Tabooo.id – Deep: Pukul dua dini hari. Seorang anak muda berbaring di ranjang, ponsel di tangan, wajahnya hanya diterangi cahaya biru dari layar. Di luar sana dunia sudah tidur, tapi pikirannya masih bekerja, mencemaskan besok, gajinya, masa depannya.
Ia menatap notifikasi tanpa benar-benar membacanya. Jempol bergerak otomatis, otaknya lelah, tapi jiwanya takut diam. “Kalau aku berhenti sebentar, apa dunia bakal ninggalin aku?”
Mungkin begitu bunyi bisikan yang tak terucap dari banyak anak muda hari ini. Generasi yang lahir dengan internet di genggaman, tapi justru kehilangan pegangan dalam hidup yang terlalu cepat, terlalu penuh, dan terlalu terang.
Fakta Sosial: Generasi Lelah yang Masih Online
Menurut data Kementerian Kesehatan, kelompok usia 15–24 tahun adalah yang paling rentan depresi di Indonesia, mencapai 2% dari populasi, dengan hanya 10,4% yang berhasil mengakses pengobatan. Di sisi lain, survei nasional menunjukkan 68,7% anak muda mengalami kecemasan kronis.
Bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka hidup di tengah empat badai besar: ekonomi, ekspektasi sosial, krisis iklim, dan tekanan digital.
- Krisis Ekonomi: Fresh graduate diminta punya pengalaman dua tahun, gaji ditawar seolah waktu tak berharga, dan biaya hidup naik tanpa ampun. Banyak yang hidup hemat bukan karena pilihan, tapi karena takut besok nggak bisa makan.
- Krisis Ekspektasi: Orang tua ingin anaknya sukses, bahagia, mapan. Semuanya sekaligus. Media sosial menambahkan tekanan dengan ilusi kebahagiaan orang lain.
- Krisis Iklim: Gen Z tumbuh di dunia yang secara harfiah makin panas. Mereka tahu bumi sedang sekarat, tapi juga sadar tak punya daya menyelamatkannya.
- Krisis Digital: Di dunia yang dikuasai algoritma, eksistensi terasa tergantung pada sinyal. Semua berlomba tampil bahagia dan produktif. “Kalau nggak posting, apa aku masih ada?”
Mereka hidup dalam kebingungan struktural. Mereka harus terus bergerak agar dianggap hidup, tapi tiap langkah justru menguras napas.
Konflik dan Paradoks: Dunia yang Selalu Nyala
Gen Z adalah generasi yang tumbuh dalam kontradiksi. Mereka ingin istirahat, tapi takut tertinggal. Ingin offline, tapi khawatir tak relevan.
Mereka tahu doom-scrolling bikin depresi, tapi tetap melakukannya, karena scrolling adalah bentuk pelarian yang paling mudah dan paling murah.
Di kantor, burnout bukan lagi penyakit, tapi status sosial. Siapa paling sibuk, dialah yang “berharga.”
Padahal, di balik produktivitas berlebih itu, banyak yang perlahan kehilangan arah. Hidup terasa seperti loop: bangun, kerja, scroll, tidur, ulangi. Bukan hidup, tapi bertahan hidup.
Kita menyebut mereka “strawberry generation,” padahal merekalah yang sedang menanggung beban ekonomi, sosial, dan emosional paling berat dari dunia yang rusak sebelum mereka lahir.
Mereka tak manja — hanya terlalu cepat dewasa di sistem yang tak memberi waktu untuk tumbuh.
Sikap Tabooo: Refleksi Kritis dan Empatik
Mari jujur: kita semua berkontribusi dalam menciptakan generasi burnout.
Kita menuntut mereka punya karier, aktivisme, dan kebahagiaan dalam satu paket rapi, lalu menyalahkan mereka saat kewalahan.
Kita membuat “produktif” jadi agama baru, dengan algoritma sebagai Tuhan.
Kita menjual motivasi, tapi jarang memberi ruang aman untuk menangis.
Kita ajarkan mereka “resiliensi,” tapi lupa menyediakan sistem yang bisa ditinggali tanpa harus patah.
Bagi Tabooo, fenomena ini bukan sekadar krisis mental, ini cermin sosial.
Burnout Gen Z bukan tanda kelemahan, tapi indikator penyakit struktural: ketidakpastian ekonomi, kerja yang tidak manusiawi, dan dunia digital yang menuntut performa tanpa henti.
Dan di tengah semua absurditas itu, Gen Z masih mencoba. Masih bekerja, berkarya, bercanda di Twitter, mengunggah meme, menertawakan hidup yang tak lucu, karena kalau nggak ditertawakan, mungkin mereka akan menangis.
Pause, Sebentar Saja
Mungkin ini waktunya kita berhenti sebentar.
Menutup layar, menatap langit malam, dan jujur pada diri sendiri:
Apakah kita masih hidup, atau cuma menjalankan versi digital dari diri kita?
Generasi burnout bukan kisah tentang kelemahan, tapi tentang keberanian untuk tetap berjalan meski setiap hari rasanya ingin menyerah.
Mereka tak butuh nasihat “semangat lagi,” mereka butuh sistem yang memungkinkan mereka bernapas.
Karena di balik semua notifikasi, tenggat, dan kafein, ada generasi yang sebenarnya cuma ingin hal sederhana: tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.
Dan mungkin, kalau dunia ini sedikit lebih pelan, mereka akhirnya bisa benar-benar bangun, bukan untuk bekerja, tapi untuk hidup.
Kita semua capek. Bedanya, Gen Z cuma lebih jujur untuk bilang: iya, aku udah lelah.” @tabooo




