Ketika “Open to Work” seperti yang ada di Linkedin kalah pamor dari “Close Friends”. Dunia kerja tak lagi dimulai dari CV, tetapi dari algoritma yang mengenali siapa kamu bahkan sebelum HR menyapa.
Tabooo.id – Selama bertahun-tahun, LinkedIn menjadi seragam wajib para profesional. Kalau belum menulis “I’m excited to announce”, banyak orang merasa kariernya belum benar-benar naik level. Namun, situasinya mulai berubah. Gen Z perlahan meninggalkan panggung itu.
Bukan karena mereka enggan bekerja. Mereka justru lelah menghadapi ruang profesional yang semakin menyerupai arena pencitraan tanpa jeda.
Yang menarik, ketika Gen Z mulai menjauh dari LinkedIn, banyak perekrut justru ikut melirik Instagram.
LinkedIn: CV Digital atau Ajang Pamer Prestasi?
Belakangan muncul pola yang sulit diabaikan. Semakin lama seseorang membuka LinkedIn, semakin tipis batas antara kabar karier dan pidato kemenangan.
Hampir setiap hari linimasa menampilkan kalimat yang serupa seperti “Saya bangga mengumumkan”, “Saya merasa terhormat”, “Perjalanan luar biasa…” dan merayakan pencapaian tentu bukan sebuah kesalahan.
Namun, ketika semua orang tampak sukses setiap hari, LinkedIn perlahan berubah dari ruang profesional menjadi panggung validasi.
Gen Z bahkan memiliki satu istilah sederhana untuk menggambarkan perasaan itu. “Ick.” adalah Perasaan risih. Muak. Tidak nyaman.
Laporan Gen Z Misinfluence Report dari Zety yang mensurvei 919 pekerja Gen Z di Amerika Serikat pada 23/02/2026 menunjukkan fakta menarik. Hanya 26 persen responden memilih LinkedIn sebagai sumber utama nasihat karier.
Sebaliknya, mereka lebih banyak mencari referensi melalui:
- YouTube: 80 persen
- Instagram: 73 persen
- Facebook: 40 persen
- X: 38 persen
- Reddit: 30 persen
Dengan kata lain, platform yang selama ini identik dengan dunia profesional justru berada di posisi paling bawah.
Instagram: Tempat Nongkrong yang Berubah Jadi Bursa Kerja
Kalau dulu orang membuka Instagram untuk melihat liburan teman, sekarang banyak Gen Z justru menggunakannya untuk menilai calon tempat kerja.
Mereka memperhatikan bagaimana suasana kantor, bagaimana atasan memperlakukan karyawan, apakah kontennya terasa manusiawi, atau sekadar penuh slogan motivasi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai vibe check. Bahkan, sebanyak 99 persen responden mengaku selalu mengecek media sosial perusahaan sebelum mengirim lamaran.
Kalau kontennya terasa terlalu dibuat-buat, mereka memilih mundur. Ironisnya, selama ini HR meminta pelamar tampil profesional di LinkedIn.
Kini kondisinya berbalik banyak perekrut justru lebih dulu melihat Instagram pelamar. Akibatnya, batas antara kehidupan pribadi dan profesional semakin kabur.
Semua Ingin Terlihat Autentik
Ironi itu semakin menarik karena LinkedIn mendorong orang tampil profesional dan Instagram mendorong orang tampil santai.
Meski begitu, keduanya tetap mengajak penggunanya membangun citra. Perbedaannya hanya terletak pada filter. Yang satu memakai jas, Yang satu memakai preset Lightroom.
Algoritma Kini Menentukan Siapa yang Lebih Dulu Terlihat.
Penulis laporan Zety sekaligus penasihat karier, Jasmine Escalera, menjelaskan bahwa perubahan ini muncul karena perbedaan cara setiap generasi tumbuh.
“Gen Z dibesarkan di Instagram, jadi wajar kalau tempat mereka bermain jadi tempat mereka mendapat informasi pekerjaan juga.” Jasmine Escalera, Gen Z Misinfluence Report, Zety, 23 Februari 2026.
Menurut Escalera, generasi milenial tumbuh dengan keyakinan bahwa citra profesional formal merupakan jalan menuju karier.
Sebaliknya, Gen Z lebih mempercayai hubungan yang terasa autentik daripada formalitas dan Algoritma lebih dipercaya.
Masalah Sebenarnya Lebih Besar
Persoalannya bukan terletak pada LinkedIn, Persoalannya juga bukan Instagram. Yang patut menjadi perhatian ialah semakin besarnya peran algoritma dalam menggantikan fungsi mentor.
Laporan yang sama menemukan bahwa 45 persen Gen Z lebih mempercayai influencer daripada penasihat karier tradisional.
Namun, pada saat yang sama, 94 persen responden mengaku pernah mengikuti nasihat karier di media sosial yang ternyata menyesatkan.
Artinya, media sosial memang berhasil menjadi guru. Sayangnya, guru itu belum tentu mengajarkan arah yang benar.
Pengamat: Dunia Kerja Memang Sedang Bergeser
Sosiolog Polandia, Zygmunt Bauman, melalui konsep liquid modernity, menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup di tengah identitas, hubungan, dan institusi yang terus berubah. Dalam dunia kerja, orang tidak lagi membangun identitas profesional melalui institusi yang stabil, melainkan lewat representasi diri di ruang digital.
“Dalam modernitas cair, tidak ada bentuk sosial yang bertahan cukup lama untuk menjadi acuan permanen.” Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (2000).
Sementara itu, Erving Goffman sejak lama menjelaskan bahwa manusia selalu melakukan self-presentation atau pertunjukan diri dalam kehidupan sosial.
“Kita semua memainkan peran di hadapan audiens.” Erving Goffman, The Presentation of Self in Everyday Life (1956).
Kalau dulu ruang rapat menjadi panggungnya, kini algoritma mengambil peran tersebut.
Ketika Algoritma Mengalahkan CV.
LinkedIn sebenarnya tidak sedang mati yang berubah justru definisi profesionalisme. Dulu gelar membuat orang dipercaya. Hari ini konten lebih cepat membangun kepercayaan.
Dulu HR membaca CV lebih dulu dan kini banyak perekrut membuka feed Instagram sebelum membaca riwayat hidup pelamar.
Semakin formal sebuah platform, semakin besar jaraknya dengan keseharian generasi muda.
Karena itu, ketika dunia kerja lebih sibuk membangun citra daripada membangun kepercayaan, jangan heran jika generasi baru lebih memilih mencari mentor di kolom komentar dibanding ruang seminar.
Pada akhirnya, pekerjaan mungkin masih datang melalui CV. Namun, keputusan untuk melamar sering kali muncul lebih dulu dari pertanyaan sederhana “Vibes-nya enak nggak?”
LinkedIn masih mengajarkan cara terlihat profesional. Instagram mengajarkan cara terlihat manusia. Sementara itu, algoritma diam-diam menentukan siapa yang lebih dulu mendapat kesempatan. @teguh







