Tabooo.id: Bisnis – Harga emas batangan produksi PT Antam Tbk kembali menanjak. Mengutip laman resmi Logam Mulia di Jakarta, Selasa pukul 08.44 WIB, harga emas naik Rp40.000 dari Rp3.028.000 menjadi Rp3.068.000 per gram. Kenaikan ini mempertegas tren penguatan logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Tak hanya harga jual, harga beli kembali (buyback) juga ikut terdongkrak. Antam kini mematok buyback di level Rp2.854.000 per gram. Artinya, investor yang menjual emas hari ini bisa memperoleh nilai lebih tinggi dibanding hari sebelumnya.
Namun demikian, harga emas bergerak dinamis. Antam dapat mengubah harga sewaktu-waktu mengikuti fluktuasi pasar dunia dan nilai tukar rupiah.
Pajak Mengikuti Setiap Transaksi
Pemerintah mengenakan pajak atas setiap transaksi emas batangan. Aturan ini merujuk pada PMK Nomor 34/PMK.10/2017 yang mengatur pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.
Jika investor menjual kembali emas batangan ke Antam dengan nilai di atas Rp10 juta, maka petugas memotong PPh 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan 3 persen bagi non-NPWP. Petugas langsung mengurangi pajak tersebut dari total nilai buyback.
Sementara itu, saat membeli emas batangan, pembeli juga membayar PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap transaksi disertai bukti potong resmi.
Daftar Harga Terbaru Emas Antam
Berdasarkan pembaruan terakhir di laman Logam Mulia, berikut rincian harga emas batangan:
- 0,5 gram: Rp1.584.000
- 1 gram: Rp3.068.000
- 2 gram: Rp6.076.000
- 3 gram: Rp9.089.000
- 5 gram: Rp15.115.000
- 10 gram: Rp30.175.000
- 25 gram: Rp75.312.000
- 50 gram: Rp150.545.000
- 100 gram: Rp301.012.000
- 250 gram: Rp752.265.000
- 500 gram: Rp1.504.320.000
- 1.000 gram: Rp3.008.600.000
Siapa yang Paling Terdampak?
Kenaikan harga emas langsung berdampak pada investor ritel dan masyarakat kelas menengah yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai. Di satu sisi, pemilik emas menikmati kenaikan nilai aset. Di sisi lain, calon pembeli harus merogoh kocek lebih dalam.
Lonjakan ini juga mencerminkan sikap pasar yang mencari aset aman di tengah tekanan global, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga fluktuasi ekonomi. Ketika risiko meningkat, emas kembali menjadi pelabuhan.
Pada akhirnya, pergerakan emas bukan sekadar angka di papan harga. Ia menjadi cermin rasa waswas pasar. Saat harga terus naik, publik boleh jadi untung tetapi kenaikan itu juga menyiratkan satu pesan kepercayaan pada stabilitas ekonomi belum sepenuhnya pulih. @dimas





