter yang hidup, dan emosi yang jujur. Bahasa justru memperkaya pengalaman menonton karena menghadirkan identitas yang tidak bisa digantikan.
Kearifan lokal Membuat Cerita Terasa Lebih Hidup
Bahasa daerah membawa lebih dari sekadar kosakata.
Setiap dialek menyimpan humor, cara bercanda, cara marah, dan nilai budaya yang tumbuh selama bertahun-tahun.
Karena itu, ketika sebuah film memakai bahasa daerah secara alami, penonton ikut merasakan suasana yang lebih autentik.
FOUFO mencoba menghadirkan pengalaman itu lewat bahasa Madura. Film ini mengajak penonton mengenal kehidupan masyarakat Madura dari cara mereka berbicara, bercanda, dan membangun hubungan dengan keluarga.
Dunia Justru Mengapresiasi Cerita yang Paling Lokal
Banyak film internasional membuktikan bahwa identitas lokal mampu menarik perhatian dunia.
Film Korea tetap memakai bahasa Korea, film Jepang mempertahankan bahasa Jepang.
Film Spanyol tidak meninggalkan identitasnya demi pasar global.
Semua karya itu berhasil karena para pembuat film percaya pada cerita mereka sendiri.
Indonesia memiliki modal yang jauh lebih besar.
Ratusan bahasa daerah hidup di Nusantara. Masing-masing menyimpan cerita, filosofi, dan cara pandang yang tidak dimiliki daerah lain.
Pertanyaannya, mengapa industri film belum banyak memanfaatkan kekayaan itu?
Tantangan Terbesar Ada pada Keberanian
Sebagian produser masih khawatir bahasa daerah akan mempersempit pasar.
Namun, perkembangan platform digital mengubah kebiasaan penonton.
Kini, hampir semua orang terbiasa membaca subtitle.
Karena itu, kualitas cerita jauh lebih menentukan daripada bahasa yang muncul dalam dialog.
Kalau sebuah film mampu menyentuh emosi penonton, mereka akan bertahan sampai kredit penutup muncul.
Bahasa Daerah Bukan Gimmick
Namun, para sineas juga perlu mengingat satu hal.
Bahasa daerah tidak boleh berhenti sebagai strategi promosi.
Mereka perlu membangun cerita yang jujur, memilih aktor yang memahami budaya setempat, dan menampilkan kehidupan masyarakat secara autentik.
Kalau film hanya memanfaatkan bahasa daerah sebagai pemanis, identitas budaya akan kehilangan maknanya.
Saatnya Percaya pada Cerita Kita Sendiri
FOUFO mungkin hanya satu film.
Namun, langkah Bayu Skak membuka ruang diskusi yang jauh lebih besar.
Haruskah perfilman Indonesia terus mengejar formula yang seragam?
Atau justru mulai percaya bahwa keberagaman bahasa merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara?@eko







