Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ghost in the Cell: Ketika Horor Jadi Kritik Sosial Paling Tajam

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih merasa hidup di negeri ini sepert penjara? Bukan karena jeruji besi semata, melainkan karena aturan yang menyesakkan, konflik yang tak kunjung reda, serta drama sosial yang terus tayang tanpa jeda.

Kali ini, Joko Anwar tidak sekadar menawarkan horor. Sebaliknya, ia mengajak kita bercermin. Lewat Ghost in the Cell, yang akan tayang 16 April 2026, Joko meramu komedi dan teror dalam satu ruang terbatas: penjara.

Ia menulis naskahnya sejak 2018. Namun kini, ketika dinamika pemerintah dan rakyat makin kompleks, gagasan itu terasa semakin tajam. Menurutnya, penjara adalah miniatur masyarakat. Di sana, struktur kuasa berdiri jelas: petugas lapas memegang kendali, napi menjalani peran sebagai “rakyat”, aparat menjaga stabilitas, sementara geng membentuk hierarki tersendiri. Dengan demikian, konflik tak pernah benar-benar tidur.

Teror di Labuan Angsana

Film ini membawa kita ke Penjara Labuan Angsana lapas keras yang penuh rivalitas. Awalnya, para geng sibuk berebut pengaruh, sedangkan sipir bermain di wilayah abu-abu. Akan tetapi, situasi berubah drastis ketika satu sel angker memunculkan kekuatan gaib misterius.

Makhluk itu membunuh para tahanan satu per satu. Ketakutan pun menyebar cepat. Akibatnya, para napi dan sipir korup yang sebelumnya saling menjatuhkan mulai menyusun strategi bersama. Mereka sadar, tanpa kerja sama, tak ada yang selamat.

Ini Belum Selesai

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Di titik inilah ironi bekerja. Musuh bersama memaksa solidaritas. Teror justru melahirkan persatuan.

Deretan pemain seperti Abimana Aryasatya, Aming, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, dan Tora Sudiro menghadirkan dinamika yang kontras—serius sekaligus absurd. Karena itu, atmosfer film terasa tegang namun tetap menyelipkan humor getir.

Horor yang Menggoda Nurani

Film ini tidak berhenti pada jump scare. Sebaliknya, Joko mendorong penonton untuk berpikir. Ia menggunakan penjara sebagai metafora yang lugas sekaligus menusuk.

Jeruji membatasi gerak. Struktur kuasa menentukan nasib. Ketimpangan memupuk dendam. Sementara itu, ketidakadilan sering tumbuh diam-diam tanpa banyak yang menggugat.

Kita kerap menunjuk “penghuni sel sebelah” sebagai biang masalah. Padahal, persoalan mungkin berakar pada sistem yang kita biarkan berjalan tanpa koreksi. Oleh karena itu, film ini seperti berbisik: jangan hanya takut pada hantunya, tetapi pahami mengapa ia muncul.

Tertawa, Lalu Tersentil

Horor-komedi memberi ruang bagi kritik sosial tanpa kesan menggurui. Saat penonton tertawa, pesan menyelinap halus. Setelah tawa mereda, pertanyaan mulai menggema.

Mengapa para tokoh baru bersatu ketika ancaman datang? Mengapa solidaritas lahir dari ketakutan, bukan dari kesadaran? Pertanyaan-pertanyaan itu terasa relevan, terutama jika kita menengok realitas sehari-hari.

Sering kali, masyarakat baru bergerak ketika krisis sudah di depan mata. Sebelum itu, perdebatan berlangsung tanpa ujung. Sesudahnya, barulah muncul desakan untuk bersatu.

Kita di Luar atau di Dalam?

Pada akhirnya, “Ghost in the Cell” tidak sekadar menghadirkan hantu di lorong penjara. Film ini menyorot relasi kuasa, memperlihatkan kompromi, dan mengungkap ketakutan kolektif yang kita pelihara sendiri.

Jika sistem terus retak, konsekuensi pasti mengikuti. Entah dalam bentuk konflik terbuka, krisis berkepanjangan, atau “hantu” lain yang tak kasatmata.

Jadi, pertanyaannya kini sederhana namun mengganggu:
Apakah kita benar-benar berdiri di luar jeruji, atau justru sudah menjadi bagian dari sel itu sendiri?

Barangkali, rasa tidak nyaman setelah menonton film ini justru menjadi tanda bahwa kritiknya bekerja. @eko

Tags: Film BaruJoko AnwarNasional

Kamu Melewatkan Ini

Joko Anwar: Film Besar Lahir dari Kesadaran Diri, Bukan Tren Publik

Joko Anwar: Film Besar Lahir dari Kesadaran Diri, Bukan Tren Publik

by dimas
Juni 21, 2026

Joko Anwar menegaskan film besar lahir dari kesadaran diri, bukan tren publik. Pesan itu ia sampaikan kepada ratusan peserta LA...

LA Indie Movie Jogja Cetak Generasi Baru Sineas Muda

LA Indie Movie Jogja Cetak Generasi Baru Sineas Muda

by dimas
Juni 21, 2026

LA Indie Movie Jogja cetak generasi baru sineas Indonesia melalui workshop, pitching, dan dukungan produksi film. Antusiasme peserta hampir tembus...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Next Post
Tumbangnya Raja Narkoba dan Ancaman Perang Suksesi di Meksiko

Tumbangnya Raja Narkoba dan Ancaman Perang Suksesi di Meksiko

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id