Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

EPA U-20 Ricuh: Akademi Mencetak Talenta, Tapi Gagal Mengendalikan Emosi

April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Sepak bola usia muda seharusnya menjadi ruang belajar. Tempat pemain ditempa, jatuh, bangkit, lalu tumbuh. Namun di Stadion Citarum, Minggu, 19 April 2026, panggung pembinaan itu berubah jadi arena chaos. Bhayangkara U-20 kalah 1-2 dari Dewa United U-20, tetapi publik justru membicarakan keributan antarpemain. Jika level pembinaan saja penuh ledakan emosi, bagaimana nasib sepak bola kita saat mereka dewasa?

Tabooo.id: Deep – Dewa United U-20 menang lewat gol Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis. Bhayangkara U-20 membalas melalui Aqilah Lissunah.

Namun setelah laga usai, skor langsung tenggelam. Video yang beredar di media sosial menunjukkan bentrokan antarpemain dari kedua tim. Selain itu, seorang pria tanpa jersey masuk ke kerumunan dan memukul salah satu pihak.

Lalu video lain memancing kemarahan publik. Seorang pemain cadangan Dewa United yang memakai rompi menerima tendangan kungfu dari pemain Bhayangkara yang juga memakai rompi. Netizen kemudian menyebut sosok itu sebagai Fadly Alberto, pemain yang masuk skuad Timnas Indonesia U-20.

Di era digital, satu aksi brutal bisa mengalahkan seratus menit permainan bagus.

Nova Arianto Menyalakan Alarm

Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto, langsung merespons pada Minggu, 19/04/2026.

BacaJuga

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

Hari Buruh Nasional: Perayaan atau Sekadar Jeda dari Ketidakadilan?

“Melihat yang terjadi di Pertandingan EPA U20 pastinya menjadi kejadian yang sangat disayangkan dan pastinya apapun situasi dan alasannya kejadian itu bukan menjadi contoh yang baik untuk dicontoh pemain lainnya.”

Nova juga menegaskan staf pelatih sedang menelusuri penyebab insiden tersebut. Jika pemain timnas muda ikut terlibat, sanksi akan datang.

“Saat ini kami sedang mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan kejadian itu bisa terjadi dan seandainya benar ada pemain Timnas Usia Muda yang terlibat pastinya ada konsekuensi yang akan diberikan.”

Nova lalu menutup pesannya dengan ajakan sederhana.

“Selalu respect dengan apapun yang berada di lapangan dan semoga menjadi pembelajaran bersama agar kejadian tersebut tidak terjadi kembali.” Kalimat itu singkat, tetapi nadanya keras.

Ini Cermin Pembinaan, Bukan Sekadar Keributan

Mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, pernah berkata pada 22/09/2013:

“The hardest thing is to get your players to understand discipline.”

Banyak orang menganggap disiplin sebagai detail kecil. Padahal sepak bola modern berdiri di atas disiplin. Tanpa disiplin, bakat hanya melahirkan sorotan sesaat.

Pengamat sepak bola Indonesia, Kesit Budi Handoyo, dalam diskusi nasional pada 14/07/2024 menilai pembinaan usia muda di Indonesia terlalu sering mengejar hasil cepat, tetapi kurang menanamkan nilai kompetisi sehat. Artinya jelas. Kita sering mengejar skor, tetapi lupa membangun karakter.

Klub Harus Membina, Bukan Hanya Memamerkan

Klub selalu bangga saat pemain akademinya dipanggil timnas. Itu wajar. Namun klub juga wajib membentuk sikap dan tanggung jawab pemain.

Mendiang pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, pernah berkata pada 10/05/2016:

“Football is not only about winning. It is about values.”

Kalimat itu terasa relevan hari ini. Banyak akademi melatih fisik, teknik, dan taktik. Namun sebagian lupa mengajarkan respek, kontrol diri, dan etika bersaing.

Jika pemain hebat tetapi mudah lepas kendali, klub sedang menyiapkan masalah.

Psikologi Atlet Muda: Ambisi Tinggi, Kendali Belum Stabil

Psikolog olahraga Dr. Jarred Cooney Horvath dalam seminar performa atlet, 18/08/2022, menjelaskan bahwa atlet muda sering bereaksi impulsif saat tekanan naik karena kemampuan mengatur emosi belum matang.

Usia muda membawa ambisi besar. Mereka ingin menang, ingin diakui, dan ingin menonjol. Namun tanpa arahan, tensi pertandingan mudah berubah menjadi ledakan.

Karena itu, insiden seperti ini bukan kejutan. Ini gejala yang bisa muncul kapan saja.

Budaya Lapangan Juga Ikut Membentuk

Sosiolog olahraga Eric Dunning dalam kajian sport violence menulis bahwa kekerasan di lapangan sering muncul dari budaya kompetisi yang memuja dominasi dan mempermalukan lawan.

Jika pemain muda terus melihat intimidasi sebagai simbol mental juara, mereka akan meniru pola itu. Mereka lalu belajar satu pesan keliru: menang lebih penting daripada martabat.

Mantan Pemain Timnas Sudah Mengingatkan

Legenda Timnas Indonesia Bambang Pamungkas pernah berkata pada 9 Desember 2021:

“Pemain besar bukan hanya yang hebat di lapangan, tapi yang dihormati di luar lapangan.”

Generasi muda kini hidup di ruang viral. Satu aksi kasar bisa membuat nama ramai dalam semalam.

Namun respek tidak lahir dari keributan. Respek tumbuh dari sikap.

Federasi dan Kampus Tak Bisa Diam

Akademisi olahraga dari Universitas Negeri Jakarta, Dr. Rully Darwis, dalam forum kepelatihan nasional pada 11 Februari 2025 menilai kurikulum sepak bola usia muda Indonesia masih terlalu teknis dan kurang menyentuh pendidikan karakter.

Jika itu benar, maka sistem sedang menanam bakat tanpa pagar etika. Federasi, klub, pelatih, dan orang tua harus bergerak bersama. Pemain muda tidak tumbuh sendirian.

Yang Viral Hari Ini Bisa Jadi Krisis Besok

Keributan EPA U-20 bukan sekadar insiden satu sore. Ini sinyal tentang arah pembinaan di level akar rumput.

Jika emosi terus dibiarkan, kita akan punya pemain cepat tetapi rapuh. Pemain berbakat tetapi mudah meledak. Pemain terkenal tetapi sulit dipercaya.

Sepak bola Indonesia tidak kekurangan talenta. Yang sering kurang justru ekosistem yang mengajari mereka menjadi manusia utuh.

Trofi bisa hadir dalam semusim. Namun karakter tumbuh lewat latihan panjang setiap hari. @teguh

Tags: akademisiAlarmAtletBhayangkara U-20BudayaDewa United U-20DisiplinEmosiEPA U-20IndonesiaKeributanKlubKrisisLapanganLegendaPemainPembinaanPengamatPsikologPsikologiSepak BolaStadion CitarumTimnasUniversitas Negeri JakartaUsia Muda

REKOMENDASI TABOOO

Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

by teguh
April 20, 2026

Di Bali, Sabtu 18/04/2026, panggung bicara soal masa depan kembali menyala. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut adopsi kecerdasan...

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

by Waras
April 20, 2026

Usia 25 seharusnya jadi titik “mulai jadi”. Tapi kenapa justru terasa seperti kehilangan arah? Kalau kamu merasa tertinggal, bingung, dan...

Ruang Online Katanya Aman, Tapi Kenapa Kekerasan Terus Terjadi?

Internet Makin Canggih, Tapi Kenapa Perlindungan Justru Lemah?

by dimas
April 20, 2026

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, satu pertanyaan besar muncul, benarkah ruang online sudah aman bagi perempuan, atau justru berubah...

Next Post
Pisau di Bandara Langgur: Saat Politik Lokal Kehilangan Rem

Pisau di Bandara Langgur: Saat Politik Lokal Kehilangan Rem

Recommended

Vivo Y31d Pro: HP Tahan Banting, Tapi Hidup Kamu Ikut Dipaksa Kuat?

Vivo Y31d Pro: HP Tahan Banting, Tapi Hidup Kamu Ikut Dipaksa Kuat?

April 15, 2026
Glembuk Solo: Seni Diplomasi atau Manipulasi yang Terlalu Halus?

Glembuk Solo: Seni Diplomasi atau Manipulasi yang Terlalu Halus?

April 15, 2026

Popular

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id