Tabooo.id: Deep – Di Padukuhan Kalangan, Gunungkidul, pagi bergerak pelan seperti biasa. Matahari naik perlahan. Jalan kampung masih lengang. Namun, ada pemandangan yang membuat orang menoleh dua kali sekelompok pria berbaju hitam, bertato, dan berambut nyentrik berjalan menuju sawah.
Sekilas, banyak orang mungkin mengira mereka hendak membuat keributan. Akan tetapi, pagi itu mereka membawa cangkul, bibit, dan pupuk organik. Mereka adalah Petani Punk Gunungkidul.
Di negeri yang sering menilai orang dari tampilan luar, kelompok ini justru memberi pelajaran sederhana wajah bisa menipu, tetapi kerja keras selalu bicara.
Saat Tawa Berubah Menjadi Kesadaran
Di rumah singgah sederhananya, SiBagz menyuguhkan kopi sambil membuka kisah hidupnya pada Selasa, 14/04/2026. Ceritanya bukan tentang keajaiban instan. Sebaliknya, semuanya bermula dari rasa malu.
Ia merantau sejak 2004 dan berpindah dari Jabodetabek hingga Yogyakarta. Lalu, ia pulang ke Gunungkidul pada 2015. Setelah menikah pada 2017, ia tetap aktif di komunitas punk. Hidupnya terus berjalan, tetapi arah masa depannya belum jelas.
Kemudian, pada 2018, ia duduk di pinggir sawah bersama teman-temannya. Saat itu mereka menertawakan petani tua yang masih bekerja di bawah matahari.
Namun, ketika malam datang, tawa itu berubah menjadi tamparan batin.
“Saat itu mentertawakan petani yang sudah tua masih bekerja, dan saat pulang ke rumah tersadar jika petani tidak ada regenerasinya,” kata SiBagz.
Kalimat itu terdengar sederhana. Meski begitu, hidup memang sering berubah bukan karena seminar mahal, melainkan karena satu rasa malu yang jujur.
Ia pun sadar jika anak muda hanya pandai mengejek, lalu siapa yang akan menanam beras sepuluh tahun lagi?
Meminjam Sertifikat, Menebus Masa Depan
Setelah kesadaran itu datang, SiBagz memilih bergerak. Ia meminjam sertifikat tanah orang tuanya senilai Rp25 juta sebagai modal bertani. Padahal, ia belum punya pengalaman dan belum punya jaminan sukses.
Meski risikonya besar, ia tetap melangkah. Ia mengajak sekitar 15 teman sesama anak jalanan dari berbagai kota.
Mereka lalu menanam bawang merah di lahan seluas 1.500 meter persegi. Pada awal perjalanan, mereka sering salah memakai alat, keliru membaca musim, dan gagal menghitung biaya.
“Ya sebenarnya kami takut, kalau tidak berhasil mengangsur, orang tua saya juga jadi punk, karena akan menjadi gembel,” ujarnya sambil tersenyum.
Humor itu terdengar ringan. Namun, di balik candanya, tersimpan ketakutan kelas bawah yang sangat nyata gagal berarti kehilangan rumah.
Beruntung, panen datang. Mereka melunasi utang. Selain itu, mereka juga menumbuhkan kembali harga diri.
Punk yang Menolak Menjadi Stereotip
Di Indonesia, banyak orang masih memandang komunitas punk sebagai gangguan sosial. Rambut mohawk dianggap ancaman. Jaket lusuh dianggap masalah. Sering kali, masyarakat lebih sibuk menghakimi penampilan daripada memahami kegelisahan di baliknya.
Padahal, banyak anak muda memilih subkultur karena mereka merasa sistem tidak memberi ruang.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Hempri Suyatna, menjelaskan bahwa komunitas alternatif sering lahir dari rasa terasing terhadap sistem ekonomi dan sosial. Menurutnya, ketika masyarakat membuka akses produktif, energi perlawanan bisa berubah menjadi kekuatan sosial. Apa yang dilakukan Petani Punk Gunungkidul membuktikan hal itu.
Mereka tidak menunggu bantuan besar. Mereka tidak sibuk mencari pengakuan. Sebaliknya, mereka memilih turun ke sawah dan bekerja. Sawah pun berubah menjadi ruang pemulihan yang paling jujur.
Ketika Anak Muda Pergi, Sawah Ikut Menua
Masalah terbesar pertanian Indonesia bukan hanya pupuk mahal atau harga panen yang jatuh. Masalah paling sunyi justru datang dari usia petani yang terus menua.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dominasi petani berusia lanjut masih tinggi. Sementara itu, minat generasi muda terus menurun. Akibatnya, desa kehilangan tenaga produktif, sedangkan kota menerima gelombang pekerja baru yang sering tidak siap.
SiBagz melihat kondisi itu langsung di kampungnya. Banyak anak petani justru malu turun ke sawah. Sebaliknya, mereka lebih bangga mengambil kerja serabutan di kota.
Karena itu, pada 2022, ia mulai mengajak anak muda belajar bertani. Ia memanfaatkan lahan kosong di sekitar makam sebagai ruang belajar. Lalu, mereka menyiapkan sekitar 1.500 polybag untuk menanam cabai.
Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka berhasil panen. Selain itu, rasa percaya diri anak muda ikut tumbuh. Kini, sekitar 120 pemuda menjadi binaannya.
“Goal saya adalah ada anak muda yang mengerti bertani. Tujuan kita bukan untuk kita sendiri, tetapi agar petani ada regenerasi,” tegas SiBagz.
Teknologi yang Tidak Punya Layar
Di saat banyak orang memuja teknologi digital, komunitas ini justru memilih inovasi yang lebih dekat dengan alam.
Mereka tidak memakai pupuk kimia. Sebaliknya, mereka meracik pupuk dan pestisida alami dari urin kambing, air leri, dan empon-empon.
“Kita memanfaatkan potensi yang ada untuk pupuk dan pestisida,” kata SiBagz.
Langkah itu sejalan dengan banyak kajian pertanian berkelanjutan yang menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dan memperkuat sumber daya lokal.
Dengan kata lain, teknologi tidak selalu hadir dalam bentuk aplikasi. Kadang, teknologi tumbuh dari pengetahuan lama yang orang lupakan terlalu cepat.
Jangan Sampai Jadi Penonton di Tanah Sendiri
Di banyak daerah, lahan perlahan berpindah tangan. Investor datang membawa modal. Sementara itu, warga lokal sering hanya kebagian pekerjaan pinggiran.
SiBagz memahami ancaman tersebut. Ia tidak ingin generasi muda Gunungkidul hanya berdiri di gerbang sebagai satpam di tanah yang dulu milik keluarganya sendiri.
Karena itu, bertani bagi mereka bukan sekadar urusan ekonomi. Lebih dari itu, ini soal martabat, hak tinggal, dan kuasa atas masa depan desa.
Penutup: Mereka Menanam Lebih dari Sekadar Cabai
Petani Punk Gunungkidul bukan kisah romantis tentang anak jalanan yang berubah arah. Cerita ini jauh lebih dalam.
Ini kisah tentang orang-orang yang dulu dianggap masalah, lalu diam-diam hadir sebagai solusi.
Mereka menanam bawang, cabai, dan padi. Namun, sesungguhnya mereka sedang menanam sesuatu yang jauh lebih langka alasan bagi anak muda untuk pulang ke tanahnya sendiri.
Dan mungkin, di tengah negeri yang terlalu sibuk menilai tampilan, justru orang-orang bertato itulah yang lebih dulu memahami arti masa depan. @teguh

![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-350x250.jpg)




