Senin, Juni 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pasar Argosari Sepi, Pedagang Keluhkan Dampak Program MBG

by dimas
Februari 24, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar operasi pasar di Pasar Argosari, Wonosari, Selasa (24/2/2026). Dalam agenda itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turun langsung menemui pedagang. Ia tidak hanya membuka operasi pasar secara simbolis di area parkir, tetapi juga berkeliling dan mendengar keluhan para penjual.

Sejumlah pedagang menyampaikan dua persoalan utama harga bahan pokok naik dan jumlah pembeli menurun drastis. Mereka bahkan mengaitkan kondisi pasar yang sepi dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wardani, salah satu pedagang, mengaku omzetnya terus merosot dalam beberapa bulan terakhir. Ia menilai dapur penyedia MBG tidak berbelanja di pasar tradisional, melainkan langsung ke pemasok besar.

“Dampaknya besar. Pasar jadi sepi, mau laku saja susah,” ujarnya.

Menurut Wardani, perubahan pola belanja juga terasa jelas. Jika sebelumnya banyak orang tua berbelanja pada siang atau sore hari untuk kebutuhan sarapan anak, kini kebiasaan itu hampir hilang. Ia bahkan kesulitan membayar cicilan bank akibat penurunan pendapatan. Karena itu, ia berharap pemerintah menjembatani kerja sama antara pengelola dapur MBG dan pedagang pasar.

Ini Belum Selesai

English Fun Holiday Winongo Hadirkan Liburan Edukatif untuk Anak

MBG Libur Sekolah, Anak Tenang, Pengusaha Kepanasan

Harga Naik, Pembeli Turun

Keluhan serupa datang dari pedagang lain, Sutingah. Ia mencatat penurunan jumlah pembeli bersamaan dengan lonjakan harga sejumlah komoditas. Harga cabai rawit, misalnya, menembus Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, harga kacang panjang naik dari Rp13.000 menjadi Rp17.000 per kilogram, meski fluktuatif tergantung pasokan.

Kenaikan harga tidak hanya membebani konsumen rumah tangga, tetapi juga mempersempit margin pedagang kecil. Mereka harus membeli dengan harga tinggi, sementara daya beli warga tidak ikut naik. Situasi ini membuat pedagang serba salah menaikkan harga berisiko kehilangan pembeli, tetapi menahan harga berarti menanggung kerugian.

Kondisi tersebut paling terasa bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM yang bergantung pada perputaran uang harian. Ketika pasar sepi, arus kas mereka langsung terganggu.

Respons Pemkab dan Tantangan Inflasi

Menanggapi keluhan itu, Endah mengakui perubahan pola belanja masyarakat ikut memengaruhi dinamika pasar tradisional. Ia menilai zaman telah berubah, termasuk dengan maraknya belanja daring dan perubahan sistem distribusi bahan pangan.

Ia juga menyebut pasokan untuk dapur MBG yang tidak melalui pasar tradisional ikut mengurangi transaksi pedagang kecil.

“Ini menjadi pemikiran bersama agar UMKM kita tetap bertahan,” tambahnya.

Pemerintah daerah pun menggelar operasi pasar sebagai langkah menekan harga dan menjaga daya beli. Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, menjelaskan bahwa pihaknya menyalurkan kebutuhan pokok seperti gula dan minyak goreng melalui pedagang yang ditunjuk. Pemerintah memberi tanda khusus pada warung yang menjual komoditas bersubsidi agar masyarakat mudah mengenali.

Selain itu, pemerintah berencana mempertemukan paguyuban pedagang dengan pengelola dapur MBG. Kelik ingin mencari titik temu agar sebagian kebutuhan bahan pokok bisa dipasok dari pasar tradisional setempat. Namun ia mengakui persoalan harga dan volume menjadi tantangan utama dalam skema tersebut.

Siapa yang Paling Terdampak?

Kondisi ini paling dirasakan pedagang pasar tradisional dan UMKM kecil. Mereka bergantung pada transaksi harian untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar kewajiban kredit. Ketika pembeli berkurang dan harga naik, tekanan ekonomi langsung menghantam dapur mereka sendiri.

Di sisi lain, program MBG bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah. Namun distribusi bahan pangan yang terpusat pada pemasok besar memicu efek domino pada ekonomi lokal. Jika pasar tradisional kehilangan peran, maka yang tergerus bukan hanya omzet pedagang, tetapi juga ekosistem usaha kecil di sekitarnya.

Operasi pasar mungkin bisa menahan gejolak harga untuk sementara. Namun pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung bagaimana pemerintah menyeimbangkan program sosial berskala nasional dengan denyut ekonomi lokal? Sebab jika kebijakan besar tidak menyentuh pasar kecil, yang paling dulu tumbang adalah mereka yang setiap hari membuka lapak sejak subuh. @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaGunungkidulHargaInflasiLokalMakan Bergizi GratisMBGOperasiPasarPedagangSembako

Kamu Melewatkan Ini

MBG Libur Sekolah, Anak Tenang, Pengusaha Kepanasan

MBG Libur Sekolah, Anak Tenang, Pengusaha Kepanasan

by dimas
Juni 21, 2026

BGN menghentikan MBG selama libur sekolah demi menghemat Rp3 triliun. Anak tenang, tetapi pengusaha dan mitra SPPG menilai kebijakan itu...

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

by teguh
Juni 20, 2026

Ribuan mahasiswa mendatangi Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (19/06/2026). Mereka membawa satu kegelisahan yang kini makin keras terdengar karena...

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

by teguh
Juni 13, 2026

Bagi banyak orang, subsidi BBM terlihat sebagai bentuk kehadiran negara. Selama harga bahan bakar tetap terjangkau, masyarakat merasa pemerintah masih...

Next Post
Bocoran Al Ghazali: Pernikahan El Rumi Lebih Meriah dan Internasional

Bocoran Al Ghazali: Pernikahan El Rumi Lebih Meriah dan Internasional

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id