Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kya-Kya Kembang Jepun: Jalan Pelan Menyusuri Rasa dan Ingatan Surabaya

by dimas
Januari 27, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada satu ritual kecil yang diam-diam mulai digemari warga Surabaya belakangan ini. Pertama, mereka berjalan pelan di bawah lampion merah. Lalu, mereka menghirup aroma bakpao panas yang bercampur sate usus. Setelah itu, mereka berhenti sejenak hanya untuk memotret gerbang bergaya Tionghoa yang menyala di malam hari. Ritual ini tidak terjadi di luar negeri. Ritual ini juga bukan bagian dari taman hiburan. Sebaliknya, warga menemukan pengalaman itu di Kya-Kya Kembang Jepun sebuah ruas jalan yang kini kembali hidup setelah lama menyimpan cerita.

Di media sosial, Kya-Kya semakin sering muncul sebagai latar foto estetik. Lampu temaram membingkai suasana, papan nama beraksara Mandarin memperkuat karakter visual, sementara keramaian menciptakan kesan hangat dan akrab. Namun demikian, di balik tampilan yang ramah kamera, kawasan ini menyimpan lapisan sejarah panjang. Oleh karena itu, Kya-Kya tidak sekadar menawarkan makan malam. Kawasan ini menghadirkan potongan memori kota yang kini kembali bernapas.

Dari Jalan Dagang ke Ruang Nongkrong

Kya-Kya menempati Jalan Kembang Jepun, salah satu ruas tertua di Surabaya. Bahkan jauh sebelum kafe dan lapak jajanan memenuhi trotoarnya, jalan ini sudah menggerakkan roda perdagangan kota pelabuhan. Pada masa kolonial Belanda, masyarakat mengenal kawasan ini sebagai Handelstraat atau jalan perdagangan. Di titik ini, para pedagang bertemu, bertransaksi, sekaligus menetap.

Selanjutnya, sejarah mencatat Kembang Jepun sebagai kawasan Pecinan resmi. Di sinilah komunitas Tionghoa membangun rumah, membuka toko, dan merajut jejaring ekonomi. Pada saat yang sama, mereka hidup berdampingan dengan kawasan Arab dan Melayu di utara serta permukiman Eropa di barat. Dengan kondisi itu, Surabaya tumbuh sebagai kota kosmopolitan. Tak heran, Kembang Jepun kemudian berperan sebagai titik temu lintas budaya.

Sementara itu, nama “Kembang Jepun” mulai dikenal luas pada masa pendudukan Jepang. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini terus berganti wajah. Awalnya, aktivitas grosir mendominasi kawasan. Kemudian, fungsi kawasan bergeser menjadi pusat pertokoan dan deretan restoran legendaris. Namun ketika denyut ekonomi berubah, pamor Kembang Jepun pun perlahan meredup.

Ini Belum Selesai

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Kya-Kya: Jalan-Jalan yang Jadi Konsep

Pada 31 Mei 2003, bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya, pemerintah kota meresmikan Kya-Kya sebagai kawasan wisata kuliner malam. Pemerintah memilih nama “kya-kya” dari dialek Tionghoa yang berarti “jalan-jalan”. Menariknya, istilah sederhana ini langsung menggambarkan pengalaman utama para pengunjung.

Di Kya-Kya, orang datang bukan hanya untuk makan. Sebaliknya, mereka datang untuk bergerak. Mereka melangkah dari satu lapak ke lapak lain, menawar jajanan, menyapa pedagang, lalu duduk santai bersama teman atau keluarga. Dengan cara itu, Kya-Kya mengajak orang memperlambat langkah di tengah kota yang biasanya berlari cepat.

Meski demikian, kawasan ini sempat meredup selama beberapa tahun. Akan tetapi, denyutnya tidak pernah benar-benar berhenti. Pada akhirnya, Kya-Kya hanya menunggu momentum untuk kembali hidup.

Kebangkitan Kota Tua dan Identitas yang Kembali

Momentum itu akhirnya datang pada 2022. Saat itu, Pemerintah Kota Surabaya menghidupkan kembali Kya-Kya sebagai bagian dari pengembangan kawasan Kota Tua. Program revitalisasi ini tidak hanya menyentuh bangunan dan tata ruang. Lebih jauh lagi, upaya ini memperkuat kembali identitas kawasan.

Kini, Kya-Kya tampil lebih terbuka dan inklusif. Para pengelola menghadirkan kuliner khas Tionghoa yang halal. Dengan langkah ini, lebih banyak pengunjung dapat menikmati cita rasa yang sebelumnya dianggap terbatas. Karena itu, kawasan ini berhasil menciptakan ruang temu baru antara tradisi dan kebutuhan masyarakat urban masa kini.

Selain itu, nuansa Tionghoa tampil lebih berani. Papan nama beraksara Mandarin kembali menghiasi kawasan. Meski tampak sederhana, simbol ini membawa makna besar. Kehadirannya mengingatkan bahwa identitas budaya yang dulu sempat ditekan kini dapat hadir tanpa rasa takut.

Lebih dari Sekadar Makan Malam

Saat berjalan di Kya-Kya hari ini, pengunjung seolah membuka album lama dengan desain baru. Gerbang khas Tionghoa berdiri sebagai penanda ruang. Di sekitarnya, bangunan tua terus menyimpan jejak perubahan zaman.

Namun, pengalaman di Kya-Kya tidak berhenti pada urusan perut. Pada waktu-waktu tertentu, kawasan ini berubah menjadi panggung budaya. Musik keroncong mengalun berdampingan dengan instrumen klasik Tiongkok. Pada saat yang sama, barongsai menari di antara kerumunan, disambut tepuk tangan dan ponsel yang terangkat serempak.

Dalam momen seperti itu, batas antara wisatawan dan warga lokal perlahan menghilang. Akhirnya, semua orang larut sebagai penikmat dan menjadi bagian dari suasana yang sama.

Kya-Kya dan Kita Hari Ini

Di tengah tren urban yang gemar membangun ruang baru lalu melupakan yang lama, Kya-Kya menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih menghapus sejarah, kawasan ini justru mengemas ulang warisan lama agar generasi sekarang dapat membacanya dengan cara yang lebih segar.

Lebih dari itu, Kya-Kya mencerminkan cara kota berdamai dengan masa lalunya. Kawasan ini mengakui bahwa Surabaya tumbuh dari banyak tangan dan banyak budaya. Dengan demikian, keberagaman tidak berhenti sebagai jargon. Keberagaman hadir sebagai pengalaman nyata yang bisa dirasakan bahkan dicicipi.

Di era digital, ketika orang sering mencari pengalaman “otentik” lewat layar, Kya-Kya justru mengajak orang hadir secara fisik. Pengunjung menyusuri jalan, menghirup aroma masakan, dan mendengar riuh suara manusia. Semua itu menghadirkan pengalaman analog di tengah kehidupan yang kian digital.

Jalan yang Terus Berjalan

Pada akhirnya, Kya-Kya Kembang Jepun membuktikan bahwa sejarah tidak harus berdiam di museum. Sebaliknya, sejarah dapat hidup sebagai ruang publik, sebagai tempat berkumpul, dan sebagai latar cerita baru yang terus lahir setiap malam.

Di jalan ini, masa lalu dan masa kini berjalan berdampingan. Lampion menyala bukan hanya untuk menerangi langkah, tetapi juga untuk mengingatkan: kota yang besar adalah kota yang mau mengingat, lalu merayakannya bersama.

Dan mungkin, di sanalah makna Kya-Kya hari ini sebuah ajakan sederhana untuk berjalan pelan, menoleh ke belakang, sambil tetap melangkah ke depan. @Sabrina Fidhi-Surabaya

Tags: BudayaKota TuaKulinerSejarahsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

by Tabooo
Mei 13, 2026

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? Karena realitas terus bergerak, sementara manusia terus mencoba mempertahankan sesuatu agar tetap sama. Sistem berubah,...

Next Post
Game Dragon Ball Age 1000 Jadi Proyek Paling Ambisius Bandai Namco

Game Dragon Ball Age 1000 Jadi Proyek Paling Ambisius Bandai Namco

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id