Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

by teguh
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Malam itu, Monumen Arek Lancor di Pamekasan tidak sekadar menampung acara silaturahmi. Tempat itu menampung kegelisahan lama tentang nasib petani tembakau.

Kepala desa, pengusaha, dan kiai duduk bersama. Mereka membawa satu isu yang selalu kembali setiap musim panen harga.

Khairul Umam atau Haji Her, pengusaha rokok asal Pamekasan, datang dengan pesan tegas. Ia meminta semua pihak menjaga kesejahteraan petani.

“Ini harus dipertahankan. Mereka harus sejahtera, salah satunya tembakau tetap harus terbeli mahal,” kata Haji Her, Sabtu, 18/04/2026.

Kalimat itu terdengar menenangkan. Namun pertanyaan besarnya tetap sama kenapa petani masih menunggu orang lain menentukan nilai hasil kerjanya?

Ini Belum Selesai

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

Petani Menanam, Orang Lain Menilai

Di Madura, tembakau bukan sekadar komoditas. Tembakau menjadi musim harapan bagi banyak keluarga.

Petani membeli bibit, menyiapkan lahan, merawat tanaman, lalu memanen dengan tenaga sendiri. Setelah itu, mereka menunggu pembeli datang dan membuka harga. Di titik ini, posisi petani sering melemah.

Ekonom pertanian dari Universitas Brawijaya, Prof. Ahmad Erani Yustika, dalam seminar ekonomi agraria pada 12/08/2023, menyoroti masalah klasik sektor pertanian Indonesia.

“Petani kita kuat bekerja, tetapi lemah dalam menentukan harga,” ujarnya.

Ucapan itu menjelaskan realitas lama. Petani menguasai produksi, tetapi pasar menguasai keputusan.

Ketergantungan yang Terus Berulang

Haji Her menilai harga tembakau dalam beberapa tahun terakhir mulai membaik. Ia ingin kondisi itu terus bertahan.

“Kita pengusaha harus kompak. Kepala desa juga harus kompak,” ujarnya.

Ajakan itu penting. Namun ajakan itu juga menunjukkan bahwa petani masih membutuhkan dukungan elite lokal agar tetap aman.

Sosiolog pedesaan dari Universitas Airlangga, Dr. Hotman Siahaan, dalam diskusi sosial ekonomi desa pada 07/11/2022, menjelaskan pola tersebut.

“Ketika akses pasar dikuasai sedikit pihak, petani cenderung bergantung pada patron lokal,” katanya.

Artinya, banyak petani belum berdiri penuh di atas sistem yang setara. Mereka masih bertahan di dalam relasi ketergantungan.

Tiga Kekuatan yang Menggerakkan Madura

Di Madura, masyarakat mengenal tiga pengaruh besar. Kepala desa memegang jalur administrasi. Kiai memegang kepercayaan sosial. Pengusaha memegang modal dan akses pasar. Karena itu, pertemuan mereka membawa arti penting.

Ketua pelaksana Farid Afandi menegaskan forum ini akan terus berjalan.

“Untuk mempererat hubungan antar-kepala desa dengan pengusaha dan kiai, forum ini kita gelar secara rutin,” katanya.

Ia juga mendorong kolaborasi lewat tradisi Samman dan Tembang Macapat bernuansa religi. Langkah itu menunjukkan bahwa ekonomi lokal ingin tumbuh bersama budaya lokal.

Semua Butuh Petani, Tapi Siapa Mendengar Petani?

Industri rokok membutuhkan bahan baku. Pedagang membutuhkan pasokan. Daerah membutuhkan perputaran ekonomi. Negara membutuhkan cukai. Namun petani sering tetap berada di ujung rantai.

Pelaku industri rokok nasional dalam forum industri tembakau 15/09/2024 menegaskan bahwa keberlanjutan industri bergantung pada kualitas dan kontinuitas tembakau lokal.

Tanpa petani, rantai usaha berhenti. Tetapi tanpa harga layak, semangat petani ikut turun.

Di sinilah ironi muncul. Semua pihak membutuhkan petani, tetapi tidak semua pihak memberi ruang tawar bagi petani.

Bersatu Saja Tidak Cukup

Lora Abbas menutup forum dengan pesan persatuan.

“Kita semua memiliki karakter yang berbeda. Tidak masalah kita berbeda, tetapi kita berharap bisa bersatu dalam kebaikan,” pungkasnya.

Pesan itu penting. Namun persatuan saja tidak cukup jika aturan pasar tetap timpang.

Petani membutuhkan lebih dari seremoni. Mereka membutuhkan transparansi harga, akses pembeli yang luas, dan posisi tawar yang nyata.

Tabooology: Daun Dijual, Keringat Dihitung Orang Lain

Ini bukan sekadar cerita tembakau Pamekasan. Ini cermin lama pertanian Indonesia.

Petani bekerja sejak pagi, tetapi orang lain sering menentukan hasil akhirnya.

Selama petani hanya hadir saat menanam dan memanen, mereka akan terus menjadi pekerja di lahan sendiri.

Pertanyaannya sekarang kapan petani ikut menentukan harga, bukan sekadar menerima angka?. @teguh

Tags: EkonomForumHargaIndustriKomoditaskuasaMaduraMusimNasionalPamekasanPasarpengusahapertanianPetaniRokokSilaturahmiSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

by eko
Juli 12, 2026

Selama bertahun-tahun, film Indonesia sering memakai bahasa daerah sebagai pelengkap dialog. Kehadirannya hanya muncul sesaat sebelum bahasa Indonesia kembali mengambil...

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

Panen Melimpah, Pasar Sepi: Siapa yang Salah, Sawah atau Dompet?

Panen Melimpah, Pasar Sepi: Siapa yang Salah, Sawah atau Dompet?

by teguh
Juni 30, 2026

Di atas kertas, Indonesia sedang menikmati kabar baik. Produksi beras meningkat, pupuk tersalurkan lebih banyak, dan stok nasional panen melimpah....

Next Post
EPA U-20 Ricuh: Akademi Mencetak Talenta, Tapi Gagal Mengendalikan Emosi

EPA U-20 Ricuh: Akademi Mencetak Talenta, Tapi Gagal Mengendalikan Emosi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id