Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

by dimas
Juli 4, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Barikan mewarnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta sebagai simbol syukur, keselamatan, dan pelestarian filosofi budaya Jawa.

Tabooo.id: Surakarta – Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memperingati Pengetan Adeging Nagari atau hari berdirinya Kraton Surakarta ke-290 pada Kamis (2/7/2026). Kraton memusatkan seluruh rangkaian peringatan di Kagungan Dalem Sasana Parasdya, kompleks Kraton Surakarta Hadiningrat.

Masyarakat Jawa selalu memperingati momen tersebut setiap 17 Suro berdasarkan penanggalan Jawa ciptaan Sultan Agung. Tradisi itu mengiringi perjalanan Kraton Surakarta selama hampir tiga abad.

Raja Kraton Surakarta, SISKS Pakoe Boewono XIV, memimpin seluruh prosesi. Melalui peringatan ini, Kraton Surakarta menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.

Sejumlah anggota keluarga inti keraton ikut dalam upacara tersebut. Permaisuri Pakoe Boewono XIII yang juga merupakan ibunda Pakoe Boewono XIV hadir bersama GKR Sekar Kirono atau Gusti Ratu Ratih.

Pengangeng Kaputren GKR Alit, para sentana dalem, dan ratusan abdi dalem dari berbagai daerah turut memenuhi Sasana Parasdya. Kehadiran mereka memperlihatkan kuatnya ikatan budaya yang tetap terjaga hingga kini.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

Para ulama membuka rangkaian acara dengan doa bersama. Setelah itu, Pengageng Parentah Kraton, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, memaparkan sejarah singkat berdirinya Kraton Surakarta.

Panitia kemudian membagikan Jenang Suran atau Bubur Suran kepada seluruh peserta. Masyarakat hanya menyajikan hidangan tradisional tersebut selama bulan Suro sebagai bagian dari tradisi tahunan keraton.

Barikan Sarat Makna Filosofis

Pakoe Boewono XIV kemudian membagikan barikan kepada seluruh peserta. Tahun ini, beliau memasukkan roti tawar, garam kasar, dan sebuah kunci ke dalam setiap barikan.

KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo menjelaskan bahwa Pengetan Adeging Nagari menghubungkan sejarah panjang kerajaan-kerajaan di Jawa. Keraton terus menjaga tradisi itu setiap datangnya bulan Suro.

“Peringatan ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah panjang kraton-kraton di tanah Jawa. Kami selalu menyelenggarakannya setiap bulan Suro,” ujarnya.

Dipokusumo menjelaskan bahwa masyarakat Jawa menggunakan barikan sebagai simbol rasa syukur. Masyarakat juga memakai bahasa, benda, maupun unsur budaya lain untuk menyampaikan makna kehidupan.

“Barikan itu bisa berupa bahasa, benda, atau apa saja yang menimbulkan makna. Karena masyarakat Jawa dikenal sebagai homosimbolikum, manusia yang selalu menggunakan simbol dari lingkungannya,” katanya.

Menurut Dipokusumo, masyarakat Jawa memaknai roti tawar sebagai harapan untuk menghilangkan segala hal buruk. Harapan itu mencakup bala, sengkala, serta energi negatif dalam diri manusia, keluarga, lingkungan keraton, hingga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat juga memaknai garam sebagai lambang keteguhan dan kesucian. Sementara itu, masyarakat memaknai kunci sebagai simbol pembuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Mengingat Asal dan Tujuan Kehidupan

Dipokusumo menilai makna tersebut selaras dengan falsafah Jawa Sangkan Paraning Dumadi, Dumadining Sangkan Paran. Falsafah itu mengajarkan manusia agar memahami asal-usul sekaligus tujuan akhir kehidupan.

Ia juga menegaskan bahwa tradisi barikan menjadi ungkapan syukur atas hasil bumi selama setahun. Masyarakat kemudian memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan, kesehatan, dan keberkahan pada tahun berikutnya.

Pengetan Adeging Nagari ke-290 tidak hanya mengajak masyarakat mengenang sejarah Kraton Surakarta. Tradisi ini juga menguatkan identitas budaya Jawa yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Barikan, doa, dan Jenang Suran mengingatkan masyarakat agar terus menjaga nilai-nilai leluhur. Setiap generasi kemudian mewariskan nilai tersebut melalui simbol, tradisi, dan laku budaya dalam kehidupan sehari-hari. @dimas

Tags: BarikanBudayaBulan SuroKraton SurakartaPakoe Boewono XIVPengetan Adeging NagariTradis iJawa

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026

Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan,...

Next Post
Equality.exe Modified: Saat Kesetaraan Kehilangan Bobotnya

Equality.exe Modified: Saat Kesetaraan Kehilangan Bobotnya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id