Tabooo.id: Travel – Pernah nggak sih kamu merasa libur panjang itu bukan cuma soal istirahat, tapi juga soal gengsi? Siapa yang paling estetik feed Instagram-nya. Siapa yang paling “dapet momen.” Nah, jelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Kementerian Pariwisata membuat banyak orang melirik Kota Solo.
Solo resmi direkomendasikan sebagai salah satu destinasi wisata untuk merayakan Imlek 2026. Selain Solo, daftar kota unggulan mencakup Singkawang, Kota Semarang, Palembang, Selatpanjang, dan Jakarta.
Di Solo, pusat perayaan berlangsung di kawasan Pasar Gede yang berdekatan dengan Klenteng Tien Kok Sie. Kawasan ini setiap tahun dipenuhi lampion merah dan rangkaian acara seperti Solo Imlek Festival, ritual Pao Oen, Grebeg Sudiro, hingga Cap Go Meh.
Tren Wisata Bermakna
Belakangan, cara Gen Z dan milenial memilih destinasi mulai berubah. Jika dulu yang dicari adalah tempat viral dan murah, kini banyak yang mengutamakan pengalaman.
Tren experience over possession mendorong orang membeli cerita, bukan sekadar barang. Wisata budaya menjadi pilihan karena menawarkan perjumpaan lintas tradisi.
Di Solo, Imlek bukan hanya perayaan warga Tionghoa. Grebeg Sudiro memperlihatkan akulturasi Jawa dan Tionghoa melalui kirab budaya dan gunungan kue keranjang. Di tengah isu intoleransi yang kerap muncul, perayaan seperti ini terasa relevan sebagai simbol keberagaman.
Daya Tarik Sosial Solo
Ada faktor psikologis yang ikut bermain. Setelah melewati pandemi dan tekanan ekonomi, banyak orang mengalami kelelahan kolektif. Mereka mencari ruang kebersamaan.
Festival Imlek di Solo menghadirkan atmosfer komunal. Lampion menyala sebagai simbol harapan. Ritual menjadi ruang refleksi. Selain itu, skala kota yang relatif ramah dan biaya yang terjangkau membuat Solo realistis bagi wisatawan muda.
Wisata dan Komersialisasi
Setiap perayaan besar tentu berdampak pada ekonomi lokal. Hotel terisi, UMKM bergerak, pedagang merasakan peningkatan pembeli.
Namun muncul pertanyaan: apakah wisata budaya hanya menjadi komoditas visual? Apakah makna tradisi tetap dipahami, atau sekadar latar foto?
Di satu sisi, viralitas membantu pelestarian. Di sisi lain, ada risiko penyederhanaan makna. Tantangannya terletak pada bagaimana pengunjung memaknai pengalaman tersebut.
Liburan dan Refleksi
Libur panjang sering dimaknai sebagai pelarian dari rutinitas. Namun wisata berbasis budaya menawarkan perspektif berbeda. Ia memberi kesempatan untuk melihat tradisi yang telah dijaga puluhan bahkan ratusan tahun.
Pengalaman itu bisa menjadi pengingat bahwa hidup tidak semata tentang produktivitas dan pencapaian.
Relevansi atau Euforia?
Solo direkomendasikan sebagai destinasi Imlek 2026 dengan rangkaian acara lengkap dan lokasi strategis. Tren wisata juga menunjukkan pergeseran menuju pengalaman yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan masing-masing. Apakah perjalanan ini sekadar konten, atau menjadi ruang belajar tentang toleransi dan keberagaman?
Lampion mungkin hanya menyala beberapa hari. Tetapi perspektif yang terbuka bisa bertahan jauh lebih lama. @eko





