Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gunung ‘Butuh Me Time’: Ciremai Menutup Jalur Kita Dipaksa Belajar Ngerem

by teguh
Mei 8, 2026
in Culture, Travel
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Travel – Pernah nggak sih, niat healing ke gunung malah disambut pengumuman jalur ditutup sementara? Rasanya kayak sudah siap naik, sepatu sudah kinclong, tapi alam bilang, “Santai dulu, ya.” Nah, itulah yang sekarang terjadi di Gunung Ciremai. Gunung tertinggi di Jawa Barat ini resmi menutup sebagian jalur pendakiannya. Bukan tanpa alasan cuaca lagi ekstrem, dan alam butuh waktu buat pulih.

Di tengah budaya kabur ke alam yang makin populer di kalangan Gen Z dan milenial, keputusan ini terasa relevan, sekaligus menohok. Apakah kita selama ini terlalu memaksakan alam untuk selalu siap menyambut kita?

Jalur Ditutup, Alam Ambil Napas

Pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mengumumkan penutupan sementara jalur pendakian lewat surat edaran resmi Nomor PG 03/T.33/TU/KSA/B/01/2026. Ada dua jalur utama yang kena dampak langsung.

Pertama, Jalur Apuy di Kabupaten Majalengka. Jalur ini ditutup sejak 24 Januari hingga 1 Februari 2026, lalu direncanakan buka kembali 2 Februari 2026. Alasannya cukup serius: banyak pohon tumbang di sepanjang jalur. Kondisi ini jelas berbahaya buat pendaki.

Kedua, Jalur Linggajati di Kabupaten Kuningan. Jalur ini malah ditutup lebih lama, dari 27 Januari hingga 20 Maret 2026. Penyebabnya adalah longsoran tanah yang sering terjadi akibat cuaca ekstrem.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Humas TNGC, Ady Sularso, menegaskan penutupan ini bukan sekadar formalitas. “Kami anggap jalur Apuy berisiko karena banyak pohon tumbang. Sementara di Linggajati, longsoran tanah sering terjadi dan membahayakan pendaki,” ujarnya.

Menariknya, TNGC juga memberi sinyal tegas. Jalur lain seperti Palutungan, Sadarehe, dan Linggasana bisa ikut ditutup kalau cuaca makin brutal. Intinya jelas keselamatan manusia dan alam jadi prioritas.

Ramadan: Gunung Ikut Puasa

Bukan cuma cuaca ekstrem, faktor ekologi juga ikut bermain. TNGC mengumumkan penutupan seluruh jalur pendakian selama bulan Ramadan, dari 20 Februari sampai 20 Maret 2026. Jalur baru dibuka lagi pada 21 Maret 2026.

Langkah ini bertujuan untuk pemulihan ekosistem. Selama Ramadan, aktivitas manusia berhenti, tekanan terhadap alam berkurang, dan lingkungan punya ruang untuk “bernapas”.

Ady menjelaskan, “Semua jalur kami tutup selama Ramadan sampai setelah Lebaran sebagai upaya mengembalikan kondisi alam.” Dengan kata lain, gunung juga butuh waktu istirahat bukan cuma kita.

Kenapa Penutupan Ini Penting?

Kalau ditarik lebih jauh, penutupan jalur Ciremai mencerminkan isu lifestyle yang lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, mendaki gunung berubah jadi simbol gaya hidup. Feed Instagram penuh jaket outdoor, tenda estetik, dan caption reflektif. Namun, di balik itu, ada tekanan besar terhadap alam.

Cuaca ekstrem, pohon tumbang, dan longsor bukan kejadian acak. Perubahan iklim memperparah intensitas hujan, sementara meningkatnya aktivitas pendakian mempercepat degradasi jalur. Alam memberi sinyal lewat bencana kecil yang sering kita anggap “risiko biasa”.

Secara psikologis, banyak orang mencari gunung sebagai pelarian dari burnout. Ironisnya, ketika terlalu banyak orang datang tanpa jeda, alam justru ikut “burnout”. Penutupan jalur ini seperti batasan sehat dalam hubungan kadang perlu bilang stop supaya semuanya tetap aman.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kalau kamu hobi naik gunung, penutupan ini mungkin bikin kecewa. Namun, ini juga kesempatan buat refleksi. Mungkin kita bisa belajar menikmati alam tanpa selalu harus menaklukkannya. Bisa dengan menunda pendakian, memilih destinasi alternatif yang aman, atau sekadar memperbaiki perilaku outdoor supaya lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, gunung nggak ke mana-mana. Ciremai tetap berdiri megah. Yang berubah cuma cara kita memandangnya. Jadi, saat alam minta jeda, mau nggak kita ikut belajar ngerem?. @teguh

Tags: Gen ZgunungJalurMilenialpendakian

Kamu Melewatkan Ini

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

by Naysa
Mei 31, 2026

Timeline masih ramai meski malam hampir habis. Orang memperdebatkan politik, agama, sampai hal receh yang seharusnya tak perlu berubah jadi...

Next Post
Pemerintah Buka Jalan Asing Jadi Pemegang Saham BEI

Pemerintah Buka Jalan Asing Jadi Pemegang Saham BEI

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id