Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hutan Gundul Lereng Slamet, Banjir Bandang Menggulung Guci

by sigit
Desember 22, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Air datang tanpa permisi dari lereng Gunung Slamet, air meluncur seperti ingatan lama yang tiba-tiba terbuka paksa. Batu, tanah, dan ranting saling berdesakan dalam satu tubuh air yang liar. Di kawasan Pemandian Air Panas Guci, gemuruh memecah pagi Sabtu itu. Kolam yang biasanya mengepulkan uap hangat mendadak menjelma sungai buas. Dalam hitungan menit, Pancuran 13 lenyap, seolah tak pernah ada.

Bagi warga sekitar, banjir bandang Sungai Kali Gung pada 20 Desember 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Sebaliknya, kejadian itu terasa seperti teguran yang terlambat didengar. Lebih dari itu, ia menyerupai janji lama yang terus diabaikan.

Lereng yang Pelan-Pelan Botak

Beberapa hari setelah kejadian, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman mengakui fakta yang sejak lama dibisikkan warga: tutupan hutan di lereng Gunung Slamet terus menyusutHutan lindung perlahan berganti rupa. Pepohonan tinggi menyusut, digantikan hamparan sayur-mayur. Warnanya memang hijau, tetapi rapuh.

Menurut Ischak, alih fungsi lahan tersebut ikut meningkatkan risiko banjir bandang. Tanpa akar yang kuat, hujan tak lagi tertahan. Air pun langsung meluncur ke bawah, menyeret apa pun yang longgar tanah, batu, bahkan harapan.

Sebagai respons, pemerintah daerah menjanjikan penghijauan ulang. Mereka akan menanami lahan kritis dan menyiapkan bibit pohon pada 2026. Selain itu, pengawasan lintas sektor bakal diperkuat dengan melibatkan TNI-Polri, Perhutani, BKSDA, hingga pemerintah pusat.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Di atas kertas, rencana itu terdengar rapi. Namun di telinga warga, semuanya terasa datang terlambat.

Di Antara Wisata dan Nafas Hidup

Guci bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang hidup. Air panas dari Pancuran 13 mengalir lewat pipa-pipa sederhana menuju penginapan warga. Dari sanalah dapur menyala. Lewat air itu pula, anak-anak berangkat sekolah. Bahkan, musim liburan sering terasa seperti panen.

Namun ketika banjir bandang datang, dampaknya menjalar ke mana-mana. Tak hanya kolam wisata yang rusak, jaringan pipa air panas pun tertimbun tanah dan batu. Akibatnya, sejumlah penginapan kehilangan sumber utama airnya. Uap hangat yang dulu jadi daya tarik kini tinggal ingatan.

Pejabat menyebut, “Tidak ada korban jiwa.” Kalimat itu kerap menjadi penutup konferensi pers. Akan tetapi, bagi warga, hidup tidak sesederhana selamat atau tidak. Di baliknya, ada pendapatan yang terhenti, utang yang menunggu, serta musim liburan yang seharusnya ramai namun justru penuh kecemasan.

Di lapangan, warga Desa Guci dan Desa Rembul bergerak bersama. Mereka menggali, membersihkan, dan menyingkirkan lumpur dari sumber mata air. Aparat TNI, Polri, BPBD, hingga petugas kehutanan ikut turun tangan. Semua bergerak cepat, berharap keadaan segera pulih.

Meski begitu, di sela kerja gotong royong, ketegangan tetap terasa. Di udara dingin pegunungan, satu pertanyaan menggantung tanpa suara: apakah ini akan terulang?

Normal yang Dipaksakan

Pemerintah daerah menyebut pariwisata Guci “masih berjalan normal”. Memang, beberapa destinasi tetap buka. Bahkan, okupansi penginapan mencapai 90 persen menjelang Natal dan Tahun Baru.

Namun, normal versi siapa?

Hingga kini, Pancuran 13 ikon Guci belum bisa diakses. Pancuran 5 baru diperkirakan pulih setelah pembersihan rampung. Meski begitu, wisatawan terus berdatangan. Jalanan tetap ramai, mobil berjejer, uang terus berputar.

Di balik angka okupansi itu, warga hidup dalam kewaspadaan. Cuaca ekstrem belum usai. Lereng masih terluka. Hutan belum kembali. BPBD memang menyiapkan early warning system berbasis prakiraan cuaca. Teknologi hadir. Akan tetapi, alam tak selalu patuh pada notifikasi.

Di sinilah ironi muncul. Saat risiko meningkat, aktivitas justru dipercepat. Seolah ekonomi harus terus berjalan, apa pun yang terjadi. Seolah alam bisa diminta menunggu.

Gunung yang Tak Pernah Benar-Benar Diam

Dari kejauhan, Gunung Slamet tampak gagah. Diam. Tegak. Namun diam tidak selalu berarti setuju. Lerengnya menyimpan sejarah panjang relasi manusia dan alam. Penebangan berlangsung pelan-pelan. Pembukaan lahan terjadi sedikit demi sedikit. Semuanya sah, berizin, dan kerap dibungkus alasan ekonomi.

Sayuran memang tumbuh cepat. Uang berputar harian. Namun pohon butuh waktu. Akar perlu tahun demi tahun untuk mencengkeram tanah. Ketika manusia memutus keseimbangan sepihak, alam hanya menunggu momen untuk mengembalikan hitungan.

Karena itu, banjir bandang Kali Gung bukan anomali. Ia bagian dari pola yang berulang di banyak tempat dari lereng gunung hingga pesisir, dari hutan lindung hingga kawasan wisata.

Apa yang Disembunyikan Sistem?

Dalam narasi resmi, bencana sering disebut sebagai “dampak cuaca ekstrem”. Kalimat itu aman dan netral. Ia tidak menunjuk siapa pun. Namun di baliknya, sistem membiarkan hutan berubah fungsi tanpa kontrol ketat. Kebijakan pun kerap menimbang ekonomi jangka pendek lebih berat daripada keselamatan jangka panjang.

Penghijauan hampir selalu muncul setelah bencana. Jarang sebelumnya. Bibit pohon datang setelah air bah. Janji pengawasan menguat setelah kerusakan nyata. Seolah kita menunggu alam berteriak dulu sebelum mau mendengar.

Selain itu, sistem gemar memisahkan urusan. Pariwisata berjalan sendiri. Kehutanan punya logika sendiri. Lingkungan sering berakhir di ruang seminar. Di lapangan, semua kepentingan itu bertemu dalam satu arus banjir.

Sementara itu, warga kerap menjadi penyangga terakhir. Mereka menambal kerusakan, membersihkan lumpur, menenangkan wisatawan, dan bertahan di antara janji serta kenyataan.

Menunggu Hujan Berikutnya

Pembersihan Pancuran 13 ditargetkan rampung dalam tujuh hari. Target memang penting. Namun setelah itu, pertanyaan yang lebih besar muncul: apa yang benar-benar berubah?

Apakah lereng akan sungguh dipulihkan?
Apakah alih fungsi lahan akan dikendalikan, bukan sekadar diawasi di atas kertas?
Ataukah pariwisata mau belajar menahan diri ketika alam memberi tanda?

Atau jangan-jangan, kita akan kembali ke siklus lama: ramai, lupa, lalu panik?

Di Guci, uap air panas perlahan kembali terlihat. Warga tersenyum tipis. Wisatawan sibuk berfoto. Dari kejauhan, Gunung Slamet tetap berdiri tenang, seolah tak terjadi apa-apa.

Namun alam selalu mencatat.
Dan suatu hari nanti, air bisa kembali datang tanpa permisi. (red)

Tags: banjirhutanManusia

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

by Waras
Mei 11, 2026

Dulu banjir datang setahun sekali. Sekarang, banyak kota di Indonesia terasa seperti tinggal menunggu giliran tenggelam. Hujan memang makin ekstrem....

Generasi Non-Stop: Saat Mesin Terus Hidup, Manusia Dipaksa Ikut

Generasi Non-Stop: Saat Mesin Terus Hidup, Manusia Dipaksa Ikut

by teguh
April 15, 2026

Tabooo.id: Deep - Notifikasi datang bahkan sebelum mata benar-benar terbuka. Layar menyala, jadwal sudah padat, dan waktu seperti menolak untuk...

Sukoharjo Terendam: Air Meluap atau Sistem yang Tak Pernah Siap?

Sukoharjo Terendam: Air Meluap atau Sistem yang Tak Pernah Siap?

by dimas
April 15, 2026

Tabooo.id: Regional - Hujan turun, air naik, dan masalah lama kembali muncul.Warga Sukoharjo tidak lagi melihat ini sebagai kejadian baru....

Next Post
Email Jadi Medan Perang, AI Bikin Inbox Tak Lagi Aman

Email Jadi Medan Perang, AI Bikin Inbox Tak Lagi Aman

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id