Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan, regenerasi, dan masa depan tradisi Madura.

Tabooo.id: – Suara gesekan logam memecah keheningan sebuah bengkel sederhana di Desa Aeng Tongtong, Sumenep, Jawa Timur. Di depan rumah, Hashilatun Nasifah menggerakkan kikir tradisional. Perlahan, sebilah keris di tangannya mulai menemukan bentuk. Perempuan 25 tahun memilih menjadi Empu Keris.

Beberapa tahun lalu, hidupnya berjalan di jalur berbeda. Setelah menamatkan sekolah penerbangan di Sidoarjo, ia sempat bekerja sebagai petugas ticketing dan kargo di Bandara Juanda.

Namun, perjalanan hidup membawanya pulang. Bukan menuju ruang keberangkatan, melainkan ke bengkel keluarga. Di tempat itulah Sisil menekuni pekerjaan yang diwariskan leluhurnya selama beberapa generasi.

Dari Bandara ke Bara Tempa Menjadi Empu Keris

Sejak kecil, Sisil tumbuh di lingkungan keluarga empu keris. Keris pun bukan benda asing baginya.

Meski begitu, kedekatan tersebut baru berubah menjadi pilihan hidup ketika ia mulai serius mempelajari proses pembuatan keris pada 2022.

Ini Belum Selesai

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Silat Panglipur: Sejarah, Filosofi dan Warisan Abah Aleh

Ayahnya, Abdus Siddik, menjadi guru pertama dalam perjalanan tersebut.

“Sebagai keturunan seorang empu, tentunya sejak kecil saya sudah tidak asing lagi dengan keris. Karena dunia keris merupakan aktivitas turun-temurun dalam keluarga,” kata Sisil.

Baginya, keris tidak berhenti sebagai benda pusaka. Di dalamnya terdapat filosofi, harapan, dan doa.

Karena nilai tersebut terus ia kenal sejak kecil, ketertarikannya untuk meneruskan tradisi keluarga akhirnya tumbuh.

“Dan kuatnya nilai-nilai yang ada dalam keris terus ditanamkan pada saya akhirnya muncul ketertarikan saya, bagaimana saya bisa melanjutkan aktivitas pembuatan keris,” ujarnya.

Selain alasan budaya, profesi itu juga memiliki nilai ekonomi.

Sisil mengaku pernah menjual keris seharga Rp20 juta. Sementara itu, harga keris di Aeng Tongtong berbeda berdasarkan kelas dan tingkat pengerjaannya.

Para empu mengenal tiga kelas keris. Ada kelas suvenir, kelas menengah, serta kelas tertinggi yang mencakup keris pusaka atau ageman. Bahkan, nilai keris kelas tertinggi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Meski demikian, harga bukan satu-satunya alasan orang menghargai sebuah keris. Kualitas pengerjaan, ketelitian empu, serta kepercayaan terhadap nilai filosofis dan spiritual ikut membentuk nilainya.

Keris yang Menyimpan Ingatan

Membuat keris membutuhkan lebih dari sekadar tenaga. Sisil harus memahami dhapur, memilih logam, lalu menguasai proses penempaan hingga pembentukan bilah.

Setelah itu, ia masih harus menghaluskan bilah dan menjalani proses pewarangan untuk memunculkan pamor.

Seluruh proses tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Lamanya pengerjaan pun bergantung pada jenis dan tingkat kesulitan keris.

Namun, ada hal lain yang membuat pekerjaan itu berbeda sebab Keris membawa pengetahuan.

Dhapur merujuk pada bentuk dan desain bilah. Sementara itu, pamor merupakan pola hiasan yang muncul dari perpaduan berbagai jenis logam.

Setiap bentuk memiliki filosofi masing-masing. Salah satunya ialah pamor junjung drajat. Menurut Sisil, pamor tersebut membawa doa untuk meningkatkan derajat manusia.

“Secara filosofi junjung drajat itu kan pamor yang terkandung sebuah doa atau harapan di dalam pamor itu bagaimana kita menaikkan derajat kita sebagai manusia di hadapan manusia atau di hadapan Tuhan,” kata Sisil.

Karena itu, keris tidak lagi sekadar logam yang ditempa. Di balik sebuah bilah terdapat pengetahuan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada saat bersamaan, ada pula memori keluarga yang ikut bertahan.

Bara Tidak Punya Gender

Tahap penempaan menjadi salah satu bagian paling berat dalam proses pembuatan keris. Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga fisik yang cukup besar.

Sisil mengakui dirinya memiliki keterbatasan fisik dibandingkan sebagian empu laki-laki. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghentikannya.

Para empu di Aeng Tongtong saling membantu ketika proses tertentu membutuhkan tenaga lebih besar. Dengan demikian, keterbatasan fisik tidak otomatis menjadi penghalang bagi perempuan untuk menekuni dunia perkerisan.

Pengalaman Sisil juga menunjukkan hal lain. Selama hampir lima tahun menekuni dunia keris, ia mengaku tidak pernah mengalami stereotip negatif atau perlakuan merendahkan karena menjadi perempuan.

“Bagi saya ini adalah soal pilihan ya, jadi pilihan bagaimana kita bisa terus melestarikan dan mengemban amanah leluhur untuk bisa melestarikan keris,” katanya.

Pandangan tersebut mendapat konteks dari budayawan Sumenep M. Hairil Anwar.

Menurutnya, keberadaan empu perempuan justru memperlihatkan dinamika yang menarik dalam dunia perkerisan.

“Terlebih ketika empu tersebut perempuan, akan menjadi semakin menarik karena menunjukkan bahwa dalam dunia perkerisan tidak ada model patriarki,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Pengelola Desa Wisata Keris Aeng Tongtong, Wawan Noviyanto.

“Dinamika empu laki-laki dan perempuan itu berjalan sangat dinamis kalau di desa ini. Justru keberadaan mereka itu saling mengisi,” kata Wawan.

Dengan kata lain, bara api tidak mengenal gender. Yang membedakan adalah siapa yang mau belajar, bertahan, lalu meneruskan.

Ketika Tradisi Harus Mencari Generasi Baru

Aeng Tongtong dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan keris Madura. Desa tersebut memiliki 446 empu keris. Dari jumlah itu, enam di antaranya merupakan perempuan.

Pada 2022, Aeng Tongtong juga memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak.

Angka tersebut memang terlihat besar. Namun, jumlah empu hari ini belum otomatis menjamin keberlanjutan tradisi.

Pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelahnya siapa yang akan menjadi empu berikutnya?. Tradisi tidak bisa hidup hanya karena museum menyimpan bendanya.

Sebaliknya, pengetahuan harus berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Generasi baru juga perlu menemukan alasan untuk mengenal dan mencintainya. Di sinilah pilihan Sisil memiliki makna lebih luas.

Ia berasal dari generasi muda yang sudah mengenal dunia modern. Sebelumnya, ia bahkan memiliki pengalaman bekerja di bandara.

Akan tetapi, Sisil memilih kembali ke rumah. Bukan karena masa lalu lebih mudah. Justru sebaliknya, membuat keris membutuhkan tenaga, ketelitian, kesabaran, dan waktu.

Karena itu, pilihannya menunjukkan sesuatu yang sederhana. Tradisi membutuhkan orang yang mau menjalaninya hari ini.

Masa Lalu Butuh Anak Muda

Cerita Sisil bukan kisah tentang perempuan yang meninggalkan dunia modern. Sebaliknya, perjalanan itu menunjukkan bahwa masa lalu dan masa depan tidak selalu bertentangan.

Sekolah penerbangan membawanya mengenal dunia kerja modern. Keris kemudian membawanya kembali kepada akar keluarganya.

Pada akhirnya, dua dunia tersebut bertemu dalam satu keputusan. Sisil memilih meneruskan pengetahuan yang bisa hilang jika tidak ada generasi berikutnya.

Persoalan budaya pun menjadi lebih personal. Kita sering menyebut keris sebagai warisan leluhur. Kita juga kerap memajangnya di museum dan membicarakannya sebagai identitas bangsa.

Namun, warisan tidak akan bertahan hanya karena kita mengaguminya. Seseorang harus mau mempelajarinya. Setelah itu, ada orang lain yang harus mengajarkannya.

Pada tahap berikutnya, generasi baru harus berani menjadikannya bagian dari kehidupan. Sisil memilih mengambil peran tersebut.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Mungkin kamu tidak pernah membuat keris. Bisa jadi kamu juga belum pernah masuk ke bengkel seorang empu. Meski demikian, persoalan Sisil sebenarnya dekat dengan kehidupan kita.

Setiap generasi menerima sesuatu dari generasi sebelumnya. Bahasa, Cerita keluarga, Musik, Makanan, Kerajinan, Ritual. Kemudian semuanya menghadapi pertanyaan yang sama:

Apakah kita akan meneruskannya atau membiarkannya berhenti? dan Keris hanya salah satu contoh. Jika generasi muda berhenti mengenal tradisi, yang hilang bukan sekadar benda. Pengetahuan ikut menghilang.

Lebih jauh lagi, cerita keluarga ikut terputus. Identitas pun perlahan kehilangan tempat untuk pulang. Sisil memilih jalan berbeda. Ia belajar dari ayahnya. Ia menjalani proses panjang.

Bahkan, ia memilih berdiri di depan bara ketika banyak anak muda mungkin mencari jalan yang lebih cepat.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan panggung besar. Kadang, ia dimulai dari sebuah bengkel kecil.

Warisan Tidak Bisa Cuma Dipajang

Sisil berharap semakin banyak anak muda, termasuk perempuan, mau mengenal keris lebih dekat.

Pesannya sederhana “Kita harus memahami dulu, dan cinta dulu sama keris, baru kita terjun ke dunia keris,” katanya. Kalimat itu terdengar sederhana namun, maknanya jauh lebih besar.

Kita tidak bisa meminta generasi muda mencintai budaya yang tidak pernah mereka kenal. Sebaliknya, kita perlu memberi ruang agar mereka bisa memahami tradisi dengan bahasa zamannya. Begitu pula dengan keris.

Ia tidak harus berhenti sebagai benda pusaka. Keris juga bisa hadir sebagai pengetahuan, karya seni, identitas, bahkan sumber penghidupan.

Dengan begitu, pelestarian tidak berubah menjadi nostalgia kosong. Sisil mungkin meninggalkan bandara.

Namun, ia tidak meninggalkan masa depan. Ia justru membawa masa lalu menuju masa depan.

Di sebuah bengkel kecil di Aeng Tongtong, suara kikir terus bergerak di atas bilah keris. Pelan, Berulang, Sabar. Barangkali, begitulah sebuah budaya bertahan.

Bukan hanya dengan meneriakkan bahwa tradisi harus dilestarikan. Sebaliknya, budaya bertahan ketika ada manusia yang bersedia mempelajarinya, menghidupinya, lalu mewariskannya.

Hari ini, orang itu adalah Sisil. Lalu, ketika generasi berikutnya datang, siapa yang akan berdiri di depan bara?

Sebab ketika tangan terakhir berhenti menempa, yang ikut berhenti bukan cuma keris. Bisa jadi, ingatan kita juga. @teguh

Tags: BudayaEmpu KerisGenerasi MudaHashilatun NasifahKerisMaduraperempuanSumenepTradisiwarisan budaya

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Gedung Kolonial, Museum Gubug Wayang, dan Ingatan Mojokerto

Gedung Kolonial, Museum Gubug Wayang, dan Ingatan Mojokerto

by teguh
September 1, 2026

Di Jalan R.A. Kartini, Kota Mojokerto, sebuah bangunan tua menyimpan perjalanan panjang. Jejak Hindia Belanda masih melekat pada sejarah gedung...

Next Post
Kasino Sukoharjo Diduga Beroperasi Sejak Agustus 2025

Kasino Sukoharjo Diduga Beroperasi Sejak Agustus 2025

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id