TABOOO Cinema Lab menghadirkan pelatihan film dokumenter bersama filmmaker Wahyu Utami untuk mengubah cerita budaya menjadi karya yang bermakna.
Tabooo.id – Setiap tradisi selalu meninggalkan jejak. Namun, tidak semua jejak bertahan menjadi ingatan. Banyak cerita hilang bersama waktu. Sebagian lain tenggelam di antara ribuan foto dan video yang hanya lewat di media sosial.
Padahal, setiap prosesi adat menyimpan makna. Setiap wajah masyarakat membawa pengalaman. Setiap ritual menghadirkan nilai yang membentuk identitas sebuah daerah.
Berangkat dari kesadaran itu, Tabooo Network Indonesia menghadirkan TABOOO Cinema Lab dalam rangkaian TABOOO Cultural Production di Bersih Desa Winongo 2026.
Bagi Tabooo, dokumenter bukan sekadar media visual. Dokumenter menjadi ruang untuk menjaga ingatan kolektif sekaligus merawat budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kamera Tidak Hanya Merekam
Saat ini hampir semua orang memiliki kamera. Akan tetapi, tidak semua orang mampu membaca cerita di balik sebuah peristiwa.
Kamera menangkap gambar. Namun, dokumenter menangkap kehidupan.
Ia merekam nilai, harapan, perubahan, dan identitas masyarakat.
Karena itu, Cinema Lab tidak hanya mengajarkan teknik produksi film. Program ini mengajak peserta membaca realitas, menyusun sudut pandang, lalu membangun narasi yang jujur dan berdampak.
Dengan cara itu, peserta tidak sekadar menghasilkan karya. Mereka juga belajar memahami manusia melalui bahasa visual.
Belajar Langsung Bersama Praktisi Perfilman
Ia telah menghasilkan berbagai film dokumenter dan mengikuti sejumlah festival film nasional maupun internasional.
Selama dua hari pelatihan, Wahyu Utami membimbing peserta memahami proses produksi dokumenter dari awal hingga akhir.
Peserta memulai proses dengan menemukan ide cerita. Selanjutnya, mereka mempelajari teknik riset lapangan, penyusunan struktur narasi, visual storytelling, hingga strategi distribusi karya.
Selain berbagi teori, Wahyu Utami juga membagikan pengalaman produksi film di lapangan. Pengalaman tersebut membantu peserta memahami tantangan sekaligus peluang dunia dokumenter.
Melalui sesi ini, peserta belajar melihat kamera sebagai alat membaca kehidupan, bukan sekadar alat merekam gambar.
Dari Realitas Menjadi Narasi
Tema “From Reality to Narrative” menjadi fondasi seluruh rangkaian TABOOO Cultural Production.
Filosofi tersebut lahir dari keyakinan bahwa setiap realitas menyimpan cerita. Ketika masyarakat mencatat cerita itu, mereka membangun narasi. Kemudian, narasi melahirkan pengetahuan. Selanjutnya, pengetahuan berkembang menjadi karya.
Dalam konteks Bersih Desa Winongo, setiap kirab budaya, doa bersama, pertunjukan seni, dan aktivitas warga menghadirkan kisah yang layak didokumentasikan.
Karena itu, Tabooo mengajak peserta melihat tradisi dari sudut pandang yang berbeda.
Tradisi bukan sekadar tontonan tahunan.
Tradisi merupakan sumber pengetahuan yang terus berkembang.
Film dokumenter kemudian mengubah pengetahuan itu menjadi arsip budaya yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Melahirkan Generasi Pencerita
Tabooo percaya masa depan budaya bergantung pada dua kelompok. Kelompok pertama menjaga tradisi. Kelompok kedua menceritakan kembali tradisi tersebut kepada publik.
Cinema Lab membuka ruang bagi kedua kelompok itu untuk bertemu.
Pelajar, mahasiswa, komunitas, fotografer, videografer, kreator konten, dan masyarakat umum dapat belajar bersama dalam satu ruang kolaborasi.
Melalui workshop ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik produksi film. Mereka juga membangun cara pandang baru tentang pentingnya dokumentasi budaya.
Pada akhirnya, film bukan hanya karya visual.
Film menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, manusia, dan masa depan.
Pendaftaran Masih Dibuka
TABOOO Cinema Lab berlangsung pada 6-7 Juli 2026 pukul 14.30-17.00 WIB di Balai Kelurahan Winongo, Kota Madiun.
Kegiatan ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, pegiat budaya, komunitas kreatif, guru, kreator konten, dan masyarakat umum.
Tabooo membatasi jumlah peserta agar proses belajar berlangsung lebih interaktif. Karena itu, calon peserta sebaiknya segera mengamankan tempat sebelum kuota terpenuhi.
Dengan mengikuti Cinema Lab, peserta tidak hanya belajar membuat film dokumenter. Mereka juga ikut menghidupkan semangat “From Reality to Narrative”, yaitu mengubah realitas menjadi narasi, narasi menjadi pengetahuan, lalu pengetahuan menjadi karya yang terus hidup melintasi generasi. @dimas







