Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

by jeje
Mei 6, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit membungkuk. Namun, matanya tetap sibuk mencari penumpang.

Tabooo.id: Vibes – Di jalan yang sama, motor melesat seperti sedang dikejar waktu. Sementara itu, mobil-mobil baru memenuhi lampu merah. Orang-orang juga sibuk bicara soal kendaraan listrik, transportasi pintar, dan kota modern.

Namun di tengah hiruk-pikuk itu, becak perlahan menghilang dari percakapan.

“Sekarang jarang yang naik becak. Paling orang tua atau wisatawan,” kata Slamet sambil tersenyum tipis.

Meski begitu, Slamet bukan satu-satunya. Di banyak kota Indonesia, becak masih bertahan. Mereka tidak benar-benar hilang. Hanya saja, kota perlahan membuat mereka sulit terlihat.

Modernisasi sering datang dengan satu syarat tak tertulis: yang lambat harus minggir.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Ruang Hidup yang Makin Sempit

Banyak orang melihat becak sebagai penghambat lalu lintas. Sebagian menganggapnya tidak efisien dan ketinggalan zaman. Karena itu, sejumlah daerah mulai membatasi ruang geraknya. Meski demikian, para pengayuh becak tetap bertahan di gang kecil, pasar tradisional, atau dekat stasiun tua.

Padahal bagi sebagian orang, becak bukan sekadar kendaraan.

Becak adalah cara terakhir untuk bertahan hidup.

Sebagian besar pengayuh becak merupakan lelaki lanjut usia yang sulit masuk ke dunia kerja formal. Pendidikan yang terbatas, tenaga yang tidak lagi kuat, serta pilihan kerja yang makin sempit membuat mereka terus mengayuh di tengah kerasnya kota.

Ironisnya, kota sering bangga bicara soal “pembangunan inklusif”. Namun pada saat yang sama, ruang untuk orang kecil justru terus menyusut.

Trotoar kini terlihat lebih rapi. Jalan semakin lebar. Mal tumbuh di banyak sudut kota. Selain itu, cafe modern terus bermunculan. Akan tetapi, para pengayuh becak justru makin tersingkir dari wajah kota modern.

Mereka masih ada. Hanya saja, banyak orang memilih untuk tidak melihat.

Kenangan yang Pelan-Pelan Hilang

Di sisi lain, becak menyimpan memori sosial yang tidak bisa digantikan mesin.

Banyak orang tumbuh bersama suara lonceng becak di pagi hari. Ada yang berangkat sekolah dengan becak. Ada pula yang pulang dari pasar sambil duduk di kursi sempitnya. Kenangan itu dulu terasa biasa. Namun sekarang, semuanya perlahan berubah menjadi nostalgia.

Masalahnya, kota modern terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa menghormati masa lalu.

Memang, becak tidak secepat motor. Becak juga tidak secanggih aplikasi transportasi online. Namun di balik kayuhan lambat itu, ada manusia yang berusaha hidup dengan cara paling jujur yang ia punya.

Dan mungkin, itu yang mulai jarang kita lihat.

Ini bukan sekadar cerita tentang kendaraan tua. Ini tentang bagaimana kota menentukan siapa yang layak tetap terlihat.

Karena pada akhirnya, becak tidak mati.

Mereka hanya disembunyikan. @jeje

Tags: Jawa TengahKota SoloNasionalSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Kabar OTT KPK Bupati Klaten Beredar, KPK Belum Beri Konfirmasi

Kabar OTT KPK Bupati Klaten Beredar, KPK Belum Beri Konfirmasi

by teguh
Oktober 15, 2026

Kabar OTT KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, beredar pada Kamis, 15/10/2026. Informasi itu turut menyebut nama...

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

by teguh
September 26, 2026

Pemalang kering tiga bulan tanpa kepastian air mengubah kemarau menjadi persoalan sehari-hari bagi ribuan keluarga di Pemalang, Jawa Tengah. Tabooo.id...

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

by teguh
September 26, 2026

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang masih berlansung dan air bersih yang biasanya tinggal membuka keran kini berubah menjadi barang yang...

Next Post
Larangan Guru Non-ASN 2027: Penataan Sistem atau Cara Halus Menyingkirkan Guru?

Larangan Guru Non-ASN 2027: Penataan Sistem atau Cara Halus Menyingkirkan Guru?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id