Tabooo.id: Travel – Pernah nggak sih kamu ngerasa capek banget sampai pengin cuti hidup, lalu mikir, “Ke Rinjani aja kali ya, reset sekalian”? Nah, kabar ini mungkin bikin rencana tahun baru kamu sedikit melenceng. Gunung Rinjani resmi tutup jalur pendakian sampai April 2026. Bukan karena drama, bukan karena overbooking, tapi karena satu alasan sederhana yang sering kita lupakan alam juga butuh istirahat.
Saat Rinjani Bilang: “Gue Capek, Bro”
Penutupan ini berlaku mulai 31 Desember 2025. Artinya, kalau kamu berniat menyambut 2026 dengan langkah kaki menuju puncak tertinggi Lombok, sebaiknya tarik napas dulu. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memilih menutup semua jalur pendakian demi memulihkan ekosistem yang sudah bekerja keras selama sembilan bulan terakhir.
Kepala Seksi Wilayah II TNGR, Ma’ruf Hadi, bilang dengan lugas Rinjani sudah “kerja rodi” terlalu lama. Dalam sembilan bulan terakhir, gunung ini menerima ribuan pasang sepatu, tenda, tongkat trekking, plus beban alamiah seperti hujan ekstrem. Jalur longsor muncul di beberapa titik, termasuk jalur naga yang terkenal bikin adrenalin naik.
Daripada memaksakan buka lalu membahayakan pendaki, pengelola memilih opsi yang lebih dewasa berhenti sejenak, beres-beres, lalu lanjut lagi dengan kondisi lebih aman.
Angka yang Bikin Merinding (Bukan Karena Dinginnya)
Data Balai TNGR mencatat hingga November 2025, 124.649 orang mengunjungi kawasan Gunung Rinjani. Dari jumlah itu, sekitar 42 ribu wisatawan mancanegara dan lebih dari 81 ribu pendaki domestik datang silih berganti. Bulan Desember bahkan sudah hampir penuh sebelum penutupan resmi dimulai.
Angka ini terdengar membanggakan. Pariwisata hidup. Ekonomi lokal berputar. Tapi di sisi lain, tekanan pada alam ikut melonjak. Jalur aus, vegetasi rusak, dan risiko kecelakaan meningkat. Gunung yang terus-menerus “dipakai” tanpa jeda lama-lama bisa kolaps. Mirip manusia yang kerja lembur tanpa libur, ujung-ujungnya tumbang.
Tren Healing yang Perlu Dikasih Rem
Beberapa tahun terakhir, naik gunung berubah jadi simbol self-healing. Capek kerja? Mendaki. Burnout? Mendaki. Putus cinta? Mendaki. Feed Instagram pun penuh foto kabut, puncak, dan caption reflektif ala filsuf dadakan.
Masalahnya, tren ini sering lupa satu hal alam bukan tempat pelarian gratis. Gunung bukan objek mati yang bisa kita eksploitasi sesuka hati. Saat jumlah pendaki melonjak tanpa kontrol, dampaknya langsung terasa. Rinjani sekarang memberi sinyal jelas: healing boleh, tapi jangan rakus.
Penutupan ini seperti boundary setting versi alam. Sama seperti kamu yang akhirnya berani bilang “enggak” ke bos atau grup chat toxic, Rinjani juga berhak bilang, “Stop dulu.”
Liburan Nggak Harus Selalu ke Puncak
Kabar baiknya, penutupan jalur pendakian bukan berarti Lombok jadi zona mati wisata. TNGR tetap membuka objek nonpendakian seperti Savana Propok, Bukit Gedong, Top Kondo, dan beberapa bukit lain di kawasan Sembalun. Tempat-tempat ini menawarkan lanskap cantik tanpa harus menginjak jalur ekstrem.
Buat kamu yang kangen udara dingin dan pemandangan hijau, opsi ini bisa jadi kompromi sehat. Kamu tetap dapat alam, tapi dengan dampak yang lebih ringan. Plus, kaki nggak perlu drama lecet berhari-hari.
Rinjani, Kita Ketemu Lagi Nanti
Penutupan sampai April 2026 memberi waktu cukup bagi alam untuk bernapas. Pengelola bakal memperbaiki jalur rusak, menata ulang area rawan, dan memastikan pendakian berikutnya lebih aman. Saat Rinjani buka lagi, pengalaman mendaki justru bisa lebih berkualitas.
Lebih dari sekadar soal jadwal liburan, keputusan ini ngajarin kita satu hal penting keberlanjutan lebih seksi daripada kejar konten. Alam yang sehat bikin petualangan lebih bermakna, bukan sekadar checklist destinasi.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Kalau rencana naik Rinjani harus ditunda, mungkin ini momen buat mikir ulang cara kamu berlibur. Apakah tujuanmu benar-benar menyatu dengan alam, atau cuma ngejar validasi? Mungkin juga ini saat yang tepat buat healing tanpa harus selalu ke puncak.
Toh, istirahat nggak melulu soal tempat tinggi. Kadang, yang kita butuhkan cuma jeda. Dan sekarang, Rinjani sudah memberi contoh. @teguh




