Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kalau Bangunan Sekolah Belum Roboh, Belum Darurat

by Anisa
Juli 28, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Kalau bangunan sekolah belum roboh, barangkali belum ada alasan untuk menggelar rapat darurat. Retakan masih dianggap biasa, atap bocor masih bisa ditoleransi, dan laporan hanya menjadi arsip. Namun, begitu dinding ambruk dan fotonya viral, birokrasi mendadak bergerak seolah-olah baru menemukan masalah yang sebenarnya sudah lama terlihat.

Tabooo.id – Ada pola yang tampaknya sudah menjadi prosedur tidak tertulis dalam birokrasi Indonesia. Bangunan mulai retak? Catat. Atap bocor? Laporkan. Plafon melengkung? Pantau. Namun, ketika bangunan akhirnya roboh, kamera berdatangan, tagar mulai ramai, dan perhatian publik memuncak. Saat itulah rapat koordinasi mendadak muncul di agenda.

Entah sejak kapan algoritma media sosial berubah menjadi sistem peringatan dini paling efektif di negeri ini.

Padahal, pemerintah memiliki kementerian, dinas pendidikan, inspektorat, hingga Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang rutin memotret kondisi ribuan sekolah. Selain itu, setiap daerah juga mengirim laporan berkala mengenai kondisi bangunan. Artinya, semua informasi sebenarnya sudah tersedia jauh sebelum sebuah dinding runtuh atau seorang murid harus belajar di bawah langit terbuka.

Sayangnya, data sering berakhir sebagai angka di layar komputer. Sebaliknya, sebuah foto viral justru mampu menggerakkan birokrasi lebih cepat daripada laporan resmi.

Menunggu Drama, Bukan Mencegah Bencana

Kasus SD Negeri Tanggirejo di Grobogan kembali memperlihatkan pola lama yang terus berulang. Murid-murid tetap belajar meski ruang kelas mereka kehilangan atap. Setelah foto kondisi sekolah menyebar luas, perhatian pemerintah pun datang bersama janji revitalisasi. Tentu, langkah itu patut diapresiasi. Sekolah memang harus segera diperbaiki. Namun, persoalan yang lebih besar tidak berhenti pada pencairan anggaran.

Ini Belum Selesai

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Negara Hukum atau Massa? Pencuri Ayam dan Matinya Keadilan

Mengapa sebuah bangunan harus roboh lebih dulu agar masuk daftar prioritas?

Bukankah tugas pemerintah adalah mencegah kerusakan sebelum berubah menjadi bencana?

Ironisnya, banyak orang justru memuji kecepatan respons setelah tragedi terjadi. Padahal, ukuran keberhasilan tata kelola bukan terletak pada cepatnya memperbaiki kerusakan, melainkan pada kemampuannya mencegah kerusakan sejak awal.

Rapat Selalu Siap, Asal Setelah Viral

Birokrasi Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan rapat.

Ada rapat koordinasi.

Ada rapat evaluasi.

Kemudian ada rapat sinkronisasi.

Bahkan, tidak jarang muncul rapat percepatan, lengkap dengan rapat lanjutan untuk mengevaluasi hasil percepatan tersebut.

Masalahnya bukan jumlah rapat. Masalahnya, rapat terlalu sering mengikuti irama media sosial. Bangunan roboh, rapat dimulai. Jalan putus, rapat digelar. Banjir datang, rapat berlangsung. Data bocor, rapat kembali berlangsung.

Seolah-olah bencana telah berubah menjadi surat undangan resmi bagi seluruh pemangku kepentingan. Padahal, sekolah tidak membutuhkan notulen rapat. Sekolah membutuhkan atap yang tidak bocor.

Data Sudah Lengkap, Keberanian Masih Kurang

Sulit mengatakan pemerintah tidak mengetahui kondisi sekolah.

Dapodik menyimpan data.

Pemerintah daerah menerima laporan.

Pemerintah pusat menjalankan program revitalisasi.

Komisi X DPR pun berkali-kali mengingatkan pentingnya pemeliharaan sebelum kerusakan membesar.

Dengan kata lain, masalahnya bukan kekurangan informasi. Sebaliknya, terlalu banyak pihak memilih menunggu pihak lain bergerak lebih dulu. Pemerintah daerah menunggu bantuan pusat. Di sisi lain, pemerintah pusat meminta daerah menjalankan kewenangannya. Sementara itu, anggaran menunggu usulan, usulan menunggu verifikasi, dan verifikasi menunggu persetujuan administrasi.

Proses itu terus berjalan.

Sayangnya, murid tidak bisa menunda kegiatan belajar hanya karena birokrasi masih sibuk memproses dokumen.

Sekolah Bukan Konten

Ada ironi yang semakin sulit diabaikan.

Di era media sosial, sebuah sekolah rusak sering lebih cepat dikenal publik daripada terdeteksi sebagai prioritas kebijakan. Video berdurasi tiga puluh detik mampu menggerakkan perhatian nasional. Sebaliknya, laporan teknis setebal puluhan halaman sering hanya menjadi arsip.

Tentu, media sosial bukan pihak yang patut disalahkan.

Masalah sebenarnya muncul ketika birokrasi ikut bekerja dengan logika yang sama. Jika perhatian negara bergantung pada tingkat viralitas sebuah tragedi, maka algoritma perlahan menggantikan fungsi perencanaan. Akibatnya, pembangunan tidak lagi mengikuti peta kebutuhan, melainkan mengikuti arus perhatian publik.

Yang Perlu Direvitalisasi Bukan Hanya Bangunan

Pemerintah telah mengalokasikan triliunan rupiah untuk memperbaiki puluhan ribu sekolah. Langkah itu penting dan harus terus berlanjut. Namun, revitalisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan tembok baru.

Pemerintah juga perlu memperbaiki cara kerja birokrasi. Pemeliharaan harus menjadi prioritas, bukan pilihan terakhir. Pencegahan harus lebih cepat daripada konferensi pers. Pengawasan harus lebih aktif daripada menunggu keluhan masyarakat menjadi viral.

Sebab, setiap sekolah yang roboh sebenarnya menyampaikan pesan sederhana. Bangunan itu tidak ambruk dalam satu malam. Retakan muncul sedikit demi sedikit. Atap mulai bocor lebih dulu. Dinding perlahan melemah. Namun, banyak orang baru menyadari bahayanya ketika semuanya sudah terlambat.

Begitu pula dengan birokrasi. Kepekaan tidak hilang secara tiba-tiba. Ia memudar sedikit demi sedikit ketika perhatian lebih mudah tertuju pada sorotan publik daripada laporan yang sudah lama tersedia.

Pada akhirnya, anak-anak datang ke sekolah untuk mengejar cita-cita, bukan untuk menjadi latar foto yang mengingatkan negara bahwa masih ada ruang kelas yang hampir runtuh. Kalau sebuah bangunan harus roboh lebih dulu agar pemerintah bergerak, mungkin yang paling membutuhkan revitalisasi bukan hanya sekolah. Melainkan budaya birokrasi yang terlalu sering menunggu krisis sebelum mulai bekerja. @anisa

Tags: Infrastruktur PendidikanPendidikan IndonesiaRevitalisasi SekolahSekolah Roboh

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah Rusak, Siapa Sebenarnya Bertanggung Jawab?

Sekolah Rusak, Siapa Sebenarnya Bertanggung Jawab?

by dimas
Juli 27, 2026

Sekolah rusak terus berulang meski kewenangan sudah jelas. Mengapa pemerintah baru bergerak setelah bangunan roboh dan siapa yang sebenarnya bertanggung...

Ketika Guru Kehilangan Wibawa: Apa yang Terjadi di Ruang Pendidikan Kita?

Ketika Guru Kehilangan Wibawa: Apa yang Terjadi di Ruang Pendidikan Kita?

by teguh
Juli 27, 2026

"Kenapa kamu tegur saya? Orang tua saya saja tidak pernah marahi saya." Suara itu terdengar sederhana. Kalimat itu mungkin hanya...

Universitas Republik Indonesia: Solusi Pendidikan atau Ambisi Kekuasaan?

Universitas Republik Indonesia: Solusi Pendidikan atau Ambisi Kekuasaan?

by dimas
Juli 24, 2026

Pemerintah membentuk Universitas Republik Indonesia (URI) untuk mencetak pemimpin masa depan. Namun, benarkah kampus baru ini menjadi solusi pendidikan, atau...

Next Post
833 Dapur MBG Ditutup, Ada Apa dengan Sistem Pengawasannya?

833 Dapur MBG Ditutup, Ada Apa dengan Sistem Pengawasannya?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id