Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa.
Tabooo.id – Asap dupa perlahan naik ke udara. Warga desa berkumpul membawa tumpeng, hasil panen, dan doa-doa yang diwariskan turun-temurun. Hari ini orang mengenalnya sebagai Bersih Desa.
Banyak orang menganggap tradisi itu sekadar ritual budaya tahunan. Padahal, sebuah kisah tua dari tanah Jawa menyimpan cerita yang jauh lebih dalam. Di balik selamatan, ada wabah penyakit, seorang ibu yang kehilangan anaknya, dan sebuah kerajaan yang berjuang menyelamatkan rakyatnya. Kisah itu tercatat dalam Serat Pustaka Raja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita.
Ketika Seorang Ibu Kehilangan Anaknya
Dewi Basundari hidup sederhana di Desa Cangkring bersama putranya, Jaka Wudug. Suatu hari, kemarahan sesaat mengubah hidup mereka.
Saat Jaka Wudug menangis meminta makan, Dewi Basundari kehilangan kesabaran. Ia memukul kepala anaknya dengan centong. Ketakutan, Jaka Wudug langsung berlari meninggalkan rumah. Sejak saat itu, ia menghilang tanpa jejak.
Penyesalan segera datang. Dewi Basundari mencari ke berbagai tempat, tetapi tidak menemukan putranya. Kesedihan mendorongnya bertapa dan memohon pertolongan para dewa.
Doanya terkabul.
Batara Narada mengubah dirinya menjadi laki-laki bernama Raden Sintawaka. Dengan identitas baru itu, ia memulai perjalanan panjang untuk mencari anak yang hilang.
Takdir Membawa Sintawaka ke Kerajaan Gilingaya
Perjalanan Raden Sintawaka justru membawanya ke Kerajaan Gilingaya. Di sana, ia bertemu Prabu Heryanarudra.
Pertemuan itu mengubah nasibnya.
Raden Sintawaka membantu raja menghalau kawanan harimau yang menyerang rombongan kerajaan. Keberanian dan kebijaksanaannya membuat Prabu Heryanarudra mengangkatnya sebagai anak sekaligus pewaris takhta.
Sementara itu, Jaka Wudug ternyata masih hidup. Arus Sungai Serayu menghanyutkannya hingga seorang pendeta bernama Resi Bagaspati menemukan dan merawatnya. Anak kecil yang hilang itu tumbuh tanpa mengetahui asal-usulnya sendiri.
Wabah Menghantam Kerajaan
Tahun-tahun berlalu.
Saat Raden Sintawaka mengabdi di Gilingaya, wabah penyakit menyebar ke seluruh kerajaan. Penyakit itu merenggut banyak nyawa dan menebarkan ketakutan di mana-mana.
Prabu Heryanarudra tidak tinggal diam. Ia turun langsung membantu rakyat yang sakit. Namun pengorbanan itu justru membuatnya tertular.
Beberapa hari kemudian, sang raja meninggal dunia.
Sebelum wafat, ia menunjuk Raden Sintawaka sebagai penerus takhta. Para menteri dan pejabat kerajaan mendukung keputusan tersebut.
Awal Mula Bersih Desa
Sebagai raja baru, Prabu Sintawaka segera mencari cara menghentikan wabah.
Ia mendatangi Begawan Radi di Padepokan Andongdadapan. Sang begawan memberikan petunjuk sederhana tetapi penuh makna.
Begawan Radi meminta seluruh rakyat mengadakan selamatan bernama Sesaji Gramaweda. Penduduk dari kota hingga pelosok desa mengikuti perintah itu. Mereka berkumpul, berdoa bersama, dan memohon keselamatan bagi seluruh negeri.
Hasilnya mengejutkan.
Wabah perlahan menghilang dari Kerajaan Gilingaya. Kehidupan kembali berjalan normal. Karena manfaatnya begitu besar, Begawan Radi meminta masyarakat mengulang ritual tersebut setiap tahun.
Masyarakat desa kemudian menyederhanakan penyebutannya. Mereka lebih akrab menyebutnya sebagai Bersih Desa.
Lebih dari Sekadar Ritual
Bersih Desa sering dipahami sebagai tradisi membersihkan lingkungan atau bentuk syukur atas hasil panen. Namun legenda Gilingaya memperlihatkan makna yang lebih luas.
Tradisi ini lahir dari pengalaman kolektif menghadapi krisis.
Masyarakat Jawa tidak hanya mencari cara mengusir penyakit. Mereka juga membangun ruang kebersamaan. Mereka memperkuat hubungan sosial, merawat solidaritas, dan menyatukan harapan ketika ketakutan menguasai kehidupan.
Karena itu, Bersih Desa bukan sekadar ritual budaya.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa sebuah komunitas mampu bertahan ketika warganya saling menjaga.
Warisan yang Masih Relevan
Di tengah dunia yang semakin individual, pesan Bersih Desa terasa semakin penting.
Kisah ini mengajarkan bahwa krisis tidak selalu selesai dengan kekuatan individu. Kadang-kadang, masyarakat membutuhkan ruang untuk berkumpul, berbagi beban, dan menumbuhkan harapan bersama.
Mungkin itulah alasan mengapa Bersih Desa tetap hidup hingga hari ini.
Ia bukan hanya warisan leluhur.
Ia adalah ingatan kolektif tentang bagaimana manusia bertahan saat dunia di sekelilingnya sedang tidak baik-baik saja.
Sebab pada akhirnya, Bersih Desa bukan sekadar membersihkan kampung. Tradisi ini mengingatkan manusia untuk membersihkan ketakutan, merawat kebersamaan, dan menjaga harapan agar tetap hidup. @dimas







