Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab Dhaup Ageng Pura Mangkunegaran, Sabtu (7/11/2026), untuk menyaksikan langsung prosesi pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian. Diiringi drum band TNI, pasukan Bergodo, pasukan berkuda, hingga kereta Glass Landauer, kemegahan tradisi kerajaan ini tak hanya menyita perhatian warga lokal, tetapi juga mengundang kekaguman masyarakat dari luar daerah.
Tabooo.id – Kemegahan tradisi kerajaan kembali menyita perhatian masyarakat Kota Surakarta. Kirab Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian, Sabtu (7/11/2026), dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung prosesi pernikahan adat Pura Mangkunegaran.
Ribuan pasang mata memadati sepanjang jalur kirab. Masyarakat dari Surakarta dan berbagai daerah turut hadir untuk menikmati salah satu momen budaya yang menyuguhkan kemegahan tradisi Mangkunegaran.
Prosesi kirab berlangsung meriah dengan iring-iringan yang menarik perhatian penonton. Barisan terdepan diawali drum band pasukan TNI, kemudian disusul pasukan Bergodo dan pasukan berkuda.
Puncak iring-iringan menampilkan kereta Glass Landauer yang membawa Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian. Berdasarkan pantauan di lapangan, KGPAA Mangkunegara X secara langsung melepas prosesi kirab tersebut.
Warga Rela Datang Demi Menyaksikan Momen Bersejarah
Antusiasme masyarakat terlihat dari kehadiran penonton yang memadati jalur kirab sejak siang hari. Bagi sebagian warga, kesempatan menyaksikan prosesi adat Mangkunegaran secara langsung menjadi pengalaman yang istimewa.
Lucia Yudianingtyas (58), warga asal Colomadu, bahkan sengaja datang seorang diri untuk menyaksikan kebahagiaan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.
“Datang sendiri, pengin menyaksikan kirab Gusti Sura sama Kanjeng Dimas,” ujar Lucia.
Meski tidak datang bersama keluarga atau teman, Lucia tetap menikmati setiap rangkaian prosesi. Ia mengaku ikut merasakan keharuan dan kebahagiaan ketika menyaksikan kedua mempelai dalam kirab tersebut.
“Ya, rasanya ikut terharu, ikut senang. Doanya semoga berbahagia selalu, rukun sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Amin, segera dapat momongan juga,” tuturnya.
Bagi Lucia, kebahagiaan pasangan pengantin seolah turut dirasakan masyarakat yang hadir. Kehangatan semacam ini membuat kirab tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menghadirkan kedekatan emosional antara keluarga Mangkunegaran dan masyarakat.
Pendatang Ikut Terpukau Kemegahan Tradisi Mangkunegaran
Daya tarik Kirab Dhaup Ageng ternyata tidak hanya dirasakan masyarakat lokal. Warga pendatang yang kini tinggal di Surakarta juga menikmati pengalaman budaya tersebut.
Intan (25), seorang pekerja asal Banjarnegara yang kini menetap di Surakarta, mengaku terkesan dengan kemegahan rombongan kirab.
Ia bahkan merasakan sensasi tersendiri ketika menyaksikan iring-iringan yang melibatkan drum band, pasukan Mangkunegaran, hingga kedua mempelai.
“Kesan-kesannya melihat rombongan kirab cukup merinding, soalnya di depan ada marching band juga, terus di belakangnya ada tim-tim dari Pura Mangkunegaran, Gusti Sura cantik, suaminya juga gagah gitu sih,” ucap Intan.
Menurutnya, pengalaman tersebut terasa istimewa karena daerah asalnya tidak memiliki sistem keraton serupa. Karena itu, menyaksikan tradisi Mangkunegaran secara langsung menjadi pengalaman budaya yang berbeda baginya.
Intan juga menyampaikan doa terbaik untuk kehidupan rumah tangga kedua mempelai.
“Semoga sakinah, mawaddah, warahmah. Kemudian semoga bisa menjalin kehidupan yang lebih baik, lebih indah berdua dan juga semoga selalu bahagia, langgeng,” tambahnya.
Ketika Tradisi Keraton Menjadi Milik Masyarakat
Kirab Dhaup Ageng Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian memperlihatkan bahwa tradisi kerajaan masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Kemegahan kereta, pasukan Bergodo, iring-iringan berkuda, hingga prosesi adat menjadi daya tarik yang mengundang masyarakat untuk datang dan menyaksikan langsung.
Namun, makna kirab tidak berhenti pada kemegahan visual. Kehadiran warga dari berbagai daerah, termasuk mereka yang tidak memiliki kedekatan langsung dengan lingkungan keraton, memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi ruang perjumpaan budaya. @jeje







