Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Healing Ditunda Dulu Gunung Rinjani Tutup Jalur, Alam Minta Napas

by teguh
Mei 8, 2026
in Culture, Travel
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Travel – Pernah nggak sih kamu ngerasa capek banget sampai pengin cuti hidup, lalu mikir, “Ke Rinjani aja kali ya, reset sekalian”? Nah, kabar ini mungkin bikin rencana tahun baru kamu sedikit melenceng. Gunung Rinjani resmi tutup jalur pendakian sampai April 2026. Bukan karena drama, bukan karena overbooking, tapi karena satu alasan sederhana yang sering kita lupakan alam juga butuh istirahat.

Saat Rinjani Bilang: “Gue Capek, Bro”

Penutupan ini berlaku mulai 31 Desember 2025. Artinya, kalau kamu berniat menyambut 2026 dengan langkah kaki menuju puncak tertinggi Lombok, sebaiknya tarik napas dulu. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memilih menutup semua jalur pendakian demi memulihkan ekosistem yang sudah bekerja keras selama sembilan bulan terakhir.

Kepala Seksi Wilayah II TNGR, Ma’ruf Hadi, bilang dengan lugas Rinjani sudah “kerja rodi” terlalu lama. Dalam sembilan bulan terakhir, gunung ini menerima ribuan pasang sepatu, tenda, tongkat trekking, plus beban alamiah seperti hujan ekstrem. Jalur longsor muncul di beberapa titik, termasuk jalur naga yang terkenal bikin adrenalin naik.

Daripada memaksakan buka lalu membahayakan pendaki, pengelola memilih opsi yang lebih dewasa berhenti sejenak, beres-beres, lalu lanjut lagi dengan kondisi lebih aman.

Angka yang Bikin Merinding (Bukan Karena Dinginnya)

Data Balai TNGR mencatat hingga November 2025, 124.649 orang mengunjungi kawasan Gunung Rinjani. Dari jumlah itu, sekitar 42 ribu wisatawan mancanegara dan lebih dari 81 ribu pendaki domestik datang silih berganti. Bulan Desember bahkan sudah hampir penuh sebelum penutupan resmi dimulai.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Angka ini terdengar membanggakan. Pariwisata hidup. Ekonomi lokal berputar. Tapi di sisi lain, tekanan pada alam ikut melonjak. Jalur aus, vegetasi rusak, dan risiko kecelakaan meningkat. Gunung yang terus-menerus “dipakai” tanpa jeda lama-lama bisa kolaps. Mirip manusia yang kerja lembur tanpa libur, ujung-ujungnya tumbang.

Tren Healing yang Perlu Dikasih Rem

Beberapa tahun terakhir, naik gunung berubah jadi simbol self-healing. Capek kerja? Mendaki. Burnout? Mendaki. Putus cinta? Mendaki. Feed Instagram pun penuh foto kabut, puncak, dan caption reflektif ala filsuf dadakan.

Masalahnya, tren ini sering lupa satu hal alam bukan tempat pelarian gratis. Gunung bukan objek mati yang bisa kita eksploitasi sesuka hati. Saat jumlah pendaki melonjak tanpa kontrol, dampaknya langsung terasa. Rinjani sekarang memberi sinyal jelas: healing boleh, tapi jangan rakus.

Penutupan ini seperti boundary setting versi alam. Sama seperti kamu yang akhirnya berani bilang “enggak” ke bos atau grup chat toxic, Rinjani juga berhak bilang, “Stop dulu.”

Liburan Nggak Harus Selalu ke Puncak

Kabar baiknya, penutupan jalur pendakian bukan berarti Lombok jadi zona mati wisata. TNGR tetap membuka objek nonpendakian seperti Savana Propok, Bukit Gedong, Top Kondo, dan beberapa bukit lain di kawasan Sembalun. Tempat-tempat ini menawarkan lanskap cantik tanpa harus menginjak jalur ekstrem.

Buat kamu yang kangen udara dingin dan pemandangan hijau, opsi ini bisa jadi kompromi sehat. Kamu tetap dapat alam, tapi dengan dampak yang lebih ringan. Plus, kaki nggak perlu drama lecet berhari-hari.

Rinjani, Kita Ketemu Lagi Nanti

Penutupan sampai April 2026 memberi waktu cukup bagi alam untuk bernapas. Pengelola bakal memperbaiki jalur rusak, menata ulang area rawan, dan memastikan pendakian berikutnya lebih aman. Saat Rinjani buka lagi, pengalaman mendaki justru bisa lebih berkualitas.

Lebih dari sekadar soal jadwal liburan, keputusan ini ngajarin kita satu hal penting keberlanjutan lebih seksi daripada kejar konten. Alam yang sehat bikin petualangan lebih bermakna, bukan sekadar checklist destinasi.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kalau rencana naik Rinjani harus ditunda, mungkin ini momen buat mikir ulang cara kamu berlibur. Apakah tujuanmu benar-benar menyatu dengan alam, atau cuma ngejar validasi? Mungkin juga ini saat yang tepat buat healing tanpa harus selalu ke puncak.

Toh, istirahat nggak melulu soal tempat tinggi. Kadang, yang kita butuhkan cuma jeda. Dan sekarang, Rinjani sudah memberi contoh. @teguh

Tags: DestinasiEkonomi IndonesiagunungHealingKontenLiburanPariwisatapendakiPuncak

Kamu Melewatkan Ini

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

by dimas
Juni 9, 2026

Chatib Basri bertemu Prabowo selama dua jam di Istana. Apakah ini sekadar konsultasi ekonomi atau sinyal perubahan di Dewan Ekonomi...

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

by teguh
Juni 8, 2026

Investasi menjadi kesejahteraan adalah ujian terbesar yang sedang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ramainya spekulasi reshuffle kabinet, tantangan...

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Katanya Rupiah Mau ke Rp15.000, Kok Malah Nyasar ke Rp18.000?

by dimas
Juni 5, 2026

Pemerintah menargetkan rupiah kembali ke Rp15.000 per dolar AS. Namun pasar justru mendorongnya tembus Rp18.000. Salah strategi atau krisis kepercayaan?...

Next Post
Hutan Gundul Lereng Slamet, Banjir Bandang Menggulung Guci

Hutan Gundul Lereng Slamet, Banjir Bandang Menggulung Guci

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id